
Perburukan Lahan Kritis di Bukit Tigapuluh
Laju deforestasi di kawasan Bukit Tigapuluh semakin mengkhawatirkan. Penyusutan hutan yang terjadi di area ini menjadi peringatan keras bagi tiga satwa penting yang hidup di sana, yaitu Orangutan Sumatera, Harimau Sumatera, dan Gajah Sumatera—semuanya dalam status mendekati kepunahan. Menurut data dari World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia, tutupan hutan di kawasan ini yang berada di perbatasan Kabupaten Tebo, Jambi, dan Riau hanya tersisa sekitar 40 persen.
Banyak faktor menyebabkan penurunan kualitas lingkungan di kawasan ini. Praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, aktivitas tambang batu bara dan emas, kebakaran hutan, serta meningkatnya interaksi negatif antara manusia dan satwa liar, khususnya gajah, semakin menggerus kondisi alam. Di tengah situasi ini, WWF memilih pendekatan yang melibatkan masyarakat sebagai garda depan dalam upaya pelestarian lingkungan.
Program Restorasi Berbasis Masyarakat
Melalui Program Restorasi Berbasis Masyarakat di Landscape Bukit Tiga Puluh, WWF mengajak berbagai pihak, mulai dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), hingga masyarakat setempat, untuk bekerja sama merestorasi hutan sekaligus meningkatkan ekonomi warga.
Project Executant Landscape Bukit Tigapuluh WWF Indonesia, Nazli Herimsyah, menjelaskan bahwa tujuan utama program ini adalah memulihkan lahan kritis dengan melibatkan masyarakat. "Kita sudah mulai dengan pembibitan yang dilakukan masyarakat. Kemudian akan dilakukan penanaman," ujarnya pada Selasa (30/12/2025).
Pendekatan berbasis masyarakat dipilih agar pelestarian lingkungan bisa berjalan bersamaan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Program ini memiliki dua fokus utama, yaitu:
- Memulihkan lahan kritis—kebun dan lahan milik warga—melalui penanaman kembali.
- Mengurangi konflik manusia dan gajah dengan menanam tanaman buah yang tidak disukai gajah sebagai penghalang alami.
Tanaman yang ditanam antara lain durian musangking, kelengkeng pingpong, dan alpukat mentega. Tanaman ini memiliki nilai ekonomi dan fungsi ekologis yang baik.
Peluncuran Program dan Target Penanaman
Kegiatan peluncuran program ini dibuka langsung oleh Sekretaris Bappeda Kabupaten Tebo, Septiansyah. Ke depan, WWF menargetkan penanaman 30 ribu bibit di lahan seluas sekitar 300 hektare yang dikelola bersama masyarakat.
Selain tanaman penghalang alami, berbagai pohon buah dan tanaman bernilai ekonomi turut ditanam, seperti jengkol, petai, mengkudu, kopi, kemiri, mangga, hingga rambutan. Harapan besar di balik program ini adalah hutan yang pulih dapat kembali menjadi penopang kehidupan, bukan hanya bagi satwa, tetapi juga bagi warga sekitarnya.
Perspektif Petani dan Konservasi
Bagi Sunardi (52), seorang petani yang terlibat dalam program ini, kolaborasi menjadi kunci. Ia menatap restorasi bukan semata sebagai upaya menyelamatkan hutan, tetapi juga sebagai jalan memperbaiki penghidupan. “Kami optimis, asal kami terus didampingi WWF,” katanya.
Dari sisi konservasi, Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Jambi, Martialis Puspito, menyebutkan saat ini terdapat sekitar 90 hingga 120 ekor gajah di kawasan Bukit Tigapuluh. Ia berharap program restorasi berbasis masyarakat ini mampu memperbaiki habitat satwa sekaligus menurunkan konflik dengan manusia.
“Ini kegiatan yang baik, artinya selain dapat memperbaiki perekonomian masyarakat juga memulihkan kawasan karena itu kawasan Gajah Sumatera,” ujarnya.
Pria yang akrab disapa Ito itu juga menyadari bahwa upaya pendekatan atau berbasis masyarakat ini juga sebagai mitigasi jika ditemukan kejadian interaksi negatif gajah dan manusia.
"Kalau interaksi negatif memang yang perlu kita lakukan adalah upaya-upaya mitigasi, terus upaya bagaimana kami BKSDA mengupayakan informasi terkait pergerakan interaksi negatif gajah," pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar