Senja di Tahta Gading: Rektor Angkuh di Ujung Tanduk, Jembatan Politik Terputus

Senja di Tahta Gading: Rektor Angkuh di Ujung Tanduk, Jembatan Politik Terputus

Kekuasaan yang Terlalu Berlebihan

Di bawah langit yang mendung di atas Menara Gading, seorang rektor yang dikenal sebagai "Raja di Istana Gading" kini menghadapi badai politik yang lebih ganas dari yang pernah ia bayangkan. Prof. Dr. Gaklakulagi, sang rektor yang sedang berjuang untuk mempertahankan posisinya dalam periode kedua, tampaknya lupa bahwa kekuasaan yang terlalu besar bisa menjadi racun bagi nurani.

Pemimpin ini dikenal dengan gaya kepemimpinan yang keras dan tidak ramah. Ia membangun tembok tinggi bukan jembatan, sehingga menjauhkan diri dari wajah-wajah yang terasing. Bahkan, ia mulai ditinggal oleh kawan-kawannya karena sikap angkuhnya yang membuat banyak orang merasa tidak dihargai.

Strategi Politik yang Tidak Efektif

Ketika mencoba memperoleh dukungan dari anggota senat, rektor petahana menggunakan pendekatan yang disebut sebagai "Bansos Politik". Dana institusi digunakan sebagai alat untuk membeli suara anggota senat, dengan memberikan perjalanan dinas yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kesulitan merebut suara mereka. Ini menciptakan diskriminasi yang sangat jelas, di mana anggota senat yang dianggap sulit dirayu diberi paket perjalanan mewah ke luar negeri, sementara yang lain hanya diberi perjalanan lokal.

Pemilahan Anggota Senat

  • Jatah Premium (Luar Negeri + Istri): Anggota senat yang dianggap paling sulit dirayu diberi perjalanan dinas mewah ke luar negeri bersama istri.
  • Jatah Menengah (Jawa-Sumatera): Mereka yang agak jinak namun masih memerlukan sentuhan diberi perjalanan domestik ke Pulau Jawa dan Sumatera.
  • Jatah Lokal (Sulawesi): Anggota senat yang sudah dicap tunduk dan mudah ditundukkan hanya diberi perjalanan dinas di seputar Sulawesi.

Dengan demikian, para anggota senat yang seharusnya menjadi garda terdepan integritas akademik kini diperlakukan layaknya kaum duafa yang menanti uluran tangan kekuasaan.

Kecemasan dan Kegelapan

Pemimpin yang lupa diri akan kehilangan segalanya. Rektor petahana harus menghadapi kenyataan bahwa tahta gadingnya mungkin akan segera menemukan senjanya, diiringi bisikan pahit dari mereka yang dulu ia anggap remeh. Kekuasaan yang seharusnya menjadi amanah justru menjelma menjadi racun yang mematikan nurani.

Kritik terhadap Sistem yang Tidak Adil

Anggota senat yang dianggap sebagai barisan penentang atau musuh politik rektor sama sekali tidak mendapatkan alokasi perjalanan dinas. Mereka seolah diumumkan sebagai non-penerima manfaat karena tidak kooperatif dengan agenda kekuasaan. Perjalanan dinas yang seharusnya menjadi fasilitas untuk peningkatan kapasitas institusi telah direduksi fungsinya menjadi alat gratifikasi berbalut legalitas.

Harapan untuk Pemulihan Marwah

Masyarakat akademik, yang lelah menyaksikan drama otoritarianisme, kini mendesak agar rektor yang baru kelak tidak hanya sekadar menggantikan posisi, tetapi juga menjadi "Juru Damai dan Juru Bersih" sejati. Tugas pertama dan terpenting bagi rektor penerus adalah menarik semua duri kezaliman yang telah ditancapkan oleh pendahulunya.

Audit Total untuk Memastikan Transparansi

Selain pemulihan moral, harapan besar juga tertuju pada audit total atas seluruh paket proyek yang dikelola di bawah bayang-bayang kekuasaan. Jika ambisi kekuasaan periode kedua telah membutakan mata hingga diduga tega menggunakan dana Rp650 juta sebagai harga beli suara anggota senat, maka sangat mungkin dana universitas lainnya juga telah menjadi sumur tanpa dasar bagi penyalahgunaan.

Kesimpulan

Akhir masa jabatan seorang pemimpin yang lupa diri harus menjadi penanda bahwa siklus kezaliman telah berakhir. Ini adalah momentum emas bagi Menara Gading untuk menegakkan kembali panji kejujuran dan etika akademik, agar kelak, tidak ada lagi korban yang bergelimpangan hanya demi memuaskan ambisi seorang penguasa.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan