Kondisi Daya Beli Masyarakat di Akhir Tahun 2025
Menjelang akhir tahun 2025, perekonomian nasional terus diperkuat melalui dorongan konsumsi atau daya beli masyarakat. Meski daya beli tampak meningkat, para ekonom menyoroti bahwa kondisi tersebut tidak merata. Hal ini disampaikan oleh Achmad Nur Hidayat, ekonom dan pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta.
Achmad menyebutkan dua hal yang perlu diperhatikan dalam mengamati daya beli masyarakat menjelang akhir tahun. Pertama, apakah daya beli benar-benar meningkat atau hanya tampak ramai karena diskon dan euforia liburan. Kedua, ketimpangan pengalaman belanja antara berbagai kelompok rumah tangga. Bagi sebagian keluarga, belanja akhir tahun terasa normal, tetapi bagi banyak keluarga menengah bawah, pilihan semakin sempit antara membayar kebutuhan pokok atau memenuhi kebutuhan sekolah dan kesehatan.
Daya beli bukan sekadar soal harga turun atau diskon besar, melainkan tentang kemampuan penghasilan untuk mengejar biaya hidup sehari-hari. Dalam pandangan Achmad, meskipun daya beli akhir tahun terlihat hidup, kondisinya tidak merata.
Dari sudut pandang ekonomi makro, indikator ekonomi seperti inflasi dan indeks keyakinan konsumen (IKK) masih terjaga. Inflasi nasional November 2025 mencapai 2,72 persen secara tahunan (yoy), masih dalam koridor target Bank Indonesia (BI). Sementara itu, IKK pada November 2025 berada pada level optimistis, yakni 124, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.
Survei penjualan eceran BI juga menunjukkan ekspektasi kinerja penjualan eceran yang meningkat pada November 2025. Hal ini tercermin dari indeks penjualan riil (IPR) sebesar 221,1 atau tumbuh 5,9 persen secara tahunan (yoy). Namun, jika dibandingkan dengan tahun lalu, ada nuansa penting. Pada November 2024, inflasi tercatat sebesar 1,55 persen (yoy), artinya tekanan harga lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Pengunjung berbelanja di salah satu supermarket di Jakarta. - (nurulamin.pro/Thoudy Badai)
Bagi rumah tangga yang sebagian besar belanjanya dialokasikan untuk makanan, transportasi, dan biaya pendidikan, kenaikan kecil sekalipun terasa seperti mengencangkan ikat pinggang satu lubang lagi. Achmad menyebutkan tiga penekan utama daya beli masyarakat:
- Tekanan biaya hidup: Kelompok pangan dan kebutuhan harian sering menjadi yang paling cepat terasa. Ketika harga pangan bergejolak, rumah tangga menengah bawah tidak memiliki ruang bantalan karena proporsi belanja pangannya besar.
- Nilai tukar dan biaya impor: Rupiah yang melemah sepanjang 2025 menambah risiko inflasi impor pada komoditas tertentu dan bahan baku, yang kemudian merembet ke harga barang jadi.
- Kualitas pertumbuhan pendapatan: Daya beli hanya dapat bertahan jika pendapatan riil naik, bukan sekadar nominal.
Di sisi penopang, konsumsi rumah tangga tetap menjadi jangkar ekonomi. Pada kuartal II 2025, konsumsi rumah tangga berkontribusi sekitar 54,25 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Ini menjelaskan mengapa pemerintah dan pelaku usaha begitu agresif mendorong belanja akhir tahun, karena mesin ekonomi Indonesia paling responsif ketika rumah tangga merasa aman dan berani membelanjakan uang.
Diskon dan subsidi pemerintah untuk mendorong konsumsi akhir tahun kerap diperlakukan seperti ‘vitamin’. Memang ada manfaatnya, tetapi tidak benar-benar esensial. Contohnya, gelaran Harbolnas 2025. Pemerintah menargetkan transaksi mencapai Rp 35 triliun dengan promosi diskon besar di platform dagang elektronik. Dari sisi psikologi pasar, gelaran tersebut efektif membangun suasana belanja dan mendorong transaksi.
Namun, kita perlu jujur: banyak diskon bekerja lebih sebagai pemindahan waktu belanja, bukan penambahan daya beli yang sejati. Orang yang memang sudah berniat membeli barang tahan lama akan menunggu momen diskon, lalu checkout di Desember.

Pedagang mengambil emas perhiasan yang dipilih pembeli di salah satu toko perhiasan emas di Cikini. - (nurulamin.pro/Prayogi)
Achmad menambahkan, ekonomi yang tampak ramai tidak otomatis menunjukkan dompet masyarakat lebih tebal. Diskon besar yang digalakkan pemerintah atau pelaku usaha menjelang akhir tahun bersifat sementara. Masalahnya, efektivitas subsidi sangat bergantung pada desainnya. Jika sasarannya meleset, subsidi justru berubah menjadi diskon bagi mereka yang tidak terlalu membutuhkan, sementara kelompok yang benar-benar rentan hanya menerima sisa.
Karena itu, ukuran keberhasilan program bukan sekadar ramainya transaksi, melainkan apakah konsumsi kelompok bawah naik tanpa mengorbankan kebutuhan esensial lain, serta apakah inflasi pangan tetap terkendali.
Lebih lanjut, Achmad berpandangan daya beli jangka menengah ditentukan oleh empat perbaikan yang lebih mendasar:
- Bantuan tunai dan bantuan pangan yang presisi: Bantuan tunai ibarat 'oli' paling cepat untuk mengurangi gesekan karena keluarga dapat menutup kebutuhan paling mendesak sesuai kondisi masing-masing.
- Stabilisasi harga pangan: Fokusnya bukan hanya operasi pasar sesaat, melainkan perbaikan rantai pasok, mulai dari gudang, transportasi dingin untuk komoditas tertentu, kepastian distribusi antardaerah, hingga mitigasi gangguan cuaca.
- Penciptaan lapangan kerja: Konsumsi tidak bisa terus disuntik, melainkan harus tumbuh dari rasa aman bekerja.
- Koordinasi fiskal dan moneter: Inflasi yang terjaga dalam target memberi ruang bernapas, tetapi pelemahan rupiah dan biaya kredit tetap perlu dikelola agar tidak menjadi beban baru bagi rumah tangga.
Menurutnya, keberhasilan kebijakan seharusnya diukur dari dapur rumah tangga, bukan dari keramaian pusat perbelanjaan. Akhir tahun kerap menghadirkan ilusi optik: mal penuh, paket belanja menumpuk di kurir, dan linimasa media sosial dipenuhi promosi. Namun, Achmad menegaskan, kebijakan publik tidak boleh terpukau oleh keramaian. Ukurannya harus kembali ke dapur rumah tangga: apakah lauk harian tetap terbeli, biaya sekolah tidak menunggak, dan masih ada sisa untuk tabungan darurat.
Diskon dan subsidi bisa membantu, tetapi hanya efektif jika menjadi jembatan menuju perbaikan yang lebih struktural: pangan stabil, pekerjaan tersedia, dan pendapatan riil naik. Tanpa itu, kita hanya merayakan konsumsi yang dipercepat, bukan daya beli yang menguat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar