Selalu Banjir, Warga Gunungsari Waled Cirebon Terjebak Kembali

Selalu Banjir, Warga Gunungsari Waled Cirebon Terjebak Kembali

Desa Gunungsari Terendam Banjir, Warga Kehilangan Harapan

Desa Gunungsari, Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon, kembali menjadi korban banjir yang terjadi secara berulang. Wilayah ini seolah tak pernah benar-benar pulih dari ancaman air yang datang setiap kali hujan deras mengguyur. Pada Rabu (31/12/2025), genangan air kembali menggenangi rumah-rumah warga, memutus akses jalan desa, dan melumpuhkan aktivitas sehari-hari.

Banjir ini bukanlah kejadian pertama. Dalam seminggu terakhir, wilayah timur Kabupaten Cirebon kembali dihantam banjir tiga kali. Beberapa kecamatan seperti Waled, Gebang, Plered, Weru, dan Pangenan terdampak. Namun, Kecamatan Waled menjadi yang paling parah, dengan ribuan rumah terendam air setinggi 80 sentimeter hingga 1 meter.

Pantauan di Desa Gunungsari menunjukkan bahwa genangan air masih mengelilingi permukiman warga. Jalan desa tidak lagi terlihat, karena tertutup oleh air berwarna kecokelatan yang terus mengalir deras. Warga hanya bisa bertahan di dalam rumah, kebingungan untuk mencari tempat aman karena hampir seluruh wilayah desa terendam banjir.

Menurut pengakuan warga, banjir kali ini lebih parah dibanding sebelumnya. Selain intensitas hujan yang tinggi, meluapnya Sungai Ciberes akibat kiriman air dari wilayah hulu Kabupaten Kuningan turut memperparah keadaan.

Suherti (60), warga Desa Gunungsari, menceritakan bahwa air mulai masuk ke rumahnya sejak Selasa petang, tepat setelah waktu Magrib. Ketinggian air terus bertambah hingga merendam bagian dalam rumah. Ia mengatakan bahwa air yang meluap dari Sungai Ciberes semakin deras hingga akhirnya masuk ke permukiman warga setelah bendungan kecil di pintu masuk jebol.

“Kemarin sore abis magrib airnya masuk. Ketinggian air tadinya 60 sentimeter dari sungai ambit,” ujar Suherti saat ditemui di rumahnya, Rabu (31/12/2025) siang. Ia menjelaskan bahwa ketinggian air di dalam rumah mencapai 100 sentimeter, sedangkan di luar rumah, di jalanan, mencapai satu meter lebih.

Hingga Rabu siang, air belum menunjukkan tanda-tanda surut. Warga hanya bisa bersabar sambil mengamankan barang-barang yang masih bisa diselamatkan ke tempat yang lebih tinggi. “Sampai sekarang belum surut juga, paling nanti malam surutnya,” ujarnya dengan nada pasrah.

Suherti menegaskan bahwa banjir yang melanda desanya bukan semata-mata karena hujan lokal, melainkan air kiriman dari wilayah Kuningan yang membuat Sungai Ciberes tak mampu menampung debit air. “Ya air dari luapan sungai. Ini air kiriman juga dari Kuningan,” katanya.

Banjir yang terus berulang membuat warga lelah. Bantuan logistik bukan lagi menjadi harapan utama. Yang paling diinginkan warga hanyalah solusi agar banjir tidak terus datang setiap hujan turun. “Ya harapannya, agar tidak banjir-banjir lagi a, itu harapannya. Kalau bantuan mah enggak begitu, yang penting tidak banjir lagi. Soalnya di sini setiap turun hujan banjir,” ujarnya.

Hingga kini, arus deras Sungai Ciberes masih mengalir dan membanjiri pemukiman warga Desa Gunungsari. Warga memilih bertahan di rumah masing-masing, meski dihantui kekhawatiran air kembali naik. Banjir pun belum menunjukkan tanda-tanda akan surut dalam waktu dekat.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan