Setiap Generasi Miliki Julukan Unik, Ini Sejarah Toyota Corona di Tanah Air


Toyota pernah memiliki sedan ikonik bernama Corona, yang setiap generasinya memiliki julukan unik dari para penggemarnya. Perjalanan Toyota Corona di Indonesia dimulai satu tahun setelah generasi keempat hadir di dunia pada Februari 1970.


Generasi pertama Corona di Indonesia lahir pada tahun 1971 dan langsung menjadi sedan Toyota pertama yang dirakit di Indonesia pada Mei 1971. Versi Indonesia ini mengambil model sedan empat pintu dengan mesin 1.600 cc 4 silinder segaris dan transmisi manual 4-speed.


Corona memiliki bodi yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya, menjadikannya sebagai sedan kelas menengah yang menawarkan kenyamanan berkendara namun tetap irit bensin. Hal ini membuat penjualan Corona tidak terpengaruh oleh krisis minyak pada tahun 1973. Di pasar Indonesia, terdapat dua pilihan model, yakni Deluxe dan Standard. Varian Deluxe dilengkapi fitur radio dan taburan krom lebih banyak, sedangkan model Standard belum memiliki fitur tersebut. Corona Deluxe sering digunakan sebagai kendaraan dinas oleh kepala instansi pemerintah, militer, dan manager perusahaan besar pada masa itu.


Ada kisah menarik tentang Corona generasi pertama di Indonesia dan keempat di dunia. Pecinta mobil sempat menyebutnya sebagai Corona Rhoma Irama karena legenda dangdut Tanah Air ini pernah menggunakan mobil ini dalam salah satu film yang ia bintangi.


Generasi Kedua (1974)
Secara global, Corona generasi kelima hadir pada tahun 1973 dan masuk sebagai generasi kedua di Indonesia pada tahun 1974. Masih mengandalkan model sedan 4 pintu, tapi posturnya lebih besar dari pendahulunya. Versi lokal mengadopsi mesin berkode 12R 1.600 cc dengan padanan transmisi manual 4-speed. Penyegaran dilakukan pada tahun 1977 dengan gril lebih besar dan mewah. Desain lampu belakang diperbesar dan kisi ventilasi AC di dalam kabin juga mengalami ubahan. Mesin baru berkode 18R 2.000 cc dengan tenaga 145 dk pada 6.400 rpm juga diperkenalkan. Mobil ini sempat dipanggil Corona Hiu karena sirip-sirip udara pada kap mesinnya. Model facelift disebut Corona 2000 karena kapasitas mesinnya. Bahkan ada yang menyebutnya Corona Jangkrik lantaran tampil dalam film Chips yang dibintangi oleh trio pelawak legendaris Warkop DKI.


Generasi Ketiga (1979)
Generasi keenam versi global hadir pertama kali di Jepang pada tahun 1978 dan menjadi generasi ketiga di Indonesia pada tahun 1979. Corono tampil dengan dimensi bodi lebih besar dan mewah, dengan taburan krom di berbagai sudut seperti bumper, gril, hingga lis kaca. Ruang kabin semakin lega. Ada perubahan besar di sektor suspensi, yakni per daun diganti dengan per keong rigid axle 4-link di belakang dan MacPherson strut di depan. Kualitas pengendalian dan kenyamanan meningkat drastis. Mesin 2.000 cc masih digunakan, namun transmisi manual 5-speed lebih efisien bermodalkan rasio gigi 5 lebih halus. Masyarakat ada yang menjulukinya sebagai Corona Kotak. Tahun 1981, Corona memperoleh perubahan wajah dengan tampil lebih sporty dan agresif berbekal kode TT di belakang namanya. Laburan krom di bodi berkurang, dan bumper polyurethane disematkan untuk memberikan kesan modern. Kapasitas mesin diturunkan menjadi 1.800 cc dipadukan dengan transmisi manual 5-speed.


Toyota Corona Mark II (1981)
Tahun 1981 menjadi masa transisi bagi Corona di Indonesia. Meski Corona generasi keenam masih diproduksi di pasar internasional hingga tahun 1983, pasar Indonesia justru memasukkan Corona Mark II sehingga Corona generasi ketujuh (1982) tidak pernah memasuki pasar Indonesia. Corona Mark II merupakan Corona generasi keenam yang menggunakan mesin 2.000 cc yang disalurkan via transmisi manual 5-speed. Posisinya diarahkan untuk berada satu tingkat di atas Corona namun masih di bawah Crown sebagai sedan termewah. Tidak heran jika secara kualitas buatan, Corona Mark II hampir mendekati Crown. Corona Mark II memperoleh sentuhan facelift di tahun 1982 dengan perubahan kecil di bagian wajah dan lampu belakang. Power steering diterapkan untuk meningkatkan kenyamanan mengemudi. Namun, Mark II berakhir kiprahnya di Indonesia pada tahun 1984 dan Corona masuk ke era baru sedan dengan sistem gerak roda depan.

Generasi Keempat (1984)
Setelah bertahun-tahun menggunakan sistem gerak roda belakang sejak tahun 1957, Corona akhirnya mengikuti jejak Corolla untuk beralih ke penggerak roda depan yang diklaim lebih ekonomis pada generasi kedelapan secara global di tahun 1983 dan masuk Indonesia tahun 1984 sebagai generasi keempat. Perubahan sistem penggerak ini juga mengubah profil bodi dan wajah Corona secara signifikan dengan tampilan lebih ramping, kalem, dan modern. Tidak ada lagi rekam jejak model sebelumnya yang begitu anggun dan bercitarasa klasik. Generasi anyar ini meninggalkan mesin R-series yang telah berkiprah sejak pertama masuk Indonesia dan digantikan unit berkode 4A 1.600 cc 4 silinder SOHC yang diperuntukkan untuk front wheel drive (FWD). Model ini diberi nama Toyota Corona GL. Pada tahun 1986, Corona GL digantikan oleh model lebih baru yakni Toyota Corona EX Saloon disertai beberapa upgrade fitur. Interior EX Saloon dilapisi bahan beledu halus, awam menyebutnya beludru, sehingga memberi nuansa ala ruang keluarga mewah. Corona EX Saloon juga dilengkapi cool box yang diletakkan di bawah dasbor. Plus adanya power window dan power steering menjadikan Corona sebagai mobil mewah pada zamannya.

Generasi Kelima (1988)
Walaupun nama resminya masih Toyota Corona EX Saloon, tapi pecinta di Indonesia memanggilnya sebagai Corona Twin Cam lantaran mesin yang dipakai menggunakan teknologi Dual Over Head Camshaft (DOHC) 16 valve yang akrab disebut twin cam alias katup ganda disertai pasokan bahan bakar injeksi (EFI). Ada 2 pilihan mesin yang dipakai. Pertama, mesin 4A-FE 1.600 cc yang sama persis dengan milik Corolla dan unit lebih besar 3S-FE 2.000 cc yang kelak dipakai oleh Corona Absolute. Sama dengan pendahulunya, tersedia pilihan transmisi manual 5-speed dan otomatis 4-speed yang halus dan nyaman di jalan. Wheelbase lebih panjang sebagai bukti bahwa Corona diposisikan sebagai sedan menengah. Hal ini didukung dengan desain bodi tidak kaku dan terlihat elegan, serta tampak modern dengan desain aerodinamis dan mewah. Daya tarik lain hadir dari bagian dalam kabin dengan aplikasi speedometer digital yang terlihat futuristis dan unik. Ditambah kabin nyaman, membuat Corona Twin Cam banyak diincar kalangan yang ingin tampil memukau di jalan. Sebagai informasi tambahan, tahun 1990 Toyota Corona mencetak sejarah dengan merayakan produksi ke 10 juta secara global.

Generasi Keenam (1993)
Generasi ini menjadi 'edisi perpisahan' Toyota Corona di Indonesia. Menyandang nama Absolute di belakang kata Corona, terjadi revolusi desain dengan dimensi yang lebih besar dan berisi ketimbang model sebelumnya. Posisinya disebut sebagai perantara antara Corolla dan Crown. Benefit bodi besar adalah ruang dalam yang ekstra lega, terutama di bagian belakang dengan alas jok lebar dan empuk, serta sudut kemiringan sandaran punggung yang dirancang sedemikian rupa supaya dapat menopang tubuh dengan rileks dan nyaman. Plus tersedia sandaran kepala untuk menambah kenyamanan penumpang. Untuk mesin, Corona Absolute masih setia pada unit 1.600 cc dan 2.000 cc twin cam dengan opsi transmisi manual 5-speed atau otomatis 4-speed. Di tahun 1996, Corona memperoleh sentuhan ringan pada desain bumper depan dan belakang dengan meniadakan lis hitam tebal yang mengitari bumper. Panel ini diganti dengan lis lebih tipis dan dicat sewarna bodi mobil. Peremajaan juga terlihat di belakang, dengan mengganti mika putih pada lampu sein menjadi kuning. Masih di tahun 1996, Toyota fokus pada Corona dengan mesin 2.000 cc yang secara resmi masih menyandang nama EX Saloon, atau lengkapnya Toyota Corona 2.0 EX Saloon. Sayangnya, Toyota Corona resmi pamit dari pasar Indonesia pada tahun 1998 dan keberadaannya digantikan oleh Toyota Camry yang berada satu level di atas Corona. Reposisi ini menempatkan Corolla sebagai pemain tunggal dari Toyota di level sedan menengah hingga sekarang.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan