Sering Melewatkan Jam Makan? Ini Dampaknya pada Tubuhmu

Sering Melewatkan Jam Makan? Ini Dampaknya pada Tubuhmu

Dampak Negatif Kebiasaan Terlambat Makan pada Kesehatan

Kebiasaan terlambat makan sering kali dianggap sebagai hal yang biasa dan tidak terlalu berdampak. Namun, jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan ini bisa menimbulkan berbagai masalah kesehatan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut adalah beberapa dampak yang bisa terjadi:

1. Risiko Asam Lambung Meningkat

Ketika seseorang terlambat makan, lambung tetap memproduksi asam untuk mencerna makanan. Namun, karena tidak ada makanan yang masuk, asam tersebut justru mengiritasi dinding lambung. Hal ini dapat menyebabkan keluhan seperti perih di ulu hati, mual, sensasi terbakar (heartburn), hingga refluks asam. Jika kebiasaan ini terus berulang, risiko gastritis (radang lambung) bisa meningkat.

2. Tubuh Mudah Lemas dan Tidak Fokus

Makanan adalah sumber energi utama bagi tubuh. Ketika seseorang terlambat makan, kadar gula darah akan turun lebih cepat, sehingga tubuh terasa lemas, mudah pusing, dan sulit berkonsentrasi. Kondisi ini terutama terjadi pada mereka yang memiliki aktivitas fisik tinggi atau pekerja yang membutuhkan fokus maksimal, seperti pengemudi, mahasiswa, atau pekerja kantor.

3. Metabolisme Tubuh Menurun

Jika seseorang terus-menerus menunda makan, tubuh akan mengira bahwa sedang dalam kondisi "kelaparan" dan secara otomatis menurunkan laju metabolisme untuk menghemat energi. Akibatnya, pembakaran kalori menjadi kurang optimal. Hal ini justru dapat memicu kenaikan berat badan dalam jangka panjang, meskipun seseorang merasa sudah jarang makan.

4. Lebih Mudah Emosi dan Mood Berantakan

Terlambat makan bisa memicu kondisi yang dikenal sebagai hangry (hungry + angry). Penurunan kadar gula darah membuat otak sulit mengatur emosi, sehingga seseorang lebih mudah tersinggung, cemas, atau gelisah. Ini sebabnya beberapa orang merasa emosinya tidak stabil ketika perut terlalu lama kosong.

5. Risiko Makan Berlebihan pada Jam Berikutnya

Ketika rasa lapar dibiarkan terlalu lama, tubuh akan bereaksi dengan meningkatkan nafsu makan secara drastis. Seseorang cenderung tergoda mengonsumsi makanan tinggi gula, garam, atau lemak untuk memuaskan rasa lapar. Tanpa disadari, hal ini dapat meningkatkan risiko obesitas dan gangguan metabolik lainnya.

6. Mengganggu Keseimbangan Hormon

Hormon ghrelin (pemicu lapar) dan leptin (pengatur kenyang) dapat terganggu jika kebiasaan terlambat makan terjadi terus-menerus. Ghrelin akan meningkat tajam saat seseorang menunda makan, sementara leptin menurun. Akibatnya, ritme makan terganggu dan pola makan menjadi kacau.

7. Mengganggu Kinerja Organ Tubuh

Menunda makan juga berdampak pada beberapa organ penting, seperti: - Hati, yang harus bekerja lebih keras untuk menjaga kestabilan gula darah. - Pankreas, yang mengalami fluktuasi produksi insulin. - Otak, yang membutuhkan glukosa stabil untuk berpikir, mengambil keputusan, dan menjaga suasana hati.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik dan penyakit kronis.

Bagaimana Solusi agar Tidak Terlambat Makan?

Untuk menghindari dampak negatif dari kebiasaan terlambat makan, berikut beberapa solusi yang bisa diterapkan:

  • Atur jadwal makan teratur, misalnya setiap 45 jam.
  • Siapkan camilan sehat, seperti buah, kacang, atau yogurt.
  • Gunakan pengingat (alarm) di ponsel untuk jam makan.
  • Pilih makanan bergizi, bukan hanya cepat dan praktis.

Jika Anda memiliki sakit maag atau gangguan lambung, pastikan jadwal makan lebih disiplin agar tidak kambuh.

Terlambat makan bukan hanya soal perut kosong, tetapi berdampak pada seluruh fungsi tubuh: energi, metabolisme, hormon, hingga emosi. Mulailah membiasakan pola makan yang teratur demi menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan