
Aksi Protes dan Mogok Kerja di Iran yang Menyebar ke Berbagai Kota
Aksi protes dan mogok kerja yang dilakukan oleh masyarakat Iran akibat inflasi dan devaluasi mata uang telah menyebar dari Ibu Kota Teheran ke beberapa kota lainnya. Protes tersebut dimulai sejak Minggu (28/12/2025) ketika Rial Iran mencapai titik terendah sepanjang sejarah negara tersebut saat dibandingkan dengan dollar AS.
Protes dimulai pada hari Minggu setelah para pemilik toko di Grand Bazaar Teheran melakukan pemogokan ketika rial Iran mencapai titik terendah sepanjang sejarah terhadap dollar AS. Aksi ini kemudian menyebar ke berbagai kota seperti Karaj, Hamedan, Qeshm, Malard, Isfahan, Kermanshah, Shiraz, dan Yazd. Kepolisian Iran menggunakan gas air mata dalam upaya pembubaran demonstran tersebut.
Respons Pemerintah Iran
Pemerintah Iran merespons demonstrasi tersebut dan mengaku akan mendengarkan keluhan masyarakat. "Kami mengakui protes tersebut dan akan mendengarkan dengan sabar, bahkan jika dihadapkan dengan suara-suara keras," ujar para pejabat pemerintah.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, dalam akun media sosial X (dulunya Twitter), menyatakan bahwa ia telah menginstruksikan Menteri Dalam Negeri untuk mengadakan pembicaraan dengan perwakilan para demonstran. Ia menilai tindakan tersebut penting untuk diambil guna menyelesaikan masalah dan bertindak secara bertanggung jawab.
Selain itu, Pezeshkian juga menerima pengunduran diri dari Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammadreza Farzin. Ia kemudian menunjuk Mantan Menteri Ekonomi dan Keuangan Abdolnasser Hemmati untuk menggantikannya.
Partisipasi Mahasiswa dalam Demonstrasi
Tidak hanya para pekerja, mahasiswa dari berbagai universitas juga ikut bergabung dalam aksi tersebut. Mereka dengan berani meneriakkan slogan-slogan anti-pemerintah, termasuk diantaranya bertuliskan "Matilah diktator" yang merujuk pada Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei, yang memegang kekuasaan tertinggi di Iran.
Beberapa demonstran juga terdengar meneriakkan slogan-slogan dukungan untuk putra dari mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979.
Dukungan Reza Pahlavi dan Pemerintah AS
Sebagai tanggapan, tokoh oposisi Reza Pahlavi, yang kini tinggal di pengasingan di Amerika Serikat, menulis pendapatnya melalui media sosial X. "Saya bersama kalian. Kemenangan adalah milik kita karena perjuangan kita adil dan karena kita bersatu. Selama rezim ini tetap berkuasa, situasi ekonomi negara akan terus memburuk," jelas Pahlavi.
Akun berbahasa Persia milik Departemen Luar Negeri AS di X juga menyatakan dukungan untuk protes tersebut. Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa AS memuji keberanian dan mendukung mereka yang mencari martabat dan masa depan yang lebih baik setelah bertahun-tahun kebijakan yang gagal dan salah urus ekonomi.
Hubungan dengan AS dan Israel
Iran dilaporkan menjadi agenda utama pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Florida pada Senin (29/12/2025). Pada konferensi pers bersama setelahnya, Trump menolak untuk mengatakan apakah dia mendukung perubahan rezim di Iran.
"Mereka memiliki banyak masalah, inflasi yang luar biasa, ekonomi mereka hancur, ekonomi mereka tidak baik, dan saya tahu orang-orang tidak begitu senang," kata Trump. Trump juga mengatakan bahwa ia mungkin akan mendukung serangan udara Israel berikutnya terhadap Iran jika negara itu membangun kembali program rudal balistik atau nuklirnya.
Selama perang 12 hari antara Israel dan Iran pada bulan Juni, AS melakukan serangan udara terhadap situs-situs pengayaan uranium utama Iran. Iran bersikeras bahwa program nuklirnya sepenuhnya damai.
Pernyataan Presiden Pezeshkian
Presiden Pezeshkian bersumpah bahwa tanggapan Iran terhadap setiap tindakan agresi yang menindas akan keras dan menimbulkan penyesalan. Pemimpin tertinggi Iran telah berulang kali mengatakan bahwa pemerintah Israel berharap protes massal akan meletus selama perang dan menggulingkan rezim di negara tersebut.
"Mereka ingin menciptakan hasutan di jalanan. Tetapi orang-orang sama sekali tidak terpengaruh oleh apa yang diinginkan musuh," kata Khamenei pada bulan September.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar