
Bencana Ekologis dan Peran Sastra dalam Kesadaran Lingkungan
Bencana alam seperti banjir, longsor, dan tanah longsor yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera belakangan ini menunjukkan bahwa masalah lingkungan bukan lagi sekadar peringatan, tetapi kenyataan yang terus berulang. Dari Sumatera Utara hingga Aceh, bencana-bencana ini menjadi bukti nyata dari kerusakan ekosistem yang tidak lagi bisa diabaikan.
Deforestasi, alih fungsi hutan, serta tata ruang yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan menjadi akar dari masalah ini. Di tengah situasi krisis ini, sastra hadir sebagai bentuk kesadaran budaya yang mengingatkan manusia untuk tidak terus-menerus merusak alam. Salah satu contohnya adalah novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, yang dalam perspektif ekologis memberikan wawasan baru tentang bagaimana kerusakan lingkungan dapat menyebabkan kerentanan hidup dan penderitaan manusia.
Dalam novel tersebut, Dukuh Paruk digambarkan bukan hanya sebagai desa miskin, tetapi juga sebagai tempat yang tanahnya telah kehilangan kesuburan, sungai yang tak lagi menjanjikan kehidupan, dan masyarakat yang terpaksa bertahan dalam kepapaan. Lingkungan yang rusak menciptakan pola hidup yang rapuh. Ketika tanah tidak lagi menghasilkan, air tidak lagi menyuburkan, maka kesenian seperti ronggeng menjadi satu-satunya sumber penghidupan. Akibatnya, kemiskinan ekologis berubah menjadi kemiskinan sosial dan budaya.
Tohari ingin menyampaikan bahwa ketika manusia merusak alam, nasib buruk yang datang bukan hanya hilangnya sumber daya, tetapi juga hilangnya martabat dan masa depan. Apa yang digambarkan Tohari dalam skala kecil di Dukuh Paruk kini terlihat nyata dalam skala luas di Sumatera. Banjir bandang yang menghancurkan rumah, sekolah, dan jembatan bukan hanya akibat hujan ekstrem, tetapi juga karena hutan-hutan di hulu yang telah dibuka untuk perkebunan besar dan industri ekstraktif.
Tanah yang gundul tidak mampu menyerap curah hujan, sehingga air meluncur tanpa hambatan, membawa lumpur dan kayu gelondongan yang sering kali menunjukkan bekas pemotongan mesin, bukan pohon tumbang alami. Seperti warga Dukuh Paruk, masyarakat lokal sering menjadi korban paling awal. Mereka sering disalahkan karena tinggal di bantaran sungai atau lereng bukit, padahal keputusan merusak hutan sering kali diambil oleh pihak yang jauh dari desa.
Kearifan lokal yang dahulu menjadi penopang kehidupan kini semakin terpinggirkan. Dalam filosofi Jawa maupun tradisi masyarakat adat di Sumatera, terdapat prinsip kuat untuk menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam. Ada pembagian ruang yang jelas: kawasan yang boleh diolah dan kawasan yang harus tetap menjadi kawasan pelindung. Ada nilai spiritual yang menautkan kelestarian alam dengan kelangsungan hidup manusia.
Namun modernitas yang tergesa-gesa datang dengan sikap pongah, menganggap pengetahuan lokal sebagai sesuatu yang tidak ilmiah. Padahal, kearifan lokal sudah menjadi sistem mitigasi bencana jauh sebelum istilah mitigasi sendiri diperkenalkan. Sastra seperti Ronggeng Dukuh Paruk membantu kita mengingat kembali akar budaya yang ekologis. Ia tidak menyodorkan angka kerugian, tetapi menghadirkan empati yang membawa kita menyelami luka masyarakat yang kehilangan tanah dan harapan.
Novel ini mengajarkan kita bahwa alam bukan objek eksploitasi, melainkan subjek yang menentukan arah hidup manusia. Bencana ekologis sesungguhnya bukan musibah tiba-tiba, melainkan konsekuensi dari pilihan manusia yang mengabaikan batas. Maka solusi yang dibutuhkan bukan sekadar tanggul baru atau sirine peringatan, tetapi transformasi pola pikir. Merawat alam sama artinya dengan menjaga kelangsungan hidup kita sendiri.
Ahmad Tohari telah memberi peringatan sejak lama: jika alam terus diperlakukan hanya sebagai komoditas, maka kehancuran sosial akan mengikuti. Sumatera telah merasakan babak awalnya. Pertanyaannya kini semakin mendesak: Apakah kita siap mengubah sikap, atau akan menunggu sampai semua Dukuh Paruk di negeri ini benar-benar hilang dari peta?
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar