
Pemkab Kudus Gencar Menata Birokrasi untuk Pelayanan yang Maksimal
Pemerulisan pelayanan publik menjadi fokus utama bagi Pemkab Kudus dalam beberapa waktu terakhir. Upaya ini dilakukan demi memberikan layanan yang optimal kepada masyarakat. Salah satu inisiatif yang dicanangkan oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, adalah Senyum Simpang Tujuh.
Senyum Simpang Tujuh bukan sekadar simbol lokasi alun-alun di Kabupaten Kudus. Lebih dari itu, ini merupakan praktik yang wajib dilakukan oleh setiap birokrat saat memberikan pelayanan kepada warga. Praktik ini melibatkan menarik bibir kanan dan kiri, menunjukkan tujuh gigi, dan menjaga senyuman selama tujuh detik. Tujuannya adalah agar warga merasa nyaman sejak awal interaksi dengan pemerintah daerah.
“Senyum Simpang Tujuh sebagai pengingat bahwa setiap aparatur harus melayani dengan sopan, santun, dan sepenuh hati. Pastikan masyarakat merasa nyaman karena dilayani dengan baik,” ujar Sam’ani saat berbicara di Pendapa Kudus, Selasa (16/12/2025).
Selain perbaikan pelayanan, infrastruktur fisik juga menjadi prioritas. Kudus, yang telah berkembang menjadi episentrum bagi daerah sekitarnya, membutuhkan infrastruktur yang memadai. Industri pengolahan tembakau atau produksi rokok kretek menjadi industri terbesar di Kudus. Dari data Badan Pusat Statistik, industri tersebut mampu menopang hingga 70,2 persen pertumbuhan ekonomi daerah. Sisanya berasal dari sektor pertanian, perdagangan, dan UMKM.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2024 Kudus mencapai Rp 145,6 juta, berada di posisi kedua setelah Kota Semarang dengan nilai PDRB per kapita Rp 156,67 juta. Kota Solo berada di posisi ketiga dengan nilai PDRB per kapita Rp 122,53 juta.
Sam’ani percaya bahwa dengan potensi ekonomi yang besar, Kudus perlu memiliki infrastruktur yang memadai. Hal ini penting untuk mendukung kelancaran mobilitas warga, terutama mereka yang tinggal di sekitar Kudus dan sering bekerja atau berbelanja di sini.
Untuk itu, pihaknya terus melakukan perbaikan infrastruktur jalan serta menjalin komunikasi aktif dengan pemerintah pusat dalam pembiayaan proyek fisik.
Perbaikan Sektor Pendidikan dan Kesehatan
Di bidang pendidikan, Sam’ani menggulirkan program tunjangan kesejahteraan guru swasta. Setiap guru swasta di Kabupaten Kudus, termasuk yang mengajar di madrasah diniah (madin), Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ), sekolah dasar (SD), dan pendidikan nonmuslim, akan mendapatkan tunjangan sebesar Rp 1 juta per bulan.
Sementara itu, di sektor kesehatan, Sam’ani berencana membangun rumah sakit tipe C di wilayah Kudus bagian utara. Tujuannya adalah untuk mendekatkan pelayanan kesehatan bagi warga yang tinggal di lereng Gunung Muria. RSUD dr Loekmono Hadi, rumah sakit yang ada saat ini, juga sedang diperbaiki infrastruktur dan pelayanannya.
RSUD dr Loekmono Hadi saat ini sedang membangun Gedung Stroke dan Onkologi setinggi lima lantai. Proyek ini dimulai sejak 14 Agustus 2025 dan direncanakan selesai pada 27 Desember 2025. Anggaran proyek ini sebesar Rp 44,6 miliar, bersumber dari dana cukai. Gedung ini akan menjadi pusat pelayanan stroke dan kanker, sehingga memudahkan akses warga Kudus dan sekitarnya ke layanan kesehatan tanpa harus pergi ke Semarang.
Dukungan dari Media Massa
Sam’ani berharap adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk media massa. Pemimpin Redaksi Tribun Jateng, Ibnu Taufik Juwariyanto, menilai rencana-rencana yang disampaikan oleh Sam’ani sudah progresif. Ia menyatakan siap terlibat dalam pembangunan Kudus tanpa mengurangi sikap kritis media.
“Tidak apa-apa. Bagi saya kritik itu vitamin, silakan saja,” kata Sam’ani.
Dengan berbagai inisiatif yang telah dijalankan dan rencana yang masih dalam proses, Kudus terus berupaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pelayanan yang ramah, infrastruktur yang memadai, serta peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar