Ribuan Pakaian Olahraga Masuk Patimban via 'Jalur Hantu', Lanal Cirebon Ungkap Modus Baru

Ribuan Pakaian Olahraga Masuk Patimban via 'Jalur Hantu', Lanal Cirebon Ungkap Modus Baru

Penyelundupan Pakaian Sport Premium yang Terungkap

Pengungkapan penyelundupan pakaian sport premium terbaru telah menggemparkan dunia bisnis dan pemerintah. Operasi senyap yang dilakukan oleh Lanal Cirebon berhasil menangkap sebuah truk Fuso yang membawa ribuan barang mewah tanpa dokumen resmi. Jalur penyelundupan ini melibatkan beberapa wilayah, termasuk Malaysia, Sungai Ayak 1 (Kalbar), Pontianak, dan Patimban.

Modus Penyelundupan yang Nekat

Modus yang digunakan dalam penyelundupan ini sangat nekat. Para pelaku memalsukan identitas muatan dengan mengklaim bahwa truk tersebut adalah truk barang pindahan. Menurut Komandan Lanal Cirebon, Letkol Laut (P) Faisal Yanova Tanjung, truk tersebut dianggap sebagai alat transportasi dari Pontianak menuju Patimban untuk selanjutnya dibawa ke Tangerang.

Namun, kecurigaan intelijen TNI AL akhirnya terbukti. Awalnya, petugas KSOP tidak menyangka bahwa barang yang dibawa oleh truk tersebut ilegal. Setelah dicek lebih lanjut berdasarkan informasi intelijen, ternyata barang yang dibawa bukanlah barang bekas, melainkan barang baru yang tidak melalui proses kepabeanan sesuai aturan.

Dampak pada Industri Dalam Negeri

Penyelundupan ini memiliki dampak besar terhadap industri dalam negeri. Faisal menyampaikan bahwa hal ini merugikan pangsa pasar Indonesia. Ia berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali karena pasar seharusnya berasal dari produksi dalam negeri, bukan barang dari luar negeri yang masuk tanpa izin.

Truk Fuso bernomor polisi F 8810 HL menjadi titik awal pengungkapan. Saat dibuka, mulai tampak tumpukan pakaian sport yang masih terbungkus plastik, bersih, rapi, dan berlabel premium. Jenis-jenis pakaian yang ditemukan antara lain celana panjang spacewalk, jogger red-room, jaket olahraga anti-UV, dan hijab sport wanita.

Setelah dihitung, jumlahnya mencapai 41.280 potong, dengan estimasi nilai pasar Rp 6,1 miliar. Negara pun berpotensi rugi Rp 1,8 miliar karena barang masuk tanpa bea.

Keterlibatan Pelaku dan Jalur Penyelundupan

KS, sang sopir, mengaku hanya diminta mengantar barang dari seseorang di Pontianak ke Kosambi, Tangerang. Namun, pengurus ekspedisi berinisial GG memberikan fakta lebih jauh. GG memastikan bahwa barang tersebut berasal dari Malaysia dan dibawa melalui jalur tikus ke Sungai Ayak 1, Kabupaten Sekadau, Kalbar.

Barang kemudian dikirim lewat kapal KM Ferindo 5 menuju Patimban sebelum akhirnya disergap. Faisal memastikan proses hukum masih berjalan. Status sopir saat ini masih sebagai saksi, namun pendalaman masih berlangsung di Bea Cukai. Nanti bisa saja statusnya meningkat menjadi tersangka.

Seluruh barang bukti, termasuk truk, pakaian, dan dokumen, kini disita di Mako Lanal Cirebon. Penyelundupan ini berpotensi dijerat Pasal 102 UU 17/2006 tentang Kepabeanan, dengan ancaman 1–10 tahun penjara dan denda Rp 50 juta-Rp 5 miliar.

Sinergi Lintas Instansi

Faisal menegaskan komitmen TNI AL untuk terus menjaga keamanan maritim. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan terus memberantas segala bentuk ilegal yang merugikan negara dan mengganggu stabilitas maritim. Sinergi lintas instansi, mulai dari Bea Cukai, KSOP, Polres Subang hingga Kodim Subang, disebut menjadi kunci tertangkapnya jaringan ini.

Pengungkapan Besar yang Dilakukan

Operasi intelijen itu bermula Minggu (30/11) sekitar pukul 04.00 WIB, ketika tim Lanal Cirebon menyekat kendaraan yang baru selesai bongkar dari KM Ferindo 5. Truk Fuso bernomor F 8810 HL kemudian diamankan, memunculkan pengungkapan besar yang kini tengah ditangani Bea Cukai dan aparat gabungan.

Di balik plastik-plastik bening berisi celana jogger, jaket anti-UV, hingga hijab sport itu, tersembunyi jalur penyelundupan raksasa, yakni Malaysia-Sungai Ayak 1-Pontianak- Patimban, yang disebut aparat sebagai “jalur hantu”.

Pantauan di Mako Lanal memperlihatkan pemandangan yang tak biasa. Ribuan pakaian sport dipajang di lapangan, sementara pejabat yang hadir membuka beberapa sampel untuk memastikan kualitasnya. Truk Fuso pengangkut barang pun turut dihadirkan, dengan sebagian barang masih tersusun rapi di dalamnya, pertanda operasi dilakukan tepat sebelum distribusi.

Temuan ini diyakini bukan aksi tunggal, tetapi bagian dari jaringan terstruktur yang memanfaatkan celah lintas wilayah dan negara.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan