Rujak Mama Ambon, Jajanan Legendaris Baubau Sejak 2002

Rujak Mama Ambon, Jajanan Legendaris Baubau Sejak 2002

Rujak Mama Ambon: Warisan Kuliner Legendaris di Baubau

Di tengah keramaian kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), terdapat sebuah tempat yang menjadi incaran para pencinta kuliner. Lokasinya berada di Jalan Pahlawan, Kelurahan Kadolokatapi, Kecamatan Wolio. Meskipun berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat kota, rujak yang disajikan oleh Mama Ambon tetap diminati oleh masyarakat setempat dan pengunjung.

Rujak Mama Ambon adalah salah satu jajanan legendaris yang telah bertahan selama lebih dari dua dekade. Sejak pertama kali dibuka sekitar tahun 2002, rujak ini tidak hanya viral, tetapi juga mempertahankan cita rasa yang khas dan autentik. Bumbu yang gurih dan kental serta penyajian yang menonjolkan segar buah dan bumbu membuatnya menjadi pilihan utama bagi banyak orang.

Lokasi lapak Mama Ambon berada di sebelah kiri jalan sebelum mencapai Taman Makam Pahlawan, Kilometer 6, Kelurahan Kadolokatapi. Saat berkunjung, Ida Wali atau yang dikenal dengan panggilan Mama Ambon sedang sibuk melayani pembeli. Ia tampak gesit dalam memotong buah dan meracik bumbu. Sosok wanita tua ini sudah sangat akrab dengan pelanggannya, yang sering datang kembali untuk mencicipi rujak miliknya.

Mama Ambon pernah menjual rujak di Ambon sebelum akhirnya pindah ke Kota Baubau pada tahun 1999 setelah mengalami kerusuhan. Ia tinggal di Sampolawa, yang kini masuk wilayah Kabupaten Buton Selatan. Pada tahun 2002, ia memutuskan untuk berjualan di lokasi yang saat ini digunakan sebagai tempat usahanya.

Menurut Ida, resep bumbu rujak miliknya hampir sama dengan rujak pada umumnya, menggunakan bahan seperti kacang, gula merah, garam, dan cabai. Namun, yang membedakan adalah cara penyajian. Ia memisahkan kacang dan memblandernya sebelum dicampur. Menurutnya, bumbu akan lebih sedap jika diulek bersama gula merah menggunakan ulekan.

"Kita pisah, biasa kacangnya ada yang diblender baru dicampur," ujarnya. Dengan cara ini, bumbu rujak terasa lebih kental dan lezat. Ia juga tidak menggunakan air asam sebagai pembasah gula merah saat mengulek bumbu, melainkan mentimun. Hal ini dilakukan agar konsumen tidak merasa sakit perut meskipun belum makan nasi.

Dulu, Ida pernah menggunakan pala sebagai campuran rujak, tetapi ia mengaku bahwa pala memberi kesan terlalu asam. Oleh karena itu, ia memutuskan untuk tidak menggunakan asam dalam bumbu rujak miliknya.

Harga rujak yang ditawarkan adalah Rp20 ribu per porsi. Selain itu, pembeli juga bisa membeli bumbu rujak saja dengan harga minimal Rp50 ribu per pembelian. Bumbu rujak milik Mama Ambon dapat bertahan hingga dua pekan jika disimpan di dalam kulkas.

Selama kurang lebih 20 tahun berjualan, Ida selalu memperhatikan kualitas bahan-bahan yang digunakan. Mulai dari kualitas kacang, gula merah, hingga buah yang akan ditawarkan. Hal ini menjadikan rujak Mama Ambon tidak hanya sekadar jajanan, tetapi juga warisan kuliner yang patut dijaga dan dinikmati.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan