Saat Tahun Baru Lebih Tenang di Rumah Daripada Di Keramaian

Perayaan Tahun Baru yang Berbeda

Banyak orang merayakan pergantian tahun dengan hitung mundur, sorak sorai, dan kembang api yang meledak di langit malam. Ada juga yang mengabadikannya melalui unggahan media sosial: tawa, pesta kecil, atau sekadar kopi di pinggir jalan menunggu jarum jam bergeser ke angka satu. Namun, bagi sebagian orang, perayaan tersebut tidak lagi memberikan kebahagiaan seperti dulu.

Aku sendiri, entah sejak kapan, tidak lagi merasa antusias menanti malam tahun baru. Bukan karena sok suci atau ingin terlihat berbeda. Jujur saja, hatiku memang enggan. Ada sesuatu yang tidak lagi klop di dalam dada. Padahal, dulu aku pernah ada di sana. Ikut merayakan, menyalakan kembang api, tertawa hingga larut malam. “Happy-happy,” kata mereka.

Tapi setiap kali pagi datang, yang tertinggal justru rasa hampa. Seperti ada waktu yang habis, tapi tidak benar-benar diisi. Lupa pada aktivitas lain. Lupa pada diri sendiri. Sejak itu, perlahan aku belajar mendengarkan hati. Dan rupanya, hati ini lebih tenang ketika tidak ikut larut dalam perayaan itu.

Pilihan untuk Tidak Merayakan

Bukan hanya tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya pun aku memilih untuk tidak ikut merayakan malam tahun baru. Bukan karena membenci, apalagi menyalahkan. Aku belajar dari para guru: ada hal-hal yang tidak perlu ditentang dengan suara keras, cukup dijaga dengan sikap.

Setiap menjelang pergantian tahun, Abah—guru yang sangat aku hormati—selalu mengirimkan satu video. Isinya nasihat dari Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa Rahimahullah. Nasihat yang sama, berulang, tapi entah kenapa selalu mengetuk hati. Habib Munzir pernah menyampaikan kurang lebih begini: "Malam tahun baru adalah malam di mana paling banyak maksiatnya umat Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam (SAW)."

Beliau menegaskan, ini bukan soal menyalahkan non-Muslim. Itu hari raya mereka. Tidak ada yang perlu dipersoalkan. Yang menyayat hati justru ketika hari itu diramaikan oleh kaum Muslimin sendiri—umat Nabi Muhammad SAW. Habib Munzir menggambarkannya dengan bahasa yang sangat tajam, tapi penuh cinta: "Dahulu Rasulullah SAW bersujud, lalu ditimpai kotoran unta oleh kaum Quraisy. Di masa sekarang, umat justru melemparkan kotoran dosa ke wajah Baginda Nabi."

Lalu beliau bertanya dengan nada yang menggugah: siapa yang akan memberi syafaat kepada para pendosa ini, kalau bukan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam?

Pengalaman yang Berkesan

Aku ingat betul, setiap kali mendengar nasihat itu, dadaku terasa sesak. Bukan karena takut, tapi karena malu. Malu pada Rasulullah SAW. Malu karena seringkali kita mengaku cinta, tapi lupa menjaga perasaan beliau. Sejak itulah, pilihan untuk tidak ikut merayakan tahun baru bukan lagi soal selera, tapi soal adab. Manut. Tunduk pada nasihat para guru. Menjaga hati agar tidak semakin keras.

Pengalaman paling berkesan justru terjadi pada tahun 2023. Untuk pertama kalinya, aku melewati malam tahun baru bukan dengan kembang api, melainkan duduk di majelis. Majelis Abah. Kami berdzikir. Bersholawat. Tafakur pelan-pelan. Anehnya, malam itu kami juga tidur larut. Tapi rasanya sangat berbeda. Hati tenang. Tidak ada iri melihat orang-orang merayakan di luar sana. Tidak ada rasa tertinggal. Yang ada justru rasa cukup.

Dan yang paling aku syukuri: Subuhnya kami bisa bangun dengan segar. Melangkah ke masjid. Berjamaah. Ada ketenangan yang tidak bisa ditukar dengan gemerlap apa pun.

Keputusan untuk Menepi

Di luar sana, malam tahun baru sering kali menjadi malam paling bising. Bukan hanya oleh suara petasan, tapi juga oleh hawa maksiat yang turun tanpa malu. Dalam kondisi seperti itu, para guru justru mengajarkan untuk menepi. Bukan menghakimi. Bukan mencela. Tapi menyelamatkan diri.

Aku semakin paham, tidak semua yang ramai itu menenangkan. Tidak semua yang dirayakan itu membawa keberkahan. Ada malam-malam tertentu yang justru lebih layak diisi dengan diam, mengingat, dan menunduk. Menunduk pada siapa? Pada Allah. Pada Rasulullah SAW. Dan, pada para guru yang mengajarkan kita cara menjaga hati.

Tulisan ini tidak bermaksud melarang siapa pun. Aku pun tidak sedang mengajak semua orang untuk sama denganku. Setiap orang punya jalannya masing-masing. Tapi kalau boleh jujur, aku hanya ingin berbagi satu pelajaran kecil: bahwa menjauhi keramaian juga bisa menjadi bentuk cinta. Cinta pada Nabi. Cinta pada iman. Dan cinta pada diri sendiri.

Kini, ketika malam tahun baru sudah berlalu, aku justru merasa bersyukur tidak ikut merayakannya. Bukan karena merasa lebih baik, tapi karena merasa lebih tenang. Dan mungkin, di usia yang terus bertambah ini, ketenangan adalah anugerah yang paling mahal.

Barangkali, di antara kita ada yang sedang lelah dengan hiruk pikuk dunia. Barangkali ada yang diam-diam ingin menepi, tapi takut dianggap aneh. Kalau begitu, tulisan ini ingin berbisik pelan: tidak apa-apa. Tidak ikut merayakan bukan berarti anti-sosial. Tidak larut dalam keramaian bukan berarti membenci kebahagiaan. Bisa jadi, itu justru tanda hati sedang ingin pulang.

Malam tahun baru sudah lewat. Tapi kesempatan untuk tafakur tidak pernah habis. Mari kita jaga malam-malam kita berikutnya. Dengan dzikir. Dengan shalawat. Dengan menundukkan hati. Siapa tahu, dari sikap kecil itu, Allah titipkan ketenangan yang selama ini kita cari-cari.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan