Sahara Berkontribusi pada Kesuburan Hutan Amazon

Ekosistem yang Ternyata Terhubung

Gurun Sahara di Afrika dan Hutan Amazon di Amerika Selatan adalah dua ekosistem yang sangat berbeda secara geografis. Meskipun terpisah oleh jarak yang jauh, keduanya memiliki hubungan yang sangat penting dan saling terkait. Gurun pasir terluas di dunia ini, dengan luas sekitar 8,6 juta kilometer persegi, memainkan peran penting dalam menyuburkan Hutan Amazon, yang merupakan hutan hujan terbesar di dunia.

Mekanisme Penyuburan: Debu Kaya Fosfor

Setiap tahun, angin kuat dari Sahara membawa awan debu raksasa menuju lembah Amazon. Debu ini berasal terutama dari dasar danau kuno di Chad dan kaya akan fosfor. Fosfor adalah nutrisi penting untuk pertumbuhan tanaman, namun jumlahnya sangat sedikit di Hutan Amazon. Debu Sahara yang turun ke hutan setiap tahun membantu mengurangi kekurangan fosfor tersebut.

Ketika debu mencapai hutan hujan, sisa-sisa organisme yang telah lama mati dari Sahara memberikan nutrisi penting bagi tanaman yang hidup di hutan tersebut.

Satelit CALIPSO Ungkap Fluktuasi Debu yang Tinggi

Para peneliti NASA mempelajari hubungan antara Amazon dan Sahara untuk memahami bagaimana proses ini bekerja dan bagaimana perubahan iklim dapat memengaruhinya. Untuk pertama kalinya, satelit CALIPSO (Cloud-Aerosol Lidar and Infrared Pathfinder Satellite Observation) berhasil menghitung jumlah debu yang melakukan perjalanan lintas benua.

Dari 182 juta ton debu yang meninggalkan Sahara setiap tahun, sekitar 27,7 juta ton atau 15 persen dari totalnya jatuh di kawasan Amazon. Jumlah ini setara hampir 700.000 truk trailer. Data CALIPSO juga menunjukkan variasi yang sangat tinggi dalam hubungan ini—volume debu yang mencapai Amazon dapat berubah hingga 86 persen antara tahun 2007 dan 2011.

Curah Hujan Sahel: Kunci Volume Debu

Hongbin Yu, ilmuwan atmosfer di University of Maryland yang bekerja di NASA Goddard Space Flight Center, menemukan kemungkinan adanya hubungan antara volume debu yang terbawa dengan kondisi di Sahel, yaitu sabuk tanah semi-kering di perbatasan selatan Sahara.

Yu dan rekan-rekannya menemukan bahwa curah hujan di Sahel berkorelasi dengan jumlah debu yang terbawa melintasi Atlantik. Ketika curah hujan lebih tinggi, volume debu yang terbawa lebih rendah.

Yu menduga, curah hujan yang meningkat memungkinkan lebih banyak vegetasi tumbuh di Sahel, sehingga lebih sedikit pasir yang terbuka dan tersapu angin. Kemungkinan lain, curah hujan berkaitan dengan pola angin yang membawa debu dari Sahara ke atmosfer atas, yang berfungsi seperti jalan tol menuju Amazon.

Pentingnya Studi untuk Masa Depan

Yu menekankan pentingnya studi ini untuk masa depan. "Debu memengaruhi iklim dan, pada saat yang sama, perubahan iklim juga akan memengaruhi debu," kata Hongbin Yu.

Sebagai peneliti, mereka mengajukan dua pertanyaan dasar: Berapa banyak debu yang terbawa? Dan bagaimana perubahan iklim memengaruhi jumlah debu yang melintasi Atlantik?

Berkat pengamatan debu atmosfer dalam bentuk 3D dari CALIPSO, para ilmuwan kini dapat mulai membuat model untuk memprediksi bagaimana debu tersebut akan memengaruhi iklim global.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan