Realita Makanan Lokal di Tengah Medsos dan Kebiasaan Harian


Hari ini, apa yang sering kita makan? Sepiring nasi hangat yang pulen. Atau semangkuk sagu yang kenyal?

Jika harus menebak, hampir pasti jawabannya adalah nasi. Yang menjawab sagu mungkin hanya segelintir orang. Biasanya karena kebetulan, seperti sedang ada acara keluarga yang menyelipkan menu tradisional.

Kita semua sering mengaku bangga dengan kekayaan pangan lokal. Kita rajin memotret Kapurung, Sinonggi, atau Papeda. Mengunggahnya dengan caption heroik ala pejuang budaya. "Lestarikan Pangan Lokal!".

Tapi kalau ditanya, apakah kebiasaan makan kita sehari-hari sejalan dengan semangat yang kita pamerkan di media sosial? Jawabannya jarang sekali iya.

Kenyataannya memang kontradiktif. Hubungan kita dengan sagu sebenarnya sedang masuk fase yang cukup toksik. Sagu seolah mantan terindah. Kita memuji sejarahnya, kita memoles kenangannya, tapi enggan benar-benar kembali hidup bersamanya.

Penyebabnya sederhana. Kita nyaman dan terpikat dengan pasangan baru yang jauh lebih glamor. Praktis dan populer: Nasi Putih.

Romantisasi Semu dan Mentalitas Serep

Sagu dulu menjadi tulang punggung pangan leluhur. Sekarang berubah jadi tamu lewat. Sagu muncul seperti cameo. Lebih ke simbol budaya daripada kebutuhan pokok.

Kapan sih kita biasanya makan sagu? Biasanya di acara keluarga, arisan, atau perayaan adat. Di saat ini kita bisa sangat nasionalis. Seakan siap membela tradisi sampai titik darah terakhir.

Begitu hari Senin datang, rutinitas menggulung. Tangan kita otomatis memilih nasi uduk atau rice bowl kekinian. Tanpa sadar, kita menyimpan mentalitas ban serep. Nasi dianggap tanda kemapanan, bersih, dan gampang diolah dengan rice cooker.

Sagu dianggap ribet, lengket, butuh keterampilan tertentu. Seluruh cerita tentang menjaga pangan lokal terdengar kosong. Kita malah menempatkan sagu dalam kotak romantisasi palsu.

Kita ingin sagu tetap ada, tapi malas berurusan dengan kerepotan proses memasaknya.

Baru Dicari Saat Dompet Tipis atau Gula Darah Naik

Kesetiaan kita pada nasi ini sering membuat kita lupa diri. Kita baru mulai mendekati sagu dengan tulus, atau terpaksa, ketika dua situasi ekstrem terjadi.

Pertama, saat harga beras melonjak. Ketika dompet mulai protes keras karena inflasi. Barulah kita ingat ada tepung sagu yang selama ini terabaikan di dapur.

Dalam kondisi ekonomi yang seret, sagu mendadak naik status dari makanan kampung jadi penyelamat. Ini menunjukkan bahwa pangan lokal sering diperlakukan sebagai pilihan darurat, bukan pilihan utama.

Kedua, saat dokter memberi kabar kurang enak. Misalnya ketika kamu didiagnosis Diabetes atau Maag kronis. Begitu ada anjuran untuk mengurangi nasi karena kandungan gulanya tinggi, orang tiba tiba berubah jadi duta sagu. Mereka mulai menceritakan manfaat sagu yang gluten free dan lebih ramah lambung.

Pertanyaannya, kenapa baru sekarang? Kenapa harus menunggu tubuh memberi tanda bahaya dulu? Baru mau balik lagi pada pangan lokal.

Semua ini menunjukkan bahwa apresiasi kita masih reaktif. Sagu hanya diingat ketika kita kesulitan atau saat rasa bersalah mulai muncul.

Lalu Bagaimana Nasib Pangan Lokal Ke Depan?

Jika kita sungguh ingin pangan lokal tetap bertahan, yang perlu diubah adalah cara pandang kita sendiri. Sagu tidak butuh kasihan atau acara seminar seremonial. Yang dibutuhkan justru sederhana.

Sagu perlu kembali muncul di meja makan kita pada hari biasa. Tidak harus menunggu pesta adat atau momen nostalgia keluarga.

Sekarang, pertanyaannya balik lagi ke kita. Apakah kita siap menurunkan gengsi? Sedikit meluangkan waktu di dapur. Benar-benar mencoba menjalin hubungan lebih sehat dengan pangan lokal.

Atau kita memilih tetap nyaman dengan nasi, sambil sesekali mengingat sagu dari jauh.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan