
Pria Lansia di Semarang yang Bertahan dengan Jualan Kalender Musiman
Di balik gang sempit Jalan Inspeksi Kyai Damar, kawasan Pasar Johar, Kota Semarang, seorang pria lansia bernama Satiman duduk sambil memejamkan mata. Ia menunggu pembeli yang mungkin lewat di depan lapaknya yang dipenuhi kalender-kalender tahun baru 2026. Setiap kali ada pembeli datang, ia segera bangkit dan mulai melayani dengan cepat sambil menata barang dagangannya.
Kalender-kalender dengan berbagai ukuran digantung di dinding atau ditumpuk rapi di atas meja kecil. Lalu lintas pejalan kaki, pengendara motor, dan mobil yang padat membuat lapaknya nyaris tak pernah sepi dari pandangan. Bagi Satiman, kalender menjadi sandaran hidupnya setiap akhir hingga awal tahun. Namun, barang dagangan itu bersifat musiman dan tidak bisa dijual sepanjang waktu.
“Kalau kalender itu kan tahunan. Biasanya ramai dan peminatnya ada sampai sekitar bulan Mei-April,” ujar Satiman saat ditemui Tribun Jateng, Sabtu (3/1/2026).
Di luar musim kalender, Satiman biasa menjual kaca dan figura. Sebelumnya, ia sempat berjualan buku. Namun, peristiwa kebakaran Pasar Johar beberapa tahun lalu mengubah segalanya. “Dulu jual buku. Tapi buku-buku terbakar waktu Johar kebakaran. Akhirnya ganti jualan,” katanya pelan.
Kini, ia memilih bertahan di luar dari pasar Johar. Sudah lima tahun terakhir ia mangkal di lokasi tersebut. Padahal sebelumnya, Satiman mengaku hampir 25 tahun berjualan di dalam Johar. “Di sana sudah tidak ramai. Jualan tidak laku. Di sini lumayan,” ujarnya.
Untuk musim kalender, biasanya pada akhir tahun dan awal tahun ia kulakan cukup banyak. Kalender ukuran besar bisa mencapai 400 lembar, sementara yang kecil sekitar 500 lembar. Saat ini, stok kalender kecilnya masih tersisa sekitar 200 lembar. Harga kalender yang dijual bervariasi, mulai dari Rp15 ribu hingga Rp25 ribu perkalender.
Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual sekitar 50 kalender bahkan bisa lebih, atau malah sama sekali kosong. “Kemarin bisa lebih dari 50 sangat bersyukur, bisa untuk ditabung dan kebutuhan harian. Tapi kadang ya ga pasti juga penjualannya tergantung cuacanya, kalau hujan seharian bisa-bisa ga ada yang beli,” katanya.
Ia sudah mulai berjualan kalender sejak Oktober 2025, meski puncak pembeli baru terasa menjelang Desember dan awal tahun. Cuaca tak selalu bersahabat. Jika hujan turun, Satiman sigap menutup lapaknya dengan plastik dan merapikan barang dagangan. “Kalau hujan ya ditutup plastik, langsung diringkesi,” ujarnya.
Satiman berasal dari Surakarta. Di Semarang, ia menetap bersama istri dan satu anaknya. Ia memiliki empat anak, tiga menantu, serta tiga cucu. Hasil dari berjualan kalender musiman itu dia gunakan untuk kehidupan sehari-hari, menafkahi istrinya dan satu anaknya yang masih tinggal bersamanya.
Salah satu pembeli, Suyatno, mengaku rutin membeli kalender setiap awal tahun untuk kebutuhan rumah. Bagi buruh harian sepertinya, kalender bukan sekadar hiasan dinding, melainkan penanda ritme kerjanya. Dari lembaran itu, ia menandai hari-hari bekerja sebagai kuli, sekaligus mengatur waktu libur meski tak jarang tanggal merah tetap harus ia lewati dengan bekerja.
“Butuh banget, kalenderkan penting untuk nanggali (menandai) hari pas kerja di tempat ini atau di tempat yang lain, harga standar untuk satu kalendernya saya beli dua,” ujarnya.
Suyatno menilai harga kalender yang ditawarkan Satiman cukup masuk akal dan terjangkau, sesuai dengan kondisi pekerja harian yang perlu menghitung pengeluaran dengan cermat.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar