
JAKARTA, aiotrade
Rumah-rumah di Kampung Pinangsia, Jakarta Barat, berdiri hanya sejengkal dari rel aktif yang setiap beberapa menit sekali dilintasi KRL jurusan Kampung Bandan–Duri. Dalam beberapa titik, tempat aktivitas warga betul-betul bersinggungan langsung dengan bantalan rel hanya satu langkah kaki untuk mencapai roda besi kereta yang melaju. Bahaya yang seharusnya mengancam justru telah menjadi bagian ritme hidup yang dihafal, dirasakan, tapi jarang lagi ditakuti secara nyata.
“Kalau kereta lewat ya biasa saja. Tinggal minggir sedikit. Anak-anak juga sudah tahu aturannya,” kata Nopi (32), warga RT 07 RW 01 saat ditemui aiotrade, Senin (1/12/2025). Saat aiotrade menyambangi kawasan ini, suara gemuruh KRL terdengar tanpa jeda sepanjang siang. Getaran dari roda besi terasa ke tanah, membuat jemuran, seng tipis, dan peralatan dapur bergetar setiap kali kereta lewat.
Nopi mengaku ia dan keluarganya sudah terbiasa sehingga tidak kaget setiap kereta melintas. “Awal-awal kami tinggal sini ya kaget. Tapi sudah bertahun-tahun begini. Yang penting jagain anak. Kalau mau main, jangan dekat-dekat rel. Kami sudah ngatur sendiri,” katanya. Dalam satu jam pengamatan, kereta melintas lebih dari sepuluh kali. Namun warga tampak tetap beraktivitas seperti biasa mengupas bawang hingga menjemur pakaian.
Selain terbiasa hidup berdampingan dengan rel, warga juga kerap menggunakan jalur rel sebagai penghubung antarkampung. Jalur rel di bagian atas Pinangsia mengarah langsung ke permukiman Kampung Tongkol di sisi utara. Meski ada akses di bagian Jalan Cengkeh, warga tetap menyeberang dengan berjalan tepat di atas rel.
“Kalau mau ke Kampung Tongkol tinggal naik ke atas rel, jalan lurus saja. Kalau kereta datang, ya minggir. Di sini semua sudah paham mana aman, mana nggak,” tutur Nopi. Anak-anak, remaja, hingga pedagang sayur dari Tongkol sering terlihat melintas. Mereka berjalan di sisi rel sambil menggenggam barang bawaan, atau berhenti sejenak saat mendengar gemuruh kereta mendekat. Ketika aiotrade mencoba mengikuti jalur itu, tampak jelas bahwa jaraknya sangat sempit. Ruang aman untuk berdiri ketika kereta melintas hanya selebar sekitar 40–60 sentimeter. Tidak ada pagar pembatas, lampu peringatan, maupun marka keselamatan. Namun bagi warga, jalur itu adalah akses tercepat dan termudah untuk menyeberang.
“Lewat jalan resmi jauh, muter. Lewat rel lebih cepat dua menit. Sudah dari dulu,” ucap Nopi.
Pandangan Pengamat
Pengamat tata kota Yayat Supriyatna mengatakan normalisasi risiko seperti yang terjadi di Pinangsia merupakan salah satu tantangan besar penataan ruang perkotaan. Ketika bahaya dianggap sebagai kebiasaan, masyarakat cenderung abai terhadap potensi kecelakaan. “Warga sudah terbiasa dan menganggapnya normal, padahal risiko tinggi sekali. Rumah berjarak sejengkal dari rel membuat mereka rentan tersambar kereta, terkena percikan api dari rem, atau terdampak longsoran kecil bantalan rel,” ujar Yayat. Ia menyebut fenomena ini sebagai bagian dari “survival urban behavior” di mana warga bertahan di ruang-ruang sisa seperti bantaran kali, kolong tol, atau sisi rel karena faktor ekonomi, kedekatan lokasi kerja, dan minimnya opsi hunian formal.
Menurut Yayat, rel aktif seharusnya memiliki zona aman minimal beberapa meter dari jalur. “Tidak boleh ada bangunan, tidak boleh ada aktivitas. Tetapi kenyataannya, karena pengawasan lemah dan lahan kosong tidak dimanfaatkan pascapenertiban, permukiman baru tumbuh lagi,” katanya. Ia menyoroti bahwa pemerintah tidak bisa bertindak sepihak. Penertiban tanpa rencana penampungan hanya akan memicu konflik sosial. “Kalau mau menertibkan, harus ada plan B relokasi ke rusun, uang kerohiman, atau solusi jangka panjang lain. Jika tidak, ya warga kembali lagi,” ucap Yayat.
Hidup yang Berkelindan dengan Getaran Kereta
Di bawah jembatan kecil dekat lintasan, Umi (47) menata dagangan gorengannya. Asap dari wajan naik bercampur debu rel yang tertiup angin. “Kalau kereta lewat, panci ini bisa geser sendiri,” katanya sambil menekan wajan panas agar tetap stabil. “Getarannya kuat. Tapi saya sudah 15 tahun jualan di sini,” lanjutnya. Saat hujan, air menetes dari sambungan seng bangunan di atasnya. Ia harus cepat memindahkan loyang gorengan agar tidak kemasukan air. “Genangan kadang ada di bawah lapak. Tapi mau bagaimana? Di sini paling ramai,” tutur Umi. Umi pernah beberapa kali ditegur ketika ada perbaikan rel. Namun setelah itu, ia tetap berjualan di titik yang sama. Tak ada tempat lain yang memberikan akses pelanggan sebanyak lokasi ini.
“Saya cuma pengin aman. Kalau ada tempat sampah atau bangku kecil aja sudah senang. Kami hanya butuh sedikit perhatian,” katanya. Raman (58), mengadang aiotrade ketika kami menuruni tangga menuju gang bawah. Ia mengaku tinggal di Pinangsia sejak 2000-an, jauh sebelum rel itu seramai sekarang. “Dulu rumah di sini jaraknya masih lumayan. Sekarang orang saling menempel. Setelah kolong tol dibongkar, banyak pindahan datang, makin sempit semua,” tutur Raman. Saat kereta melintas, rumah Raman bergetar cukup keras. Ia menunjukkan retakan kecil di dinding semen yang disambung kayu. “Itu retak tiap tahun nambah. Seng juga sering lepas kalau kereta barang yang lewat,” katanya. Raman tahu risikonya besar. Ia bahkan pernah menyaksikan seorang warga terpeleset dan jatuh ke sisi rel saat menyeberang. “Untung kereta belum lewat. Kalau lewat, nggak bisa lari lagi. Tapi kejadian kayak gini orang anggap biasa,” ucap pria paruh baya tersebut.
Dira (36) seorang ibu empat anak, tinggal di rumah yang jaraknya hanya dua ubin dari rel. Hal yang paling membuatnya cemas adalah saat anak-anak pulang sekolah. “Kalau mereka pulang bareng teman-teman, biasanya mereka naik lewat pinggir rel buat cepat sampai rumah. Saya deg-degan setiap hari,” katanya. Dira pernah berusaha membuat pagar kecil dari potongan kayu dan tali rafia di belakang rumah, tetapi getaran kereta membuatnya longgar dalam beberapa hari. “Kalau ada pagar yang kuat saja sudah lumayan. Tapi kami tidak bisa bangun permanen. Besok-besok bisa disuruh bongkar,” kata Dira.
Arif (40) bekerja sebagai pengemudi ojek pangkalan. Ia pernah menolong seorang bocah yang hampir terseret angin kereta saat mengambil bola yang jatuh ke rel. “Itu kejadian lima tahun lalu. Bocahnya jatuh terduduk. Untung saya cepat lari,” katanya. “Di sini itu rumah sakit jauh, tapi risiko dekat. Kami selalu siap-siap kalau ada kejadian,” lanjutnya.
Realitas yang Penuh Risiko, Tetapi Sulit Ditinggalkan
Kampung Pinangsia bukan sekadar permukiman padat. Ia adalah ruang yang memadat karena kebutuhan. Banyak warga bekerja di Pasar Asemka, Kota Tua, atau kawasan perdagangan sekitar. Tinggal dekat pusat aktivitas menjadi pilihan logis bagi mereka yang penghasilannya tidak tetap dan kadang jauh di bawah UMR. Karena itu, rel yang berbahaya justru memberi keuntungan secara lokasi. “Dekat pasar, dekat kerja, murah,” kata banyak warga. Kalau pindah, biaya hidup naik,” kata Arif. Namun konsekuensinya adalah hidup berdampingan dengan bahaya yang menempel setiap hari getaran, suara keras, potensi tersenggol kereta, hingga kebakaran akibat korsleting dari sambungan listrik liar yang melewati rumah-rumah rapat.
Bagi warga, risiko ini nyata tetapi tetap dipilih. Mereka menimbangnya dengan biaya hidup, akses kerja, serta minimnya opsi hunian resmi yang terjangkau. Sampai kini, belum ada kepastian mengenai rencana penataan kawasan rel antara Pinangsia dan Ancol. Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) masih akan memberikan pernyataan lebih lanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar