Sejarah PSM di Balik Kemenangan Ramang: Sjamsoeddin Djanggo, Sang Ayah Menhan

Sejarah PSM di Balik Kemenangan Ramang: Sjamsoeddin Djanggo, Sang Ayah Menhan

Sejarah PSM Makassar yang Tersembunyi

PSM Makassar bukan sekadar klub sepak bola. Ia adalah bagian dari napas sejarah Sulawesi Selatan. Sejak berdiri pada 2 November 1915, Juku Eja sudah mengangkat tujuh gelar kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Gelar pertama datang pada musim 1956–1957, masa keemasan Perserikatan. Sosok legenda Andi Ramang menjadi ikon lapangan.

Namun, di balik gemuruh tribun waktu itu, ada satu tokoh yang jarang disebut: Letkol (Purn) Sjamsoeddin Djanggo Koernia, manajer PSM Makassar saat merengkuh gelar perdana. Dialah ayah dari Menteri Pertahanan RI, Jenderal (Hor) M Sjafrie Sjamsoeddin.

“Beliau yang mendampingi Ramang saat PSM juara pertama kali, 1957,” kata penulis Ramang Macan Bola, M Dahlan Abubakar, ketika ditemui di halaman Kantor Tribun-Timur, Makassar, Rabu (10/12/2025). Di tangan Sjamsoeddin Djanggo, PSM berubah menjadi rumah bagi para pemain terbaik Indonesia. Ramang, Maulwi Saelan, Suardi Arlan, Rasyid Dahlan, Nursalam hingga Sunar Arlan semua berada dalam satu barisan.

PSM tampil superior di putaran final. Dari enam pertandingan, lima dimenangkan dan satu berakhir imbang. Mereka mencetak 23 gol dan hanya kemasukan tujuh, unggul tiga poin dari Persib Bandung di posisi kedua.

Perjalanan Sjafrie Sjamsoeddin

Selasa pagi (9/12/2025), lebih dari 4.000 mahasiswa memenuhi Baruga Andi Pangeran Pettarani, Universitas Hasanuddin. Di podium, Sjafrie Sjamsoeddin membuka kuliah umum tanpa teks, dengan suara yang bergetar oleh nostalgia. “Saya tak pernah menyangka bisa berdiri di sini,” ujarnya. Ini adalah kunjungannya yang kedua setelah 10 tahun lalu ia hadir sebagai Wakil Menteri Pertahanan.

Ia lalu mengajak hadirin kembali ke enam dekade silam. “Usia delapan tahun, saya suka masuk ke kampus lama Unhas, menemani kakak saya bersepeda. Apa itu nama daerahnya…?” “Barayya!” jawab audiens serempak. Sjafrie tersenyum. “Iya, Barayya. Kakak saya seangkatan Pak JK.”

Kisah itu kemudian dikonfirmasi oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Kakaknya itu Jusuf Sjamsoeddin. Kami satu sekolah di SMA 3, sama-sama aktivis di Unhas,” kata JK melalui juru bicaranya, Husein Abdullah.

Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan

Sjafrie adalah anak keenam dari 11 bersaudara, putra pasangan Letkol TNI (Purn) Sjamsoeddin Koernia, serdadu Bugis dari Bone dan Hj Hamdana, perempuan terdidik keturunan Makassar–Takalar. Saat ayahnya berdinas, keluarga pindah ke Jakarta. Sjafrie kemudian menamatkan SMA di Jakarta sebelum masuk Akademi Militer (Akmil) Magelang.

Tahun 1973, ia dipercaya menjadi Komandan Korps Taruna, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono dan seangkatan dengan Prabowo Subianto. Sejak lulus Akmil 1974, Sjafrie bergabung dengan Kopassus. Ia diterjunkan dalam berbagai operasi, termasuk Operasi Flamboyan di Timor Timur (1976, 1984, 1990) dan Operasi Nanggala XXI di Aceh tahun 1977.

Bagi Sjafrie, Unhas bukan sekadar institusi akademik. “Sejak masa pemberontakan Kahar Muzakkar, kampus ini selalu dijaga TNI,” ujarnya. “Unhas adalah kawah candradimuka yang melahirkan tokoh-tokoh Sulsel, termasuk Pak Jusuf Kalla.”

Penghargaan dan Kontribusi

Ia mengaku bangga menjadi orang Sulsel kedua yang menjabat Menteri Pertahanan, menyusul Jenderal M Jusuf, Menhan ke-15 (1978–1983). Sjafrie sendiri adalah Menhan ke-27, dilantik 21 Oktober 2024.

Usai memberikan kuliah umum, Sjafrie melanjutkan perjalanan ke TPU Panaikang. Di sana, ia berziarah ke makam Jenderal M Jusuf, figur yang ia hormati, yang namanya selalu menyertai kisah perjalanan hidupnya.

Di sela langkah pelan di pemakaman itu, terasa jelas: sejarah PSM Makassar, Unhas, dan perjalanan hidup Sjafrie Sjamsoeddin terikat oleh benang yang sama akar perjuangan, tanah kelahiran, dan kenangan keluarga yang tak pernah hilang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan