
Persebaya Denda Rp250 Juta, Bonek Kritik Keputusan Komdis PSSI
Persebaya Surabaya menerima denda sebesar Rp250 juta dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI akibat empat pelanggaran yang terjadi saat laga melawan Arema FC. Denda ini dijatuhkan setelah pertandingan berakhir dengan skor imbang 1-1 di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Sabtu (22/11/2025).
Dalam putusan Komdis PSSI, denda tersebut diakumulasikan dari empat pelanggaran yang dilakukan oleh suporter Persebaya. Berikut rincian pelanggaran dan denda yang diberikan:
- Pelanggaran pertama: Penyalaan petasan sebanyak 6 kali oleh suporter dari arah Tribun Utara. Denda sebesar Rp120 juta.
- Pelanggaran kedua: Pelemparan air minum kemasan, roti, dan paper roll dari Tribun VIP Barat serta Tribun Timur. Denda sebesar Rp30 juta.
- Pelanggaran ketiga: Gagalnya panitia pelaksana menjaga ketertiban dan keamanan, termasuk kerusuhan di beberapa tribun dan korban luka. Denda sebesar Rp40 juta.
- Pelanggaran keempat: Beberapa suporter Persebaya memasuki area pinggir lapangan setelah pertandingan berakhir. Denda sebesar Rp60 juta.
Tanggapan Bonek: Keputusan Komdis Dinilai Tidak Masuk Akal
Bonek, kelompok pendukung Persebaya yang sangat loyal, menyampaikan tanggapan keras terhadap keputusan Komdis PSSI. Salah satu anggota Bonek, Erik Wicaksono (dikenal sebagai Eyik), mengatakan bahwa poin keempat dalam putusan tersebut dinilai aneh dan tidak masuk akal.
"Secara pribadi saya kira itu mengada-ngada. Karena memang tindakan itu yang dilakukan oleh ofisial Persebaya dan temen-temen Bonek," ujar Eyik kepada Tribun Jatim Network, Rabu (10/12/2025).
Menurutnya, tindakan tim Persebaya menemui Bonek setelah pertandingan adalah bagian dari upaya meredam situasi agar kekecewaan tidak memuncak. Ia menilai, hal ini penting karena para suporter merasa kecewa karena Persebaya gagal menang dari Arema FC.
"Itu memang harus dilakukan, karena kalau tidak dilakukan akan menciptakan konflik lebih besar atau gesekan lebih besar karena memang rasa kecewa kami saat tidak menang lawan Arema," tambahnya.
Eyik juga menilai bahwa upaya klub untuk bertemu suporter pasca-pertandingan adalah bentuk penghargaan atas dukungan yang diberikan sepanjang pertandingan.
"Dan ya lucu saja kalau tindakan itu didenda. Dan memang sebenarnya gak kaget juga dengan keputusannya," katanya.
Ia juga menyebutkan bahwa sebelumnya, saat Persebaya bertanding melawan Persija, terjadi mediasi antar suporter yang berujung pada kondisi yang baik di stadion. Namun, PSSI justru memberikan denda.
"Seharusnya itu diapresiasi, tapi justru dikasih denda," ujarnya.
Kritik Terhadap PSSI: Masa Depan Sepak Bola Indonesia Semakin Gelap
Eyik menilai keputusan Komdis PSSI atas denda poin keempat pada Persebaya semakin memperparah gelapnya masa depan sepak bola Indonesia. Menurutnya, federasi yang sudah cacat ini tidak lagi bisa dipercaya.
"Apa yang diharapkan lagi dari sebuah federasi yang sudah cacat, saat hubungan dua suporter besar itu baik malah dikasih denda, hubungan suporter dengan klub kebanggaan itu juga didenda," tegasnya.
Ia berharap bahwa situasi ini menjadi sinyal positif bahwa sepak bola Indonesia menuju arah yang lebih baik. Namun, ia merasa pesimis.
"Ini sudah gelap sekali, harapan apapun untuk PSSI itu sudah gak bisa dipikir secara logika. Percuma berharap juga, mereka sudah bebal, gak bisa disindir dan gak bisa diomongi, parah sekali," ujarnya.
Harapan Bonek: Hanya Kepada Klub
Erik Wicaksono menegaskan bahwa suporter, khususnya Bonek, tidak lagi memiliki harapan besar terhadap PSSI. Ia menyampaikan bahwa federasi ini tidak lagi bisa diharapkan untuk memberikan solusi yang adil.
"Bahasanya ora urus," pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar