
Proses Relokasi Warga di Pandanarum Masih Berjalan Lambat
Proses relokasi warga yang terdampak tanah longsor di Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara masih berjalan lambat. Meski bencana longsor telah menimbulkan dampak serius dengan ratusan jiwa terkena dampaknya, sebanyak 47 keluarga memilih jalur relokasi mandiri. Mereka mencari tempat tinggal sendiri tanpa menunggu hunian sementara (huntara) yang sedang dibangun oleh pemerintah.
Situasi ini menunjukkan kebutuhan mendesak warga akan tempat tinggal yang aman. Sementara itu, pembangunan huntara yang ditargetkan selesai pada akhir tahun belum sepenuhnya tercapai. Pemerintah Kabupaten Banjarnegara mengklaim sedang mempercepat pembangunan hunian sementara bagi warga terdampak tanah longsor di Desa Pandanarum. Langkah ini dilakukan untuk memastikan para penyintas segera memiliki tempat tinggal yang aman selama proses relokasi permanen berlangsung.
Kepala Pelaksana BPBD Banjarnegara, Aji Piluroso, menjelaskan bahwa percepatan pembangunan terus dilakukan agar dapat menampung warga yang masuk kategori wajib relokasi sesuai rekomendasi Badan Geologi. Hingga saat ini, progres pembangunan huntara yang di atas 50 persen hanya empat unit, sementara sekitar sepuluh unit lainnya masih di bawah 10 persen. Target mereka adalah 50 unit huntara selesai pada akhir tahun.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan huntara jauh lebih besar karena hasil kajian Badan Geologi menetapkan sebanyak 214 keluarga harus direlokasi dari zona rawan longsor Pandanarum. Meski demikian, pembangunan dilakukan bertahap sambil menyiapkan lahan tambahan untuk menampung seluruh warga terdampak.
Selain relokasi yang disiapkan pemerintah, sebagian warga memilih pindah secara mandiri. Dari data yang tercatat, sekitar 47 keluarga melakukan relokasi mandiri. Lokasi yang dipilih berjarak sekitar 500 meter dari titik bencana dan dinilai aman.
Lokasi huntara yang dibangun pemerintah berada di wilayah Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, berjarak sekitar 1,5 kilometer dari titik longsor. Pembangunan mempertimbangkan keselamatan geologi dan akses logistik.
BPBD mencatat total penyintas mencapai 586 jiwa atau 214 keluarga. Kebutuhan dasar warga tetap menjadi perhatian meski penataan pengungsian semakin membaik. Kebutuhan yang saat ini masih mendesak, antara lain peralatan dapur dan perlengkapan masak seperti penanak nasi listrik. Ini terus kami koordinasikan untuk pemenuhannya, kata Aji.
BPBD memastikan pemantauan akan terus dilakukan untuk menjamin proses relokasibaik yang difasilitasi pemerintah maupun mandiriberjalan sesuai rekomendasi teknis. Kami mengutamakan keselamatan warga. Progres pembangunan huntara kami percepat agar penyintas bisa segera menempati hunian yang layak dan aman, katanya.
Tanah longsor yang menimpa Desa Pandanarum pada Minggu (16/11) siang diduga terjadi akibat curah hujan sangat tinggi yang mengguyur wilayah perbukitan selama beberapa jam. Hingga akhir masa pencarian selama 10 hari pada Selasa (25/11), tercatat 17 korban ditemukan meninggal dunia dan 11 orang masih belum ditemukan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar