Cerita Pilu Ayu Amanda Putri: Identitas Akademik yang Hilang
Ayu Amanda Putri, seorang perempuan yang sempat menjadi sorotan publik, mengalami pengalaman yang sangat mengejutkan dan menyentuh. Sebagai alumni Universitas Halu Oleo (UHO), ia mendapati namanya tidak lagi tercantum dalam sistem nasional pendidikan tinggi, sementara NIM-nya justru diberikan kepada orang lain. Peristiwa ini memicu banyak pertanyaan dan kekecewaan terhadap sistem pendidikan tinggi di Indonesia.
Jejak Akademik yang Pernah Ada
Ayu mulai menempuh pendidikan tinggi pada 5 Agustus 2017. Ia adalah mahasiswi Teknik Sipil dengan skripsi berjudul: “Evaluasi Kinerja Bangunan Pemecah Gelombang Sambung Pantai (Studi Kasus: Shore Connected Breakwater Marina Bypass, Kabupaten Wakatobi)” Selama empat tahun, Ayu menjalani proses akademik hingga akhirnya dinyatakan lulus. Namun, semua perjuangan itu mendadak terasa sia-sia ketika namanya tak lagi ditemukan di sistem nasional pendidikan tinggi.
NIM Tetap, Pemilik Berubah
Masalah bermula saat Ayu melakukan pengecekan di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI). Hasilnya mencengangkan. Namanya tidak lagi tercantum sebagai mahasiswa atau alumni. Lebih mengejutkan lagi, Nomor Induk Mahasiswa (NIM) E1A117006 yang selama ini melekat padanya masih tercatat, tetapi kini atas nama Basri, berjenis kelamin laki-laki.
Ayu membagikan tangkapan layar pencarian PDDIKTI tersebut ke media sosial. Unggahan itu segera memantik kemarahan publik. Ia menyampaikan rasa marahnya dengan mengatakan:
“Bisa ya, kalian ganti saya dengan jin yang wujudnya tidak pernah ada di kampus. Ganti namaku yang empat tahun berjuang untuk dapat ijazah. Unhalu, kalian dibayar berapa sih sama si Basri ini? Si siluman ini dia dari mana?”
Amarah yang Tak Terbendung
Tidak mampu menyembunyikan emosinya, Ayu melontarkan kritik pedas yang menyentil dugaan praktik jual beli ijazah. Ia berkata:
“Emang bisa kita beli ijazah? Saya baru tahu, tahu gitu saya nggak usah kuliah. Pantasan banyak gedung roboh karena ini, dia nggak pernah kuliah.”
Ungkapan tersebut bukan sekadar kemarahan pribadi, melainkan refleksi kekecewaan terhadap integritas sistem pendidikan tinggi.

Tiga Tahun Berlalu, Tak Ada Pemulihan
Fakta yang terungkap kemudian justru lebih menyakitkan. Menurut Ayu, perubahan data itu sudah terjadi sejak tiga tahun lalu, namun hingga kini tak kunjung diperbaiki. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan satu-satunya korban.
“Iya sudah tiga tahun lalu, saya baru cek lagi di PDDIKTI ternyata masih ada. Teman-temanku juga banyak kejadian seperti ini. Saya tidak terima, jadi tolong itikad baiknya untuk Universitas Halu Oleo khususnya direktorat birokrasi di pusdik-nya tolong itikad baiknya,” ujarnya.
Kemarahan Ayu mencapai titik puncak. Ia merasa identitas akademiknya dipermainkan.
“Sudah di titik muak banget jadi WNI. Namaku sebagai alumni mahasiswa teknik sipil dari Universitas Halu Oleo, Kendari diganti sama Basri. Itu NIM-ku, kenapa bisa diganti-ganti? Kita kuliah 4 tahun untuk dapat ijazah, giliran orang kasih kalian maukan beli-beli ijazah. Tahu gini saya beli ijazah saja,” ucapnya dengan nada getir.
Ijazah Dipertanyakan, Karier Terhambat
Dampak dari perubahan data tersebut nyata dan berkelanjutan. Ayu mengaku kerap kesulitan saat melamar pekerjaan.
“Tiap lamar kerja, perusahaan mempertanyakan keaslian ijazah saya. Ternyata, ini sebabnya. Ga terdaftar PDDIKTI dengan ijazah ku yang lumpuh itu,” ungkapnya.
Beruntung, ia masih memiliki Lisensi Keahlian yang membantunya bertahan. “Allah kasih jalan kembali untuk mengambil Lisensi Keahlian. Saya berhasil, saya kerja dengan Lisensi Keahlian yang saya punya dan bukan dengan ijazahku yang lumpuh itu. Terus ijazahku yang lumpuh itu gimana nasibnya? Keringat orang tuaku untuk mendapatkannya, sampai kapan itu akan terus lumpuh,” pungkasnya.
Respons Universitas Halu Oleo
Menanggapi polemik tersebut, Universitas Halu Oleo Kendari mencurigai adanya akses asing ke sistem PDDIKTI. Plt Rektor UHO Kendari, Herman, mengungkapkan adanya kejanggalan pada akun pengelola data.
“Seharusnya pengajuan data mahasiswa itu hanya satu akun milik UHO, tapi ternyata ada 4 akun semua, 3 akun itu kami tidak tahu sama sekali,” kata Herman kepada awak media, Selasa (30/12/2025).
Ia menyebut persoalan ini muncul sebelum masa kepemimpinannya. Namun pihak kampus mengaku telah berkoordinasi dengan PDDIKTI.
“Kami sudah sampaikan ini bukan cuma persoalan Ayu saja, tapi kita sudah mitigasi. Bisa saja akun-akun kita ini, server kita diretas,” tuturnya.
Menurut Herman, perubahan data terjadi pada 2022, mencakup nama, jenis kelamin, serta tempat dan tanggal lahir.
“Yang berubah nama, jenis kelamin, serta tempat dan tanggal lahir. Nama ibu dan data lain tetap,” katanya.
Ia menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak dilakukan melalui akun resmi UHO maupun PDDIKTI.
Status Ayu Ditegaskan Sah
Meski demikian, Herman memastikan bahwa status Ayu sebagai alumni tidak terbantahkan.
“Ayu Amanda Putri adalah benar-benar mahasiswa Teknik Sipil UHO dengan stambuk E1A117006, angkatan 2017 dan sudah diwisuda Januari 2022,” ujar Herman.
Ia menegaskan bahwa seluruh tahapan akademik Ayu telah diverifikasi.
“Kalau data mahasiswa tidak valid, PIN ijazah tidak akan keluar dan yang bersangkutan tidak mungkin ikut wisuda,” tutupnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar