
Seniman Bali Berlaga di Kompetisi Patung Es Internasional
Seniman asal Badung, Bali, yang tergabung dalam Himpunan Seniman Pecatu (HSP) akan berlaga dalam kompetisi seni ukir patung es dunia. Mereka akan mewakili Indonesia dalam ajang The 28th China Harbin International Snow Sculpture Competition yang akan berlangsung di Harbin pada awal Januari 2026. Kompetisi ini menjadi ajang bergengsi bagi seniman dari berbagai negara, termasuk yang berasal dari daerah bersalju.
Meskipun seniman Indonesia berasal dari wilayah tropis, mereka tidak gentar menghadapi tantangan tersebut. Tim HSP menunjukkan semangat dan kreativitas yang tinggi dalam mempersiapkan karya seni yang akan ditampilkan. Koordinator Tim, I Nyoman Sungada, menjelaskan bahwa tim yang diberi nama Garuda I akan bertindak sebagai delegasi Indonesia dalam kompetisi yang berlangsung pada 6–9 Januari 2026.
Tim Garuda I terdiri dari empat anggota, yaitu Nyoman Sungada, Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan Gede Agus Anggara Putra. Mereka akan berangkat ke China pada 2 Januari 2026 untuk melakukan adaptasi cuaca ekstrem yang diperkirakan mencapai minus 16 derajat Celsius. Selain itu, mereka juga mempersiapkan peralatan dan strategi pengerjaan.
Tema yang diusung dalam kompetisi tahun ini adalah Dewi Dewantari, figur sakral yang merepresentasikan kesuburan, penyelamatan, dan keseimbangan alam semesta. Tema ini diangkat dari karya patung yang sebelumnya dibuat oleh Sungada di kawasan Batu Belig, Kerobokan. Pemilihan tema sempat membuat dirinya bingung selama dua minggu, hingga akhirnya ia berdoa dan mendapatkan jawaban pembuatan patung Dewi Dewantari.
Menurut Sungada, filosofi Dewi Dewantari masih relevan dengan kondisi dunia saat ini yang penuh ketidakpastian. Dewi Dewantari digambarkan dengan sepuluh tangan yang memegang berbagai simbol seperti cakra sebagai perputaran alam, daun sebagai alam, bayi sebagai penciptaan, uang sebagai rezeki, lontar sebagai pengetahuan, dan tirta amerta sebagai keabadian.
Persiapan teknis menjadi tantangan tersendiri karena kompetisi menggunakan es berukuran raksasa berbentuk silinder dengan diameter tiga meter dan tinggi empat meter. Proses latihan dilakukan dengan berbagai siasat, termasuk menggunakan freezer sebesar kamar tidur dan media styrofoam berukuran lebih kecil setinggi 1,5 meter.
Koordinator Tim juga menjelaskan bahwa persiapan dilakukan selama tiga bulan sejak tahap pencarian ide agar setiap anggota tim memahami perannya masing-masing. Mereka juga membuat miniatur, sketsa berukuran detail, serta latihan pembagian kerja jauh hari sebelumnya.
Soal pemilihan seniman, Sungada mengungkapkan bahwa awalnya ia menerapkan konsep regenerasi dengan melibatkan dua seniman berpengalaman dan dua seniman muda. Namun, akhir-akhir ini mereka tidak dapat melaksanakan konsep tersebut karena terbentur dana. Oleh karena itu, keberangkatan kali ini hanya melibatkan seniman-seniman yang benar-benar siap.
Dalam kompetisi ini, Sungada menargetkan setidaknya bisa menembus tiga besar. Dari pengalamannya berdiskusi dengan para juri internasional, dua aspek terpenting dalam kompetisi ini adalah orisinalitas desain dan kekuatan filosofi.
Tim Indonesia pernah meraih satu gelar juara pertama, empat kali juara tiga, dua penghargaan best skill, tiga penghargaan commemorative prize, serta satu kali kegagalan pahit di Sapporo, Jepang, akibat kesalahan membaca perubahan suhu yang menyebabkan patung hancur sebelum penilaian.
Keberangkatan kali ini juga didukung dana pribadi sebesar Rp50 juta dari Bupati Badung, di tengah keterbatasan pendanaan yang selama ini menjadi kendala. Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa memberikan apresiasi dan dukungan kepada Seniman Pecatu serta berdoa agar kembali menorehkan prestasi yang dapat mengharumkan nama Badung, Bali, dan Indonesia di kancah internasional.
Prestasi dan pengalaman yang didapat selama mengikuti ajang ini diharapkan dapat dikembangkan bagi seniman-seniman muda di Badung. Selaku kepala daerah, ia sangat bangga karena putra daerah Badung mampu berprestasi di forum internasional. Pemerintah Badung telah menyiapkan program bagi masyarakat berprestasi dengan nilai maksimal Rp100 juta sebagai bentuk apresiasi pemerintah kepada warga Badung yang berprestasi.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar