Setelah 6 Tahun Tersimpan, Penerbangan Pertama Pesawat A380 Qantas Alami Slat Sayap Patah


LOS ANGELES, berita
Pesawat Airbus A380 terakhir yang dimiliki oleh maskapai Qantas dan kembali dioperasikan setelah enam tahun disimpanregistrasi VH-OQC Paul McGinnessmengalami kerusakan sayap dan sejumlah kegagalan sistem. Peristiwa ini terjadi dalam penerbangan perdananya dari Sydney menuju Los Angeles pada Kamis (7/12/2025).

Setibanya di Bandara Internasional Los Angeles, teknisi menemukan kerusakan pada slat leading edge di sayap kiri. Komponen tersebut merupakan bagian penting yang digunakan saat lepas landas dan mendarat. Pesawat langsung diberhentikan sementara untuk perbaikan.

Insiden ini terjadi hanya lima hari setelah European Union Aviation Safety Agency (EASA) mengeluarkan Airworthiness Directive (AD) terkait slat A380, dan sembilan hari sebelum aturan tersebut resmi berlaku pada 16 Desember.

Kembalinya A380 Qantas

VH-OQC merupakan A380 terakhir yang kembali beroperasi setelah menjalani pemeriksaan 12-tahunan, yang menurut Qantas merupakan program perawatan terbesar yang pernah dilakukan untuk armada A380.

Sebelum insiden, Qantas sempat merilis pernyataan resmi yang merayakan kembalinya A380 tersebut. CEO Qantas International, Cam Wallace, mengatakan, Membawa sebuah A380 kembali ke layanan setelah hampir enam tahun disimpan bukanlah hal sepele. Tim insinyur di seluruh dunia bekerja lebih dari 100.000 jam untuk mempersiapkan pesawat ini kembali terbang, mulai dari pemeriksaan ekstensif, perawatan besar, penggantian roda pendarat, pembaruan kabin, hingga penilaian penerbangan, dengan suku cadang dikirim lewat darat, laut, dan udara.

A380 itu diproyeksikan menambah kapasitas penerbangan jarak jauh, termasuk rute Dallas, Singapura, dan Johannesburg. Namun, momen perayaan itu langsung buyar pada penerbangan perdana ke Los Angeles.

Keluhan Penumpang

Masalah tidak berhenti pada kerusakan sayap. Penumpang melaporkan berbagai kegagalan layanan selama penerbangan. Presenter TV Australia, Lynn Gilmartin, mengunggah video dan keluhannya di Instagramyang kemudian dikutip banyak media.

Gilmartin menulis, Ada apa dengan Qantas? Pesawat kami mengalami masalah daya. Tidak ada TV yang berfungsi, tidak ada lampu di sebagian besar kabin, sebagian besar kursi tidak bisa direbahkan. Saya bahkan mendengar beberapa toilet meluap. LALU, sebagian sayap patah dan jatuh entah di mana di California.

Sebagai penumpang setia Qantas selama hampir dua dekade, ia mengaku butuh waktu sebelum memutuskan untuk mempublikasikan pengalamannya. Pesawat ini seharusnya tidak pernah lepas landas dari Sydney. Ini tidak layak terbang. Namun kami tetap menyeberangi Samudra Pasifik dengan kondisi seperti ini.

Respons Qantas

Qantas mengakui kerusakan slat tersebut. Seorang juru bicara menyatakan kepada Aero South Pacific, Bagian slat di sayap kiri salah satu A380 kami ditemukan rusak setelah mendarat di Los Angeles, Minggu waktu setempat. Pesawat beroperasi secara normal dan mendarat tanpa insiden. Teknisi kini mengganti slat tersebut sehingga dapat kembali beroperasi pekan ini.

Terkait keluhan Gilmartin, juru bicara yang dikutip Daily Mail mengatakan, Itu adalah slat pada sayap yang terlihat, saya tidak akan menyebutnya sebagai potongan besar. Komponen itu digunakan saat pesawat lepas landas atau mendarat. Itu telah diperiksa teknisi ketika tiba di LA dan setelah suku cadang dari Dubai tiba, pesawat akan kembali beroperasi pada Kamis. A380 sangat populer dan ini adalah musim yang sibuk.

Qantas juga mengonfirmasi bahwa hiburan dalam pesawat tidak berfungsi sebagian besar penerbangan, namun tidak menanggapi soal lampu kabin, kursi, dan toilet. Penumpang disebut telah menerima kompensasi berupa poin atau kredit penerbangan.

Masalah Slat A380 Bukan Pertama Kalinya

Masalah slat pada A380 telah dilaporkan pada sejumlah maskapai lain. Investigasi BEA Prancis terhadap insiden pesawat Emirates pada 2023 menemukan cacat bonding pada struktur komposit slat yang dapat menyebabkan delaminasi.

Meski simulasi Airbus menunjukkan kerusakan tidak memengaruhi margin keselamatan terbang, beberapa A380 milik Singapore Airlines juga mengalami masalah serupa.

Airbus berencana mengeluarkan dua service bulletin pada Januari 2026 untuk inspeksi berulang slat. EASA sendiri sudah mengeluarkan AD 2025-0270 yang mewajibkan operator memeriksa konfigurasi slat dan droop nose assembly, untuk memastikan tidak ada komponen yang tidak sesuai dokumentasi resmi.

Menariknya, VH-OQC tidak termasuk kelompok pesawat yang wajib diperiksa dalam jangka 36 bulan, dan kerusakan terjadi sebelum tenggat kepatuhan AD. Kini, Australian Transport Safety Bureau (ATSB) telah menerima laporan dan sedang menilai apakah insiden ini perlu ditingkatkan menjadi investigasi penuh.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan