
Serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela, termasuk penangkapan Presiden Nicolas Maduro, diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap harga minyak mentah di pasar global. Hal ini karena Venezuela merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Berdasarkan data dari BP Statistical Review of World Energy Report, Venezuela memiliki cadangan minyak mentah sebesar 303 miliar barel. Angka ini mencakup sekitar sepertiga dari total cadangan minyak mentah dunia.
Sebelum serangan AS terjadi, harga minyak mentah telah mengalami penurunan. Pada Jumat (2/1), harga minyak mentah Brent turun 10 sen menjadi USD 60,75 per barel, sedangkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga turun 10 sen menjadi USD 57,32 per barel. Meskipun demikian, kondisi ini bisa berubah drastis jika serangan AS terhadap Venezuela memengaruhi pasokan minyak secara langsung.
Menurut sumber dari Petróleos de Venezuela, S.A. (PDVSA), produksi dan penyulingan minyak Venezuela masih berjalan normal pada hari Sabtu (3/1). Tidak ada kerusakan yang dilaporkan terhadap infrastruktur minyak negara tersebut. Namun, pelabuhan La Guaira di dekat Caracas, yang menjadi target serangan AS, mengalami kerusakan parah. Meskipun begitu, pelabuhan ini tidak digunakan untuk ekspor minyak.
Sebelum serangan terjadi, Presiden AS Donald Trump meningkatkan tekanan terhadap Maduro dengan menjatuhkan sanksi terhadap empat perusahaan dan kapal tanker minyak terkait. Menurut pihak AS, perusahaan-perusahaan tersebut beroperasi di sektor minyak Venezuela. Langkah ini menyebabkan ekspor minyak Venezuela pada bulan lalu menurun menjadi sekitar setengah dari 950.000 barel per hari (bpd) yang dikirim pada bulan November.
Akibatnya, banyak pemilik kapal memilih untuk mengalihkan rute pelayaran mereka menjauh dari perairan Venezuela. Kondisi ini memicu lonjakan persediaan minyak mentah dan bahan bakar di tangan PDVSA. Untuk menghindari pemangkasan produksi minyak atau aktivitas pengilangan, PDVSA terpaksa memperlambat pengiriman di beberapa pelabuhan serta menyimpan minyak di atas kapal tanker.
Di sisi lain, sistem administrasi PDVSA masih belum pulih sepenuhnya dari serangan siber yang terjadi pada Desember lalu. Serangan tersebut memaksa perusahaan untuk mengisolasi terminal, ladang minyak, dan kilang dari sistem pusat. Akibatnya, operasional sempat dijalankan menggunakan pencatatan manual.

Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar