Banjir Bandang Hancurkan Rumah Alizar yang Berdiri Selama 35 Tahun
Banjir bandang yang terjadi di kawasan Kampung Guo, Kecamatan Kuranji, Kota Padang, pada Kamis (27/11/2025) lalu, menyebabkan kerusakan besar bagi warga setempat. Salah satu korban terdampak adalah Alizar, seorang petani yang telah membangun rumahnya selama 35 tahun dari hasil bertani. Rumah tersebut kini hanya tinggal sisa lantai keramik dan atap, sedangkan dinding dan pintu hancur berantakan akibat banjir bandang.

Alizar, yang saat ini tinggal bersama keluarganya di tempat pengungsian, masih terlihat ramah meski keadaannya sangat memprihatinkan. Di dalam kamar yang masih tersisa, ia mengajak tamu untuk melihat bagian dalam rumah yang kini hanya memiliki lantai keramik dan atap. Meskipun tidak lagi memiliki dinding dan pintu, ruangan itu tetap digunakan sebagai tempat istirahat oleh keluarganya.
"Rumah ini sudah dibersihkan dua hari terakhir bersama anak dan istri, untuk tempat istirahat, karena teringat dengan rumah," ujarnya dengan suara pelan. Ia juga menjelaskan bahwa tumpukan gelondongan kayu dan beberapa sisa dinding terlihat menyatu di dalam kamar tersebut.
Perjuangan Alizar Setelah Banjir Bandang
Banjir bandang yang terjadi pada malam hari tersebut menimbulkan rasa sakit mendalam bagi Alizar. Saat kejadian, ia dan keluarganya telah mengungsi sejak sore hari ke tempat yang lebih aman. Debit air di depan rumahnya meningkat secara drastis akibat curah hujan tinggi selama tiga hari berturut-turut. Hal ini memicu longsoran bukit dan banjir bandang yang menghancurkan rumah serta lahan pertaniannya.
"Saya hanya bisa tertawa, meski hati sudah tidak tahu lagi rasanya. Tajatuah ka dalam aia mato wak deknyo, hanyo itu panguek hiduik," ujar Alizar sembari menyampaikan perasaannya. Meski begitu, ia tetap bersyukur karena tidak ada anggota keluarga yang menjadi korban dalam kejadian tersebut.
Meski debit air sudah tinggi dan mulai mengalir di dalam rumah, Alizar sempat menyelamatkan beberapa barang penting seperti tiga karung padi, mesin pemotong rumput, dan chainsaw. Ia dan menantunya masuk melalui jendela menggunakan papan kayu untuk mengambil barang-barang tersebut.
Keadaan Saat Ini dan Harapan Masa Depan
Kini, Alizar dan keluarganya tinggal di lokasi pengungsian yang tidak jauh dari rumahnya. Namun, mereka belum tahu harus tinggal di mana setelah kehilangan rumah dan lahan pertanian mereka. Alizar mengaku tidak mampu membangun kembali rumah layak huni seperti dulu, sehingga ia hanya bisa berharap pada bantuan pemerintah.
"Lahan pertanian serta rumah dengan seisi perabotannya hilang bak ditelan bumi pasca banjir bandang," ujarnya. Meski begitu, Alizar tetap berusaha untuk merajut kenangan dengan kembali ke rumah dan bersenda gurau bersama keluarga.
Menjelang adzan Ashar, beberapa anggota keluarga Alizar terlihat kembali ke tempat pengungsian. Mereka membawa tikar dan sembako bantuan dari uluran tangan orang-orang yang telah memberikan dukungan kepada keluarganya.
Kejadian ini menjadi pengalaman paling buruk bagi Alizar sejak ia tinggal di Kampung Guo. Ia mengatakan ini adalah kejadian besar pertama yang dialaminya selama tinggal di kawasan tersebut. Dengan segala kesedihan yang dirasakan, Alizar tetap berharap ada solusi yang dapat membantu keluarganya bangkit kembali dari keterpurukan ini.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar