
Menutup tahun 2025, industri perfilman Indonesia kembali menyuguhkan tontonan horor yang menjanjikan mimpi buruk bagi para pencinta alam. Dusun Mayit, film besutan sutradara Rizal Mantovani di bawah bendera Hitmaker Studios, resmi tayang di seluruh jaringan bioskop (XXI, CGV, Cinepolis) sejak malam pergantian tahun.
Diadaptasi dari utas (thread) viral karya JeroPoint di media sosial X, film ini mencoba menawarkan ramuan yang sedikit berbeda. Perpaduan antara mitos lokal Jawa yang kental, horor psikologis, dan elemen survival yang mencekam. Namun, apakah eksekusinya semenarik premisnya?
Bercerita tentang empat mahasiswa. Aryo (Fahad Haydra), Raka (Randy Martin), Yuni (Amanda Manopo), dan Nita (Ersya Aurelia) yang memutuskan untuk mendaki Gunung Welirang. Tujuannya sederhana, yaitu melepas penat pasca-ujian semester. Hanya bermodal semangat tinggi saja. Pengalaman mereka minim dalam mendaki. Terutama Nita dan Yuni yang merupakan pendaki pemula.
Awalnya perjalanan terasa ringan penuh canda tawa. Namun, hukum alam berlaku di gunung. Sopan santun adalah nyawa.
Petaka bermula saat Nita menemukan sesajen di jalur yang salah, lalu terjatuh ke sebuah telaga misterius. Sejak saat itu, Nita bukan lagi Nita yang mereka kenal. Sikapnya berubah, seolah ada makhluk lain yang menumpang di jiwanya.
Keluar jalur dan kehilangan arah, rombongan ini justru dituntun menuju sebuah pasar di kaki gunung. Tanpa sadar, mereka telah melangkah masuk ke Dusun Mayit. Sebuah desa gaib tanpa jalan pulang, tempat di mana kuburan tak bernama bertebaran dan warganya haus akan tumbal jiwa manusia.
Salah satu kekuatan utama film Dusun Mayit adalah atmosfernya. Rizal Mantovani, yang sebelumnya sukses menakuti kita lewat Sumala dan Kereta Berdarah, tahu betul cara membangun suasana.
Pengambilan gambar di lokasi asli Malang, Jawa Timur, memberikan nuansa dingin yang autentik. Secara visual, film ini memanjakan mata. Sinematografinya patut diacungi jempol. Penonton seolah dipaksa ikut merasa terjebak dan sesak bersama para karakter.
Latar musik yang mendukung pun terbilang cerdas. Alih-alih membombardir penonton dengan jump scare murahan setiap lima menit, film ini mengandalkan suara desiran angin gunung, gesekan ranting, dan alunan gamelan. Berhasil menciptakan ketegangan yang merayap perlahan di punggung.
Film ini juga menyisipkan kritik sosial yang relevan. Ia menyoroti arogansi anak muda yang kerap meremehkan mitos dan tradisi lokal, menganggapnya takhayul belaka, hingga akhirnya alam memaksa mereka untuk percaya dengan caranya sendiri.
Sayangnya, meski unggul di visual dan atmosfer, film Dusun Mayit tersandung di penggarapan cerita.
Pertama, alur di paruh pertama terasa lambat. Niat membangun karakter justru membuat penonton tidak sabar menunggu kapan hantunya muncul.
Kedua, kedalaman emosional yang terasa dangkal. Film ini mencoba menggali sisi psikologis bahwa setiap karakter mendaki gunung membawa beban batin masing-masing. Sebelumnya sudah pernah ada film horor dengan tema yang mirip. Bahkan dibalut pula dengan tambahan komedi, yaitu film Sekawan Limo.
Eksekusinya kurang menyentuh. Penonton sulit merasa terikat atau berempati pada karakter-karakternya, sehingga saat mereka diteror, rasanya hanya sekadar melihat orang berlarian di layar saja.
Bagi penggemar horor berat, plot twist-nya cukup mudah ditebak. Ditambah lagi dengan ending yang ambigu. Mungkin disiapkan untuk sekuel berikutnya.
So, film Dusun Mayit adalah tontonan yang solid jika mencari pengalaman visual dan atmosfer gunung yang dingin. Jajaran pemainnya pun bukan kaleng-kaleng, seperti Amanda Manopo, Fahad Haydra, Randy Martin, dan Ersya Aurelia.
Namun, jika mengharapkan kedalaman cerita yang menguras emosi atau teror yang membuat tidak bisa tidur, film ini mungkin terasa akan teraa datar bagi sebagain orang.
Pada akhirnya, pesan moralnya tetap sampai dengan jelas. Di mana pun bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Hormati alam dan tradisi, atau bersiaplah menjadi penghuni tetap dusun tak kasat mata.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar