
Hukum Gerak dan Sistem Pajak: Analogi Fisika dalam Kebijakan
Fisika, pada dasarnya, adalah ilmu tentang gerak dan gaya. Dalam konteks pajak, ia bisa dilihat sebagai gaya yang menggerakkan uang dari saku pribadi ke kas negara. Seperti setiap gaya dalam fisika, pajak memiliki arah, besaran, danyang paling pentingreaksi. Analogi ini bisa membantu memahami bagaimana kebijakan pajak yang diambil oleh seorang tokoh tertentu dapat memicu perubahan besar dalam sistem yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Hukum Pertama: Inersia Sistem Lama
Isaac Newton menyatakan bahwa benda diam cenderung tetap diam, sedangkan benda bergerak cenderung terus bergerak. Dalam bahasa fisika disebut inersia. Dalam konteks perpajakan, ini merujuk pada resistensi terhadap perubahan. Selama puluhan tahun, sistem pajak kita bergerak dengan kecepatan tertentu. Ada ritme yang nyaman, ada celah yang akrab, dan ada "business as usual" yang menenangkansetidaknya bagi mereka yang tahu bagaimana memanfaatkannya.
Kemudian datang kebijakan baru yang mencoba mengubah kecepatan sistem. Ini seperti menerapkan gaya pada massa yang besar. Semakin besar massa (dalam hal ini, 70% APBN), semakin besar gaya yang dibutuhkan untuk mengubah arahnya. Perubahan ini tidak hanya sekadar resistensi psikologis, tapi juga hukum alam. Setiap perubahan kecepatan memerlukan gaya, dan sistem yang lama akan menolak perubahan tersebut.
Gesekan: Kenapa Sistem Harus Panas
Dalam fisika, gesekan menghasilkan panas. Dua permukaan yang bersinggungan, bergerak berlawanan arah, menciptakan energi termal. Kebijakan pajak yang lebih tegas kini bersinggungan dengan sistem lama. Tentu saja muncul panas. Topik menjadi "hangat dibicarakan." Ini bukan anomali, melainkan konsekuensi alami.
Penegakan kebijakan pajak yang lebih tegas adalah permukaan kasar yang digosokkan pada permukaan yang selama ini licin. Integrasi data adalah upaya mempersempit ruang kosong tempat uang "menguap" tanpa jejak. Digitalisasi adalah percepatan yang membuat gesekan semakin intens. Dalam rekayasa, gesekan juga yang membuat rem berfungsi. Tanpa gesekan, mobil tak akan pernah berhenti. Tanpa "panas" perdebatan ini, kebocoran pajak takkan pernah tertutup.
Tekanan dan Volume: Paradoks Boyle dalam Kas Negara
Robert Boyle menemukan bahwa pada suhu tetap, tekanan dan volume gas berbanding terbalik. Tekan gas, volumenya menyusut. Longgarkan tekanan, ia mengembang. Kebijakan pajak yang lebih tegas meningkatkan tekanan: laporan lebih terstruktur, audit lebih cepat, pengawasan lebih ketat. Logikanya sederhana: perkecil ruang manipulasi, maksimalkan penerimaan.
Tapi apakah berlaku hukum Boyle di sini? Mungkin. Mungkin tidak. Karena wajib pajak bukan gas ideal. Mereka bisa "menguap" ke ekonomi informal. Mereka bisa memindahkan aset keluar sistem. Tekanan berlebih tak selalu menghasilkan volume penerimaan yang lebih besaria bisa justru membuat sistem bocor di tempat lain.
Termodinamika: Entropi yang Tak Terhindarkan
Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa entropi selalu meningkat. Keteraturan cenderung menuju kekacauan. Energi berguna selalu terdegradasi. Sistem pajak lama telah mengalami entropi. Data tercecer, potensi pajak "menguap" tanpa tercatat. Manipulasi laporan keuangan adalah bentuk energi yang terbuang sia-siaproduktif bagi individu, destruktif bagi sistem.
Purbaya mencoba melawan entropi dengan transparansi dan digitalisasi. Ia ingin menciptakan "sistem tertutup" tempat setiap transaksi tercatat, setiap aliran uang terlacak. Secara teoretis, ini mengurangi entropi informasi. Tapi ada yang sering dilupakan: mengurangi entropi memerlukan energi. Sistem yang lebih teratur membutuhkan input yang lebih besarbirokrasi yang lebih kompeten, teknologi yang lebih canggih, pengawasan yang lebih intensif.
Ekuilibrium: Mencari Titik Setimbang
Setiap sistem fisika mencari kesetimbangan. Air mengalir dari tempat tinggi ke rendah. Panas berpindah dari benda panas ke dingin. Tekanan menyebar merata. Sistem pajak pun mencari ekuilibriumantara penerimaan negara dan daya tahan ekonomi. Antara keadilan dan efisiensi. Antara kontrol dan kebebasan.
Kebijakan pajak adalah upaya mencari titik setimbang yang baru. Lebih dari 70% APBN berasal dari pajakini adalah gravitasi yang menarik seluruh ekonomi ke pusatnya. Terlalu kuat, ekonomi kolaps. Terlalu lemah, negara tak berfungsi. Fisikawan tahu: sistem yang stabil adalah sistem yang dapat meredam gangguan kecil tanpa runtuh. Sistem pajak yang baik harus sama: cukup kuat untuk mengumpulkan, cukup fleksibel untuk tidak mematikan.
Resonansi: Ketika Frekuensi Bertemu
Ada fenomena dalam fisika bernama resonansi. Ketika frekuensi gaya eksternal sama dengan frekuensi alami sistem, amplitudonya membesar drastis. Jembatan bisa runtuh karena angin dengan frekuensi tepat. Kebijakan pajak juga bisa mengalami resonansi. Ketika frekuensi perubahan bertemu dengan frekuensi alami resistensi masyarakatdi sinilah topik menjadi "panas." Di sinilah amplitudo perdebatan membesar.
Purbaya menciptakan resonansi. Transparansi, digitalisasi, penegakan hukumsemuanya bergetar pada frekuensi yang membuat sistem bereaksi keras. Pro dan kontra bukan kebisingan acak. Ia adalah gelombang yang saling menguatkan. Yang bijak tahu: resonansi bisa menghancurkan, tapi juga bisa dimanfaatkan. Oven microwave memasak dengan resonansi. MRI mendiagnosis dengan resonansi.
Pertanyaannya: akankah resonansi ini membangun sistem yang lebih baik, atau meruntuhkan yang sudah ada?
Di ujung renungan ini, kita kembali pada pertanyaan awal: mengapa fisika penting untuk memahami pajak? Karena pajak, seperti alam semesta, tunduk pada hukum-hukum tertentu. Ia tidak bisa dipahami hanya dengan angka dan regulasi. Ia harus dipahami sebagai sistemdengan gaya, gesekan, tekanan, dan ekuilibrium. Purbaya Yudhi Sadewa sedang melakukan eksperimen besar. Ia mengubah parameter sistem yang telah berjalan puluhan tahun. Dan seperti setiap eksperimen fisika, hasilnya bergantung pada seberapa baik kita memahami hukum-hukum yang berlaku.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar