
Permasalahan Banjir di Kota Malang
Kota Malang, yang dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata, sering menghadapi masalah banjir dan genangan air. Menurut Prof. Dr. Ir. Muhammad Bisri, Guru Besar Teknik Pengairan Universasi Brawijaya (UB), kepadatan penduduk riil di Kota Malang jauh melampaui data statistik resmi. Populasi riil diperkirakan mencapai 1,2 hingga 1,5 juta jiwa, sementara data dari Badan Pusat Statistik (BPS) hanya menunjukkan angka sekitar 850 ribu jiwa. Hal ini disebabkan oleh tingginya jumlah mahasiswa yang masuk ke 62 perguruan tinggi di kota tersebut.
Lonjakan populasi ini menyebabkan alih fungsi lahan yang besar-besaran. Kawasan resapan air berubah menjadi pemukiman, infrastruktur, dan bangunan komersial. Akibatnya, permukaan kota semakin padat dan tertutup beton serta aspal. Koefisien pengaliran (C) di Kota Malang saat ini hampir mencapai angka 1, yang berarti 100% air hujan tidak meresap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir di permukaan menjadi limpasan.
Solusi Teknis: Saluran Drainase Berbasis Sumur Injeksi (SDBSI)
Untuk mengurangi dampak banjir, Prof. Bisri mengembangkan teknologi Saluran Drainase Berbasis Sumur Injeksi (SDBSI). Prinsip dasar SDBSI adalah menangkap dan menginjeksikan air hujan dari saluran drainase permukaan ke dalam sumur resapan yang dalam. Dengan demikian, air dialirkan kembali ke dalam tanah untuk proses recharge air tanah.
"Teknologi ini bertujuan memutus aliran air yang langsung menuju jalan raya dan saluran primer. Air dialihkan untuk diresapkan, sehingga mengurangi beban sistem drainase utama dan sekaligus mengisi cadangan air tanah," jelas Prof. Bisri.
SDBSI telah diterapkan di beberapa titik rawan genangan, termasuk di lingkungan Prof. Bisri sendiri dan beberapa sekolah di Kota Malang. Teknologi ini berhasil mengurangi volume limpasan air ke jalan raya.
Kebijakan Makro dan Gerakan Bersama
Di sisi lain, Pemerintah Kota Malang terus mendorong upaya kolektif untuk mengatasi banjir. Wali Kota Wahyu Hidayat menghadiri Gerakan Angkat Sedimen dan Sampah (GASS) dan menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah seremonial, melainkan langkah konkret mitigasi banjir. Ia mengajak warga menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.
Prof. Bisri menekankan bahwa solusi jangka panjang harus multidimensi. Empat langkah utama yang ia sarankan antara lain:
- Pengendalian arus masuk penduduk – dengan membatasi pertumbuhan penduduk secara terencana.
- Pengendalian alih fungsi lahan – dengan memperketat Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).
- Penuntasan masterplan drainase kota – agar sistem drainase dapat berfungsi optimal.
- Peningkatan kesadaran masyarakat – melalui revitalisasi budaya kerja bakti.
Kolaborasi untuk Kota Malang yang Lebih Resilien
Penanganan banjir di Kota Malang memerlukan pendekatan komprehensif. Di satu sisi, kebijakan pengendalian penduduk dan tata ruang yang ketat mutlak diperlukan. Di sisi lain, inovasi teknologi seperti SDBSI dan gerakan membersihkan saluran (GASS) menjadi aksi nyata yang dapat segera dilakukan.
Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mewujudkan Kota Malang yang lebih resilien dalam pengelolaan air. Dengan kombinasi kebijakan makro dan solusi teknis, harapan untuk mengurangi risiko banjir dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat semakin terbuka.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar