Satu Bulan Pasca Banjir, 5.336 Jiwa Warga Aceh Timur Masih Mengungsi

Satu Bulan Pasca Banjir, 5.336 Jiwa Warga Aceh Timur Masih Mengungsi

Dampak Banjir Bandang di Aceh Timur

Sebulan setelah bencana hidrometeorologi yang menimpa Aceh Timur, sebanyak 5.336 jiwa masih mengungsi akibat kehilangan rumah mereka yang terbawa arus banjir. Data terbaru yang diterima dari posko komando darurat di Idi Rayeuk mencatat bahwa 5.33 jiwa dari 1.460 kepala keluarga (KK) masih tinggal di 35 titik pengungsian.

Banjir yang terjadi pada 26 November 2025 lalu telah menelan korban jiwa sebanyak 57 orang dan memengaruhi sebanyak 290.582 jiwa. Bencana ini tidak hanya menyebabkan kematian, tetapi juga merusak infrastruktur di beberapa kecamatan dalam wilayah Aceh Timur. Banyak pengungsi kehilangan rumah, barang berharga, serta pekerjaan mereka akibat banjir bandang ini.

Kerusakan infrastruktur dan sektor ekonomi bahkan mencapai angka fantastis, yaitu Rp 7,20 triliun. Kerugian ini meliputi beberapa sektor antara lain:

  • Sektor perikanan mengalami kerusakan dan kerugian hingga Rp 2,64 triliun
  • Lahan pertanian rusak mencapai 8.858 hektare
  • Kerugian di sektor pangan dan ekonomi mencapai Rp 21,5 miliar

Selain itu, sebanyak 22.347 unit rumah mengalami kerusakan, dengan rincian sebagai berikut:

  • 4.640 unit rusak berat
  • 5.458 unit rusak sedang
  • 12.239 unit rusak ringan

Infrastruktur publik juga mengalami kerusakan berat, termasuk 24 kecamatan dan 444 gampong. Hingga saat ini, masih banyak titik kerusakan fasilitas umum seperti jembatan dan akses jalan yang putus akibat longsor dan dihantam banjir bandang. Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Timur masih terus bekerja untuk membersihkan jalur akses agar transportasi dapat kembali lancar.

Masyarakat di Aceh Timur saat ini masih membutuhkan beberapa kebutuhan mendesak di tenda pengungsian, seperti bahan makanan pokok, susu anak, serta popok bayi. Selain itu, masyarakat juga kesulitan mencari air bersih. Oleh karena itu, di beberapa titik pengungsi dibutuhkan mobil tangki atau tandon air.

Para wanita di kamp pengungsian juga membutuhkan pembalut, obat-obatan, dan peralatan medis. Kondisi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih sangat membutuhkan bantuan dari pihak-pihak terkait untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan