Retak, Luruh, Kembali Utuh: Perjalanan Prilly Latuconsina Menemukan Diri

Buku Terbaru Prilly Latuconsina: Retak, Luruh, Kembali Utuh

Prilly Latuconsina kembali menunjukkan bakatnya sebagai penulis dengan menerbitkan buku berjudul Retak, Luruh, Kembali Utuh. Buku ini menjadi curahan hatinya yang menggambarkan pengalaman pribadi tentang burnout hingga akhirnya bangkit dan menemukan jati diri. Selain itu, buku ini juga menjadi cerita perjalanan hidup Prilly yang akhirnya menemukan seseorang yang menjadi sandarannya.

Dalam wawancara eksklusif, Prilly mengungkapkan bahwa ia menulis dan merancang visual buku tersebut secara mandiri. Proses pembuatannya memakan waktu sekitar 3 tahun karena ia sempat mengalami writer’s block. Berikut fakta-fakta seru tentang buku terbaru Prilly Latuconsina:

Sangat Personal tentang Cerita Dirinya dan Orang di Sekitarnya


Buku ini terbagi menjadi tiga fase yang sangat personal bagi Prilly. Fase pertama adalah "retak" di mana ia merasa tidak ada orang yang mengerti dirinya. Ia menyebutkan bahwa ketiga fase ini sangat dekat dengan hidupnya. Inspirasi dari kisah-kisah teman-temannya juga turut memengaruhi isi bukunya.

Ceritakan Pernah Merasa Burnout dan Tak Cukup


Menjadi artis tidak selalu mudah. Prilly mengaku pernah merasa lelah dan burnout, serta merasa tidak cukup untuk orang-orang terdekatnya. Ia mencurahkan perasaannya dalam bab "retak", di mana ia mengalami toxic friendship dan toxic relationship.

Ia menulis puisi berdasarkan pengalaman nyata, salah satunya tentang seorang yang pernah menyebutnya "kain pel yang lusuh" karena energinya habis setelah bekerja. Ia merasa bahwa sebagai public figure, ia dilihat sebagai orang yang tidak boleh merasa capek atau ngeluh.

Mulai Menyadarkan Diri di Fase Luruh


Fase kedua, yaitu "luruh", merupakan fase sulit bagi Prilly. Ia harus menyadarkan diri bahwa ia tidak bisa terus-menerus berada di fase retak. Ia mencoba banyak hal baru dan bepergian yang membuatnya menemukan kembali dirinya.

Ia belajar bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh tempatnya, tetapi oleh bagaimana ia melihat dirinya sendiri. Di fase ini, ia mencoba meluruhkan kesedihan dan meninggalkan tempat-tempat yang tidak baik baginya.

Menemukan Makna Baru di Kembali Utuh


Fase ketiga, "kembali utuh", terjadi saat Prilly melakukan traveling. Banyak hal baru yang ia lihat dan interaksi dengan orang baru membuatnya menemukan makna baru untuk dirinya sendiri.

Buku The Myth of Sisyphus dari Albert Camus menjadi inspirasi baginya. Ia belajar bahwa penderitaan dan perjuangan bisa menjadi dorongan untuk terus bergerak. Di fase ini, ia menerima semua proses yang tidak enak dan terus bergerak meskipun tidak menemukan jawaban absolut.

Puisi untuk Omara Esteghlal


Omara Esteghlal memiliki peran penting dalam buku ini. Ia memberikan buku The Myth of Sisyphus yang membantu Prilly menemukan makna hidupnya. Bahkan banyak puisi di dalamnya ditulis untuk sang kekasih.

Prilly mengungkapkan bahwa Omara menjadi pundaknya, memberinya kekuatan untuk bangkit. Di fase kembali utuh, ia menulis banyak puisi untuk Omara, termasuk surat-surat asli yang ia kirimkan ke dia.

Karya Tulis Terakhir di Usia 20-an


Retak, Luruh, Kembali Utuh menjadi karya tulis yang berharga bagi Prilly. Proses pembuatannya memakan waktu sekitar 3 tahun. Ia menyebut buku ini sebagai akhir dari fase usia 20-an dan awal dari fase berikutnya.

Puisi sebagai Ungkapan Hati


Prilly memilih bentuk puisi untuk mencurahkan isi hatinya. Dari pengalaman hidup, perkataan orang di sekitar, hingga komentar netizen, semuanya tertulis dengan metafora indah yang bisa dimaknai oleh para pembaca.

Ia mengaku lebih terbiasa menyembunyikan perasaannya karena merasa tak percaya, takut dihakimi, hingga mendapat respons yang membandingkan kehidupan dengan materi. Untuk itulah, ia menulis puisi sebagai cara untuk menuangkan perasaannya, tapi juga menyembunyikannya.

Sampaikan Pesan dari Buku


Melalui bukunya, Prilly ingin menyampaikan kepada para pembacanya bahwa hidup tidak harus selalu dihadapi dengan berlari. Terkadang, banyak hal atau kesempatan berharga yang terlewat karena kamu terus berlari, mengejar sesuatu yang akhirnya pun tak bisa membuatmu bahagia atau cukup.

Ia ingin menyampaikan bahwa di saat mereka merasa dunia itu hancur, retak atau kehilangan identitas sendiri, mereka tidak sendiri. Ia pernah ada di fase itu dan bukan berarti itu adalah akhir dari segalanya. Justru, fase retak menjadi awal untuk menjadi sosok yang lebih kuat.

Kutipan Favorit Prilly


Dari 40 puisi yang ada di bukunya, ada satu kutipan favorit Prilly yang ia bocorkan secara khusus. Puisi tersebut berisi dua halaman tepatnya dimulai dari halaman 179.

Orang-orang berkata, aku adalah sosok yang diinginkan banyak hati. Jiwa dengan tangan emas yang menyulap harapan menjadi nyata. Yang setiap langkahnya membuat dunia seakan berbunga. Namun di tengah pujian yang riuh, aku berdiri diam. Menatap sunyi bayanganku sendiri, berbisik “Apa sebenarnya yang aku inginkan?”

Tahun-tahun berlalu, aku hidup bukan sebagai pemilik mimpi, tapi sebagai wadah mimpi-mimpi orang lain. “Kamu bisa melakukan segalanya”, kata mereka. Tapi, pernahkah aku menginginkan semua itu? Haruskah aku merasa beruntung, diberkati oleh takdir yang tampak murah hati? Atau sebenarnya aku hanya tersesat, terseret dalam arus harapan orang lain. Aku yang selalu berusaha terlihat pasti, padahal rapuh dalam sunyi.

Dan saat aku hendak menyerah, kau datang. Seperti fajar, seperti malam. Seperti fajar setelah malam panjang tanpa bintang. Kehadiranmu tak mengubah dunia, tapi mengubah caraku melihatnya. Untuk pertama kalinya, pertanyaan itu tak lagi menggema hampa. Tak lagi menyayatku dalam diam. Karena dalam dirimu, aku tak hanya menemukan cinta, aku menemukan diriku. Dan jawaban yang selama ini ku cari, ternyata selalu menunggu di matamu.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan