Rompi Anti Peluru Sawit IPB, Tak Tembus dari Jarak 5 Meter, Lulus Uji TNI

Rompi Anti Peluru Sawit IPB, Tak Tembus dari Jarak 5 Meter, Lulus Uji TNI

Inovasi Rompi Anti Peluru dari Limbah Kelapa Sawit

IPB University berhasil mengembangkan rompi anti peluru yang terbuat dari limbah kelapa sawit. Produk ini memiliki berat hanya 2 kilogram dan mampu menahan tembakan dari jarak 5 meter. Selain itu, ketebalan rompi ini kurang dari 2 cm, sehingga sangat ringan dan nyaman digunakan.

Rompi anti peluru ini merupakan hasil riset IPB University yang didanai melalui Program Dana Padanan (Kedaireka) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi tahun anggaran 2024–2025. Tim peneliti yang terlibat dalam proyek ini terdiri dari Dr Irmansyah, Rima Fitria Adiati, MT, Dr Agus Kartono (Fisika), serta Tursina Andita Putri, MSi (Agribisnis).

Rompi anti peluru ini telah lulus uji oleh TNI. Uji balistik dan sertifikasi dilakukan di Laboratorium Dinas Penelitian dan Pengembangan Angkatan Darat (Dislitbang TNI AD), Batujajar, Bandung, pada Jumat (19/12/2025). Hasil pengujian menunjukkan bahwa rompi mampu menahan proyektil tanpa tembus dengan tingkat deformasi atau lekukan belakang di bawah 44 mm. Performa ini dinilai kompetitif dengan rompi antipeluru level IIIA yang ada di pasaran saat ini.

Proses Pengujian Rompi

Rompi anti peluru yang terbuat dari serat TKKS (tandan kosong kelapa sawit) diuji oleh pihak TNI menggunakan amunisi kaliber 9×19 mm dari jarak tembak 5 meter. Pengujian mencakup kondisi tembak kering dan basah, serta uji ketahanan terhadap tusukan dan bacokan senjata tajam. Berdasarkan penilaian tim penguji, rompi dinyatakan lulus karena mampu menahan proyektil tanpa tembus.

Bahan Baku dan Proses Produksi

Peneliti IPB University mengembangkan rompi anti peluru ini menggunakan bahan baku tandan kosong kelapa sawit (TKKS). Siti Nikmatin, peneliti Pusat Studi Sawit sekaligus dosen Departemen Fisika IPB University, menjelaskan bahwa limbah sawit digunakan sebagai alternatif material kevlar, bahan utama pembuatan rompi anti peluru.

“Awalnya rompi anti peluru adalah 100 persen dari kevlar, lalu kami modifikasi 50 persennya dari kelapa sawit. Jadi 50 persennya kelapa sawit, dan 50 persennya masih menggunakan kevlar,” kata Siti. Substitusi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada kevlar yang berbahan sintetis berbasis kimia dan relatif mahal.

TKKS adalah limbah industri sawit yang mudah ditemukan dan belum dimanfaatkan secara optimal. Keunggulan serat sawit dibandingkan kevlar adalah bobotnya yang lebih ringan, sehingga dapat menekan bobot rompi yang digunakan anggota TNI. Meskipun TNI menanyakan apakah bisa 100 persen dari sawit, Siti menjelaskan bahwa 100 persen bahan dari sawit bisa, tetapi tebalnya akan mencapai 4 cm dan beratnya 3-4 kg, sehingga tidak memenuhi standar TNI.

Standar rompi anti peluru TNI mensyaratkan berat maksimal 2 kilogram, ketebalan tidak lebih dari 2 sentimeter, dengan ukuran 30 x 30 sentimeter. Karena itu, komposisi serat sawit saat ini baru bisa mencapai sekitar 50 persen.

Proses Produksi dan Persiapan Komersialisasi

Siti mengakui teknologi pembuatan rompi masih bersifat semi manual. Sebagian proses produksinya masih dilakukan secara manual, khususnya pada tahap pembuatan benang dan kain serat sawit. “Untuk pengolahan sawit menjadi serat panjang sudah menggunakan mesin, begitu juga proses pembuatan kompositnya. Yang masih manual itu proses benang dan kainnya,” ujarnya.

Waktu produksi rompi anti peluru dari limbah sawit membutuhkan satu hari. Di sisi lain, ketersediaan tandan kosong kelapa sawit tidak menjadi kendala. Limbah tersebut dapat diperoleh secara gratis dari pabrik kelapa sawit. Para peneliti hanya mengeluarkan biaya untuk jasa angkut limbah sawit saja.

Kolaborasi Multidisiplin

Inovasi ini lahir dari kolaborasi tim IPB University dari multidisiplin, yang diketuai oleh Dr Siti Nikmatin. Ia menekankan pentingnya langkah strategis menuju komersialisasi. Menurutnya, ketersediaan bahan baku serat sawit sangat melimpah, namun proses produksi masih memerlukan dukungan investasi permesinan dan modal karena banyak tahapan dilakukan secara manual.

“Semoga inovasi ini dapat mengubah potensi limbah kelapa sawit menjadi kekuatan baru bagi kedaulatan industri pertahanan Indonesia di masa depan,” tutupnya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan