
Perubahan yang Menggerus Budaya Ondel-Ondel
JAKARTA, aiotrade
Budaya Betawi yang khas dengan hiruk-pikuk musik tanjidor, rebana, dan tabuhan khas Betawi yang dahulu akrab terdengar dari sanggar-sanggar seni di Kampung Ondel-Ondel, Kramat Pulo, Senen, Jakarta Pusat, kini semakin jarang terdengar. Sejumlah sanggar Betawi di Kramat Pulo semakin sepi panggilan pentas, baik untuk acara hajatan, perayaan hari besar, maupun kegiatan budaya tingkat kelurahan hingga provinsi.
Sepinya pesanan ondel-ondel, panggilan tampil, dan makin menurunnya jumlah perajin membuat denyut kampung yang dikenal sebagai pusat ikon budaya Betawi itu tidak lagi sekuat satu dekade lalu. Identitas kampung sebagai “rumah” ondel-ondel semakin tergerus oleh perubahan zaman, ketatnya aturan soal aktivitas mengamen, serta minimnya dukungan pembinaan yang berkelanjutan.
Kehidupan Firli: Dari Warisan Ayah Hingga Kesulitan Ekonomi
Firli (44), salah satu perajin ondel-ondel yang mewarisi profesi dari ayahnya yang sudah wafat, menyebut kondisi sekarang jauh berbeda dibanding masa ketika sanggar dan perajin masih ramai pesanan. “Sekarang jarang banget ada yang pesan. Tahun ini saja tidak sampai 10 pasang yang saya buat,” kata Firli saat ditemui di rumah sekaligus bengkel kerjanya, Selasa (2/12/2025).
Menurut dia, bukan hanya pesanan pembuatan ondel-ondel yang menurun. Panggilan tampil untuk sanggar pun semakin jarang, sehingga sebagian warga akhirnya menggantungkan pendapatan pada aktivitas arak-arakan atau mengamen yang kini justru semakin dibatasi oleh regulasi ketertiban umum di Jakarta.
“Kalau enggak ada pesanan, paling kita nyewain ke anak-anak yang biasa mementu. Banyak anak putus sekolah juga, kita berdayain, daripada mereka keluyuran,” kata Firli.
Di bengkel kecil miliknya yang dipenuhi rangka besi, kepala ondel-ondel berbahan resin, dan kain warna-warni, Firli bercerita panjang soal naik turunnya profesinya sebagai perajin. Ia mulai meneruskan pekerjaan sang ayah sekitar 2017, meski sejak kecil sudah biasa membantu.
“Otomatis dari orang tua ke anak,” ujarnya.
Kini, produksi ondel-ondel tidak lagi rutin seperti dulu. Pesanan datang sporadis dari sekolah, acara konten, atau organisasi tertentu. Harga sepasang ondel-ondel standar dua meter berkisar Rp 3–3,5 juta, sedangkan ukuran besar bisa sampai Rp 4 juta. Namun permintaan itu tidak sebanding dengan biaya hidup.
“Yang lebih pasti itu setoran dari anak-anak yang nyewa ondel-ondel buat jalan. Tapi sehari paling dapat 20–30 ribu. Sekarang yang jalan paling 4 grup. Dulu 12–13 grup,” katanya.
Firli menyebut pembatasan wilayah “ring 1” wilayah steril tempat pengamen dilarang masuk membuat ruang gerak warga kian sempit. “Kalau ketangkap dibawa ke Dinsos, dua hari. Kemarin sepupu saya kena. Dulu bisa main bebas, sekarang patroli sering,” katanya.
Harapan Warga: Menjadi Kampung Wisata
Menurut Firli, pemerintah perlu menghadirkan solusi konkret jika ingin menertibkan pengamen ondel-ondel. “Saya sesalin pemerintah nerapin aturan tapi nggak kasih wadah. Ondel-ondel dilestarikan, tapi ngamen dilarang tanpa solusi. Kasihlah bantuan modal atau kegiatan seni. Atau jadikan kampung ini kampung wisata,” ujarnya.
Data Firli menunjukkan sanggar kini biasanya dibayar Rp 500 ribu–Rp 1 juta untuk acara biasa, dan Rp 1,5–2 juta untuk hajatan. Satu rombongan membawa 12–13 orang, sehingga pendapatan per orang hanya sekitar Rp 75–100 ribu, ditambah makan.
“Kalau main ikut pengantin, selesai jam 2–3 sore. Itu sudah paling mending,” kata Firli.
Sementara Ketua RT 11 RW 4, Endang (62), mengakui banyak perubahan yang terjadi di kampung ini. “Dulu perajin itu banyak. Awalnya empat orang tahun 90-an. Ramai yang pesan buat arak-arakan, hajatan. Makanya disebut Kampung Ondel-Ondel. Sekarang tinggal dua orang yang benar-benar bikin,” ujar Endang saat ditemui di rumahnya.
Menurut Endang, sebagian besar warga kini tidak lagi memproduksi ondel-ondel dari awal. Mereka lebih banyak memakai atau menyewa yang sudah ada, karena modal untuk produksi cukup besar dan pembelinya semakin sedikit.
Peran Budayawan dalam Pelestarian Budaya
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, menilai perubahan besar yang terjadi pada ondel-ondel justru terjadi di level pemahaman masyarakat. “Ondel-ondel tidak pernah berubah makna. Yang berubah adalah pemahaman dan pemanfaatan masyarakat atas ondel-ondel,” kata Yahya saat dihubungi aiotrade.
Menurutnya, pemanfaatan ondel-ondel kini terbelah menjadi dua. Pertama pemanfaatan kreatif untuk kebutuhan budaya dan ekonomi yang tetap mengikuti pakem. Kedua, pemanfaatan yang menyimpang makna karena digunakan sekadar untuk mencari uang atau bertahan hidup.
“Pemanfaatan yang kreatif dengan pakem yang benar itu baik dan berguna. Tapi pemanfaatan oleh oknum yang semata-mata cari duit atau survive hidup, itu menghina dan merendahkan,” ujarnya.
Ia menilai pemerintah dan masyarakat perlu kembali memperkuat pendidikan budaya, agar ondel-ondel tidak hanya dipandang sebagai alat mencari uang, melainkan sebagai simbol perlindungan yang sarat makna.
Penertiban Pengamen dan Solusi yang Diharapkan
Kasatpol PP Jakarta Pusat, Purnama Hasudungan, menegaskan bahwa ondel-ondel adalah ikon budaya Betawi yang harus dijaga. “Namanya ikon, wajib kita jaga dan ditempatkan pada tempatnya, bukan dijadikan hal-hal yang membuat estetika kurang baik,” kata Purnama saat dihubungi.
Menurut dia, pengamen ondel-ondel yang beraksi di jalanan melanggar ketertiban umum sebagaimana diatur dalam Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, terutama Pasal 40 yang melarang aktivitas mengamen serta memberi uang kepada pengamen.
“Kita akan memberikan pemahaman dan penghalauan kepada mereka yang melanggar. Bahwa mereka punya tempat untuk mengekspresikan keahliannya,” ujar Purnama.
Namun, pernyataan ini bertolak belakang dengan pengalaman warga Kampung Ondel-Ondel yang mengaku belum pernah disediakan wadah yang jelas, baik berupa panggung seni, ruang ekspresi, maupun program pembinaan berkelanjutan.
“Kalau mau larang boleh, tapi kasih solusi. Jangan cuma tertibkan. Kita di sini hidup dari sini 15 tahun,” kata Firli.
Harapan Warga Jadi Kampung Wisata
Endang berharap pemerintah dapat melihat peluang pengembangan kawasan ini. “Kalau diperhatikan pemerintah, warga bisa berdaya. Dilestarikan saja. Jangan cuma pas 17 Agustus atau tahun baru baru ramai. Selebihnya sepi,” ujarnya.
Firli punya harapan serupa. Ia membayangkan Kampung Ondel-Ondel menjadi kawasan wisata budaya yang menghadirkan, galeri perajin, lokakarya membuat ondel-ondel, pentas rutin sanggar Betawi, sentra UMKM suvenir Betawi, dan ruang apresiasi seni untuk anak-anak.
“Banyak yang salah paham. Mereka lihatnya ondel-ondel ngamen. Padahal di sini pusat pelestarian langsung. Sekarang ondel-ondel baru makin jarang. Harusnya kampung ini dilirik pemerintah. Potensinya besar,” katanya.
Kampung Ondel-Ondel kini berada di persimpangan antara melestarikan budaya Betawi dan realitas ekonomi warganya yang bergantung pada ondel-ondel dalam berbagai bentuk pemanfaatannya. Di satu sisi, warga ingin menjaga identitas kampung ini sebagai pusat budaya Betawi. Di sisi lain, mereka menghadapi kondisi ekonomi yang membuat aktivitas seperti mengamen tidak mudah dihentikan begitu saja.
“Kalau mau dilestarikan, ya dibantu. Kalau mau tertib, ya dikasih solusi. Kampung ini bisa hidup lagi kalau pemerintah lihat kami bukan cuma pas ada acara,” kata Firli.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar