
Pasangan Suami Istri Lulusan Terbaik di Wisuda ke-46 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Raut bahagia terpancar jelas dari wajah Slamet Iskandar dan Endah Martati. Senyum keduanya merekah, serasi dengan selendang merah bertuliskan "Cumlaude" yang melingkar di bahu masing-masing. Momen Wisuda ke-46 Poltekkes Kemenkes Yogyakarta yang digelar pada Selasa (2/12/2025) siang menjadi hari yang istimewa dan tak terlupakan bagi pasangan suami istri itu.
Bukan sekadar mendampingi pasangan, keduanya justru berdiri di panggung yang sama, diwisuda bersamaan sebagai lulusan Program Studi Pendidikan Profesi Dietisien. Kekompakan Slamet dan Endah tak hanya terlihat dalam membina rumah tangga, namun juga dalam semangat menuntut ilmu. Meski usia tak lagi muda, semangat belajar pasangan itu patut diacungi jempol.
Slamet Iskandar, sang suami, bahkan berhasil menyabet predikat lulusan terbaik di program studinya. Ia mengatakan, keputusan untuk kembali ke bangku kuliah bersama sang istri didasari oleh keinginan memperdalam keilmuan klinis. "Terbukti, selama pendidikan di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta ini, sangat menambah pengetahuan dan keterampilan, khususnya di bidang dietetik. Selama ini (ilmu saya) rasanya kurang begitu mendalam," ujarnya.
Selama satu tahun penuh, pasutri itu menempuh pendidikan intensif. Mereka harus menyelesaikan 38 SKS yang tak hanya berkutat pada teori di kelas, namun juga praktik langsung di lapangan. Slamet mengaku, program profesi ini memberinya wawasan baru yang sangat teknis dan aplikatif. "Kami langsung praktik di rumah sakit, di masyarakat, dan di Puskesmas. Jadi menambah keterampilan untuk menangani pasien, khususnya dalam pengaturan diet untuk penyakit tertentu," tambahnya.
Senada dengan sang suami, Endah Martati pun merasakan hal yang sama. Menjalani perkuliahan bersama suami menjadi pengalaman berharga tersendiri. Bagi Endah, ilmu yang didapat selama satu tahun terakhir ini menjadi bekal krusial untuk kariernya. "Selama belajar di sini, banyak sekali pengalaman dan ilmu pengetahuan yang saya peroleh. Semuanya sangat bisa saya terapkan di dunia pekerjaan saya nanti," ungkapnya.
119 Lulusan dalam Wisuda ke-46
Dalam wisuda ke-46 tersebut, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta berhasil meluluskan 119 lulusan. Adapun 119 wisudawan tersebut terdiri dari 15 lulusan Program Diploma Tiga, 79 lulusan Sarjana Terapan, dan 25 lulusan Program Pendidikan Profesi. Capaian akademiknya pun cenderung sangat memuaskan, dengan persentase lulusan tepat waktu mencapai 95,3 persen.
Sebagian besar lulusan berasal dari program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) dan peserta Tugas Belajar Kementerian Kesehatan yang siap diterjunkan untuk pemerataan kesehatan nasional hingga kancah global. Direktur Poltekkes Kemenkes Yogyakarta, Dr. Iswanto, S.Pd., M.Kes., mengungkapkan bahwa wisuda kali ini menegaskan komitmen institusinya dalam visi "Unggul Berbudaya Mendunia".
"Sebagian besar (wisudawan) adalah program RPL untuk peningkatan kualifikasi, dari D3 ke Sarjana Terapan hingga Pendidikan Profesi. Mereka berasal dari 19 provinsi, dan 24 di antaranya adalah peserta tugas belajar Kemenkes," ujarnya. Iswanto menekankan, bahwa lulusan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta kini tidak hanya didesain untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga pasar kerja internasional.
Pihaknya telah melakukan penyesuaian kurikulum dan pembekalan bahasa untuk memastikan lulusan mampu bersaing di negara-negara seperti Jerman, Jepang, Belanda, hingga Timur Tengah. "Di Jerman saja, setiap tahun butuh sekitar seribu tenaga kesehatan. Poltekkes Kemenkes se-Indonesia mendapat jatah 330 lulusan untuk bekerja di sana. Belum lagi peluang di Saudi, serta negara-negara lainnya," paparnya.
Prestasi dan Peluang Global
Dalam laporannya, Dr. Iswanto juga membeberkan sederet prestasi institusi yang kini menempati Klaster 1 dari 38 Poltekkes Kemenkes se-Indonesia. Menurutnya, sebanyak 17 program studi di Poltekkes Kemenkes Yogyakarta telah terakreditasi LAMPT-Kes dengan predikat "Unggul" (100 persen). Bahkan, tidak sekadar mengirimkan lulusannya ke luar negeri, Poltekkes Kemenkes Yogyakarta juga menjadi magnet bagi mahasiswa asing.
Pada 2025, pihaknya menerima mahasiswa asing penerima beasiswa The Indonesian AID Scholarship (TIAS) dari berbagai negara seperti Solomon Islands, Namibia, Nigeria, Papua New Guinea, dan Timor Leste. "Kami mendorong transformasi kesehatan, mulai dari layanan primer hingga penyiapan tenaga cadangan. Harapannya, lulusan kami bisa cepat membangun kesehatan di daerah masing-masing maupun merebut peluang global," pungkasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar