
Amerika Serikat kembali memperlihatkan tindakan keras terhadap Venezuela. Pada hari Sabtu (3/1), militer AS melakukan serangan di Caracas, ibu kota negara tersebut, pada pagi hari waktu setempat. Ledakan terjadi tidak hanya di Caracas, tetapi juga di beberapa wilayah lain seperti Miranda, Aragua, dan La Guaira. Menurut laporan dari Associated Press (AP), setidaknya tujuh ledakan terdengar di ibu kota Venezuela. Selain itu, pesawat tempur AS terlihat terbang rendah sejak pukul 02.00 dini hari.
Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) mengeluarkan peringatan untuk semua pesawat AS yang beroperasi di wilayah udara Venezuela. Peringatan ini dikeluarkan pada pukul 01.00 waktu AS bagian timur (EST). Dalam pernyataannya, FAA melarang seluruh pesawat AS beroperasi di semua ketinggian dalam wilayah udara Venezuela.
Selain serangan udara, pasukan khusus elite AS, Delta Force, juga menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, di hari yang sama. Presiden AS Donald Trump mengakui tindakan tersebut melalui media sosial Truth Social. Ia menyatakan bahwa AS telah berhasil melaksanakan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan pemimpinnya, serta bahwa Maduro dan istrinya telah ditangkap dan dibawa keluar dari negara tersebut.
Blokade Kapal Tanker Minyak Venezuela

Sebelum serangan hari ini, AS sudah lebih dulu melakukan blokade terhadap kapal-kapal tanker minyak Venezuela. Pemerintahan Trump menegaskan bahwa aksi ini dilakukan karena sedang berperang melawan narkoba yang dibawa dari Venezuela. Serangan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba dari Venezuela ke AS telah menewaskan ratusan orang.
Trump menyampaikan pernyataan tersebut kepada wartawan pada Senin lalu, membenarkan komentar yang ia sampaikan sebelumnya. Pernyataan ini menjadi pertama kalinya AS mengumumkan serangan darat di Venezuela. Sebelumnya, pemerintahan Trump telah meningkatkan tekanan pada pemerintahan Presiden Nicolas Maduro dengan mengebom kapal-kapal di wilayah tersebut dan menerapkan blokade untuk mengganggu ekspor minyak negara tersebut.
Tindakan Balasan Venezuela
Sebagai respons terhadap tindakan AS, Venezuela mulai menutup sumur-sumur minyak di wilayah yang memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Petroleos de Venezuela SA (PDVSA) mulai menutup sumur-sumur di Sabuk Orinoco pada 28 Desember karena perusahaan penyulingan milik negara tersebut kehabisan ruang penyimpanan dan persediaan membengkak.
PDVSA berencana mengurangi produksi di Sabuk Orinoco setidaknya 25 persen menjadi 500.000 barel per hari. Penurunan ini mewakili pengurangan 15 persen dari total produksi Venezuela sebesar 1,1 juta barel per hari.
Pertanda Peringatan bagi Nicolas Maduro

Keputusan ini merupakan tanda peringatan bagi Nicolas Maduro, yang selama blokade telah berupaya mempertahankan ekspor yang menjadi inti dari perekonomian negara Amerika Selatan tersebut. Menonaktifkan sumur minyak dipandang sebagai upaya terakhir karena tantangan operasional dan biaya tinggi untuk mengaktifkannya kembali, kata salah satu sumber.
Menurut salah satu sumber, PDVSA pada 23 Desember menyetujui gagasan untuk mengurangi produksi mulai 28 Desember. Rencananya adalah menutup sumur-sumur di divisi minyak mentah ekstra berat di Sabuk Orinoco, Junin, kemudian beralih ke sisanya, Ayacucho dan Carabobo, yang mengandung minyak yang kurang berat.
China adalah pembeli minyak utama Venezuela. AS memberlakukan sanksi terhadap Venezuela pada tahun 2019 dan bulan ini Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade militer dengan alasan hal itu diperlukan untuk menghentikan kartel narkoba.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar