
CARACAS, nurulamin.pro
- Operasi militer Amerika Serikat (AS) untuk menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro pada Sabtu (3/1/2026) menyita perhatian dunia.
Ini merupakan puncak dari ketegangan AS dan Venezuela selama berbulan-bulan.
Namun, operasi militer ini berjalan berdasarkan hasil dari strategi panjang yang melibatkan mata-mata, drone, hingga pembuatan replika kediaman Maduro.
Lantas, bagaimana operasi militer AS bisa menangkap Maduro?
Tim kecil mengamati gerak Maduro
Selama berbulan-bulan, mata-mata AS telah memantau setiap gerak-gerik Maduro.
Sebuah tim kecil, termasuk seorang sumber di dalam pemerintahan Venezuela telah mengamati gerak-gerik Maduro, termasuk jadwal tidur, menu makanan, pakaian, bahkan hewan peliharaannya.
Pada awal Desember, sebuah misi yang direncanakan dengan nama "Operation Absolute Resolve" diselesaikan.
Ini adalah hasil dari perencanaan dan latihan yang cermat selama berbulan-bulan.
Termasuk di antaranya adalah pasukan elite AS yang membuat replika persis rumah persembunyian Maduro di Caracas untuk melatih rute masuk mereka.
Kongres tidak diberitahu
Rencana ini dirahasiakan dengan ketat. Kongres tidak diberitahu atau dikonsultasikan sebelumnya.
Dengan rincian yang telah ditetapkan, para pejabat militer tinggi hanya perlu menunggu kondisi optimal untuk meluncurkan serangan.
Para pejabat mengatakan, mereka ingin memaksimalkan "unsur kejutan".
Ada upaya awal yang gagal empat hari sebelumnya ketika Presiden Trump memberikan persetujuan, tetapi mereka memilih untuk menunggu cuaca yang lebih baik dan tutupan awan yang lebih sedikit.
"Selama beberapa minggu menjelang Natal dan Tahun Baru, para pria dan wanita di militer AS duduk bersiap, dengan sabar menunggu pemicu yang tepat terpenuhi dan presiden memerintahkan kami untuk bertindak," kata Kepala Staf Gabungan Militer AS, Dan Caine dalam konferensi pers pada Sabtu pagi.
Perintah dimulai pada Jumat malam
Perintah dari Trump untuk memulai misi akhirnya datang pada Jumat (2/1/2026) pukul 22.46 waktu setempat.
"Kami akan melakukan ini empat hari yang lalu, tiga hari yang lalu, dua hari yang lalu, dan kemudian tiba-tiba kesempatan itu terbuka. Kami berkata, lanjutkan," kata Trump beberapa jam setelah penggerebekan semalam.
"Dia (Trump) mengatakan kepada kami, dan kami menghargainya, semoga berhasil dan Tuhan memberkati," tutur Jenderal Caine.
Perintah Trump datang sesaat sebelum tengah malam di Caracas, memberi militer waktu sebagian besar malam untuk beroperasi dalam kegelapan.
Lebih dari 150 pesawat militer dikerahkan
Selanjutnya adalah misi selama dua jam dua puluh menit melalui udara, darat, dan laut yang mengejutkan banyak orang di Washington dan di seluruh dunia.
Dari segi skala dan ketelitian, ini hampir belum pernah terjadi sebelumnya. Operasi itu langsung menuai kecaman dari beberapa kekuatan regional.
Menurut pejabat AS, lebih dari 150 pesawat, termasuk pesawat pengebom, jet tempur, dan pesawat pengintai, akhirnya dikerahkan sepanjang malam.
"Itu sangat kompleks, sangat-sangat kompleks, seluruh manuver, pendaratan, jumlah pesawat," ujar Trump kepada Fox News.
Ledakan keras terdengar di Caracas sekitar pukul 02.00 waktu setempat, kepulan asap terlihat membubung di atas kota.
Beberapa serangan AS menargetkan sistem pertahanan udara dan target militer lainnya.
Trump juga menyarankan AS memutus aliran listrik di Caracas sebelum misi dimulai, meskipun dia tidak merinci caranya.
Misi 2 jam 20 menit
Saat dentuman senjata terdengar di sekitar Caracas, pasukan AS memasuki kota tersebut.
Mereka termasuk anggota Delta Force elite, unit misi khusus terbaik militer AS, dengan senjata lengkap dan membawa obor las jika perlu memotong pintu logam rumah persembunyian Maduro.
Menurut Jenderal Caine, pasukan tiba di lokasi Maduro tak lama setelah serangan dimulai pukul 02.01 waktu setempat.
Trump menggambarkan rumah persembunyian itu sebagai benteng militer yang sangat kokoh di jantung Caracas.
"Mereka berada dalam posisi siap menunggu kami. Mereka tahu kami akan datang," kata Trump.
Pasukan tersebut dihujani tembakan saat tiba. Salah satu helikopter AS terkena tembakan tetapi masih mampu terbang.
"Mereka baru saja menerobos masuk dan menerobos masuk ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak mungkin dibobol, Anda tahu, pintu baja yang dipasang di sana hanya untuk alasan ini," kata Trump.
Baru setelah Maduro dan istrinya ditangkap, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mulai memberi tahu para anggota parlemen tentang tindakan tersebut, sebuah keputusan yang sejak itu memicu kemarahan dari sebagian anggota Kongres.
Menurut Rubio, memberi pengarahan kepada Kongres sebelumnya akan membahayakan misi tersebut.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar