Ribuan Warga Terdampak Banjir Sumatera, Anak dan Perempuan Paling Rentan

Situasi Darurat di Wilayah Terdampak Banjir dan Longsor

Lebih dari 600.000 warga yang terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih hidup dalam situasi darurat di pengungsian dengan fasilitas yang sangat terbatas. Bencana ini tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga memberikan ancaman serius bagi ribuan anak, perempuan, dan penyandang disabilitas.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 2 Desember 2025, sebanyak 604 orang dilaporkan meninggal dunia, 464 orang masih hilang, dan lebih dari 600.000 masyarakat terdampak di 29 kabupaten/kota di Sumatera. Dalam situasi kritis ini, Plan Indonesia telah memulai penyaluran bantuan non-makanan (Non-Food Items/NFI) seberat 23 ton ke wilayah yang paling terdampak sebagai respons darurat.

Bantuan untuk Para Penyintas

Bantuan yang diberikan mencakup berbagai kebutuhan dasar seperti hygiene kit yang termasuk kebutuhan sanitasi menstruasi, shelter kit, matras tidur (sleeping mat), serta dukungan psikososial khusus untuk anak-anak penyintas bencana. Selain itu, Emergency Response Team (ERT) juga dikerahkan ke Aceh dan Sumatera Barat untuk melakukan rapid need assessment, distribusi bantuan, dan pendampingan kepada para penyintas.

Hasil kajian cepat menunjukkan bahwa beberapa wilayah di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh masih kesulitan mengakses air bersih dan paket kebersihan diri, termasuk pembalut. Di wilayah lain seperti Kabupaten Agam, Sumatera Barat, penyintas membutuhkan perlengkapan hunian darurat seperti selimut dan terpal.

Ida Ngurah, Direktur Program Plan Indonesia, menyatakan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masih menjadi tantangan besar di lokasi terdampak, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Ia menekankan bahwa para penyintas, terutama anak-anak, anak perempuan, dan kelompok rentan lainnya masih menghadapi hambatan dalam memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Menurut Ida, beberapa kebutuhan mendesak yang harus segera dipenuhi mencakup air bersih, sanitasi layak, dan kebutuhan kesehatan reproduksi perempuan.

Anak dan Perempuan sebagai Kelompok Paling Rentan

Dalam kondisi bencana, anak dan perempuan berada dalam posisi paling rentan. Minimnya akses pendidikan menyebabkan banyak anak berisiko mengalami putus sekolah, terutama anak perempuan yang terdampak secara sosial maupun ekonomi.

Selain itu, keterbatasan ruang aman dan penerangan di pengungsian dapat meningkatkan risiko:

  • Kekerasan berbasis gender
  • Pelecehan
  • Eksploitasi
  • Praktik perkawinan anak sebagai strategi bertahan hidup keluarga yang kehilangan mata pencaharian

Perempuan dan anak perempuan juga kesulitan mendapatkan layanan kesehatan reproduksi yang memadai, termasuk akses pembalut, obat-obatan, dan layanan konseling.

Ida menekankan bahwa respons bencana harus mengutamakan pendekatan inklusif dan sensitif gender. “Hak anak dan perempuan harus menjadi pusat dalam setiap respons kemanusiaan. Tanpa pendekatan ini, bencana bukan hanya merusak hari ini, tetapi juga meninggalkan dampak sosial jangka panjang,” tegasnya.

Pentingnya Pemulihan Psikososial

Selain dukungan logistik, Plan Indonesia juga mulai memberikan dukungan psikososial untuk anak agar dapat meminimalkan trauma yang muncul setelah kehilangan rumah, keluarga, dan lingkungan belajar. Bagi anak-anak, rutinitas yang terganggu termasuk berhentinya sekolah dapat berdampak pada perkembangan mental dan emosional.

Situasi pascabencana di Sumatera menunjukkan bahwa upaya pemulihan bukan hanya soal penyediaan pangan dan hunian sementara, tetapi juga perlindungan kelompok rentan terutama anak dan perempuan. Dengan pendekatan yang inklusif dan sensitif, harapan adalah mampu membantu para penyintas bangkit dan pulih secara fisik maupun psikologis.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan