
Duka yang Menyentuh, Kenangan tentang Sosok-sosok yang Pernah Membawa Kekuatan Informasi
Banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 menimbulkan duka mendalam bagi masyarakat Indonesia. Bencana ini telah mengakibatkan kematian sebanyak 753 orang, sementara 650 lainnya masih dinyatakan hilang. Angka korban diperkirakan akan terus bertambah seiring proses pencarian yang terus berlangsung.
Di tengah suasana duka, banyak warganet menyampaikan kerinduan terhadap sosok-sosok yang dulu sering muncul dalam penyampaian informasi bencana secara cepat, akurat, dan penuh empati. Tiga nama yang sering disebut adalah Sutopo Purwo Nugroho, Doni Monardo, dan Achmad Yurianto. Ketiganya pernah menjadi figur penting dalam penanganan bencana dan krisis kesehatan di Indonesia.
Pengakuan dari Warganet
Salah satu pengguna akun X @ahmad_be* memuji sosok Doni Monardo. Ia mengatakan bahwa selama masa pandemi covid-19, almarhum tidak henti-hentinya menyampaikan data terbaru. Namun yang paling membuat kagum adalah cara almarhum memberikan statemen yang selalu membuat suasana adem.
Sementara itu, pengguna X @SB*** membagikan tangkap layar unggahan lama Sutopo dan menyampaikan kerinduan. Tulisan "We miss him" merujuk pada gaya komunikasi Sutopo saat menjadi juru bicara BNPB dalam penanganan bencana.
Profil Sutopo Purwo Nugroho
Sutopo Purwo Nugroho atau akrab disapa Pak Topo adalah mantan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pudsatinmas) BNPB. Lahir di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada 7 Oktober 1969, ia dikenal sebagai sosok yang sering memberikan informasi tentang musibah atau bencana di Indonesia.
Ia mulai dikenal publik setelah gempa bumi dan tsunami di Mentawai, Sumatera Barat pada 2010. Saat itu, ia menjadi bagian dari tim survei ke lokasi kejadian dan dengan sigap menyiapkan materi siaran pers. Seiring waktu, ia semakin terbiasa menulis dengan telepon genggam dan berani bersaing dengan wartawan dalam melaporkan peristiwa.
Pada Januari 2018, Sutopo mengetahui dirinya mengidap kanker paru-paru. Kondisinya semakin parah seiring waktu. Meski sedang menunggu operasi di RSPAD Gatot Subroto pada 21 Februari 2018, ia masih sempat memberikan informasi mengenai kebakaran hutan yang terjadi saat itu.
Pada Juni 2019, ia memutuskan untuk berobat ke Guangzhou, China. Di sana, ia menjalani pengobatan hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada 7 Juli 2019.
Profil Doni Monardo
Letjen TNI (Purn) Doni Monardo adalah mantan Kepala BNPB periode 2019-2021. Lahir di Cimahi, Jawa Barat pada 10 Mei 1963, ia berasal dari keluarga tentara. Ayahnya adalah Letikol (Purn) Nasrul Saad dan ibunya Roeslina.
Sejak kecil, Doni sudah berpindah-pindah ke beberapa daerah mengikuti pekerjaan ayahnya sebagai polisi militer. Pada tahun 1986, ia bergabung dalam kemiliteran hingga pernah bertugas di wilayah konflik Timor Timur, Aceh, dan beberapa daerah lainnya.
Karier Doni terus meningkat. Ia pernah menjadi Komandan Paspampres dan Kopassus. Pada 2019, ia ditunjuk sebagai Kepala BNPB dan mulai dikenal oleh publik saat pandemi Covid-19. Ia juga merangkap jabatan sebagai Ketua Pelaksana Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
Doni menjabat sebagai kepala BNPB hingga Mei 2021 dan posisinya digantikan oleh Letjen Ganip Warsito. Pada Juni 2021, ia ditunjuk sebagai Komisaris Utama PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Doni meninggal dunia di RS Siloam, Semanggi, Jakarta pada 3 Desember 2023 karena sakit.
Profil Achmad Yurianto
Achmad Yurianto adalah eks Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19. Lahir di Malang, Jawa Timur pada 11 Maret 1962, ia memiliki karier di bidang kemiliteran sebagai dokter. Yurianto sudah terlibat dekat dengan kehidupan militer sejak ia bergabung menjadi Resimen Mahasiswa (Menwa) saat kuliah.
Ia memulai karier di dunia militer sebagai Perwira Utama Kesehatan Daerah Militer V Brawijaya. Sempat dipindah tugas ke beberapa daerah di Tanah Air, Yurianto cukup lama menjadi dokter anggota militer.
Pada 2015, ia diminta untuk menjabat sebagai Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Ia kemudian dipercaya menjadi Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes pada pertengahan 2019.
Pada 3 Maret 2020, ia ditunjuk sebagai Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19. Sejak saat itulah nama Yurianto dikenal masyarakat luas. Setiap sore, wajahnya menghiasi layar kaca untuk menyampaikan informasi terbaru mengenai penanganan Covid-19 di Indonesia.
Yurianto juga merangkap sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) P2P Kemenkes. Penunjukkan itu dilakukan pada 9 Maret 2020. Namun pada 21 Juli 2021, jabatan Yurianto sebagai Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 berakhir.
Dia kemudian pernah ditunjuk sebagai Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi dan Ketua Dewan Pengawas BPJS Kesehatan sepanjang kariernya. Yurianto menghembuskan napas terakhir pada 21 Mei 2022. Dia sempat dirawat di RSPAD Gatot Subroto karena kanker usus.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar