Refleksi Awal Tahun 2026: Kuningan Pilih Doa dan Kepedulian Daripada Euforia

Refleksi Awal Tahun 2026: Kuningan Pilih Doa dan Kepedulian Daripada Euforia

Pergantian Tahun sebagai Momentum Refleksi Diri

Pergantian tahun tidak semestinya hanya dimaknai dengan pesta kembang api dan euforia sesaat. Lebih dari itu, momentum tahun baru seharusnya menjadi titik awal tumbuhnya semangat baru untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, serta meneguhkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

KH Feny Rachman, khatib Jumat Masjid Agung Syiarul Islam Kuningan, menyampaikan hal tersebut dalam khutbah Jumat, Jumat (2/1/2026). Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan seorang muslim terletak pada perubahan sikap dan perbuatannya dari hari ke hari. Orang muslim sejati adalah yang perilakunya hari ini lebih baik dari hari kemarin. Rasulullah Saw bersabda, barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia tergolong orang yang beruntung. Barang siapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia tergolong orang yang merugi. Dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang celaka.

Menurut KH Feny, hadis tersebut mengandung pesan penting tentang perlunya semangat pembaruan (spirit hijrah) dalam menjalani kehidupan, termasuk saat memasuki tahun baru. Seorang muslim, kata dia, dituntut untuk terus memperbaiki amalan dan tidak stagnan, apalagi mengalami kemunduran.

Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-‘Ashr ayat 1–3 yang menegaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Orang yang beruntung adalah mereka yang mampu meningkatkan amal kebaikannya dari waktu ke waktu. Karena itu, semangat meraih keberuntungan di tahun 2026 ini harus terus dikobarkan.

Mengajak Jamaah untuk Muhasabah Diri

KH Feny juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah atau introspeksi diri, sebagaimana pesan Rasulullah Saw dalam hadis yang menganjurkan umat Islam memanfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara lainnya, yakni masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, serta hidup sebelum kematian.

Sementara itu, Ketua DKM Masjid Agung Syiarul Islam Kuningan, HR Yayan Sofyan, mengungkapkan bahwa pada malam pergantian tahun 2026, pihaknya mengajak jamaah untuk memperbanyak doa dan istighfar di masjid. Di saat sebagian masyarakat merayakan pergantian tahun dengan kegaduhan, kami memilih berada di rumah Allah untuk memohon ampunan, keberkahan, serta perlindungan bagi Kabupaten Kuningan dan Republik Indonesia.

Donasi untuk Korban Bencana

Ia juga menyampaikan kepedulian masyarakat Kuningan terhadap saudara-saudara yang terdampak bencana, khususnya di wilayah Sumatera dan Aceh. Menurutnya, atas arahan Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar dan Wakil Bupati Hj. Tuti Andriani, telah terhimpun donasi sebesar Rp800 juta. Donasi tersebut disalurkan melalui Baznas RI, dengan ratusan personel Baznas yang hingga kini masih berada di lokasi bencana untuk membantu para korban.

Ajakan Bupati untuk Memperbanyak Doa dan Muhasabah

Sejalan dengan hal tersebut, Bupati Kuningan H. Dian Rachmat Yanuar mengajak seluruh masyarakat menyambut Tahun Baru 2026 dengan memperbanyak doa dan muhasabah, bukan euforia berlebihan. Menurutnya, pergantian tahun merupakan momentum refleksi untuk memperbaiki niat dan menata kembali langkah kehidupan ke arah yang lebih baik.

Pergantian tahun bukan sekadar pergeseran angka di kalender, melainkan pengingat bahwa usia kita semakin berkurang, sementara amanah kehidupan terus bertambah. Tahun 2025 merupakan tahun penuh ujian, baik secara fiskal, sosial, maupun bencana alam. Namun dari setiap ujian itu, selalu ada pelajaran berharga untuk menjadi pribadi dan masyarakat yang lebih kuat.

Kesimpulan

Dengan memperbanyak doa dan introspeksi diri, masyarakat diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi tantangan di tahun 2026. Momentum pergantian tahun menjadi ajang untuk memperbaiki diri dan membangun kualitas kehidupan yang lebih baik. Semangat hijrah dan kebersihan hati menjadi kunci utama dalam menjalani kehidupan yang bermakna.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan