
Dalam benak "penglalap" sejarah sepertiku, Siau adalah bagian terindah dari kejayaan masa silam orang-orang di utara Sulawesi.
Dotu Lokombanua, Raja Posuma hingga Laksamana Hengkengunaung yang dengan nyali seorang Bahaning Nusa tak gentar menantang bedil dan meriam para prajurit dari dunia Barat.
Ketika orang menyebut Siau, yang tercium adalah harum pala yang magis.
Sebuah harta dunia di abad 14 hingga 17 masehi yang membuat armada laut eropa seperti Portugus, Spanyol hingga Belanda rela mabuk laut: menempuh bermil-mil jarak demi menguasainya.
Menguji nyali suku-suku petarung di Timur Nusantara.
Namun ralitas menamparku, ketika pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini Selasa (6/1/2026).
Aku tersadar, bahwa Siau, bukan hanya pulau yang memancarkan pesona, melainkan juga pulau yang memikul beban potensi bencana.
Siau beserta pulau-pulau dalam gugusan Kepulauan Sitaro dikepung oleh berbagai lempeng tektonik seperti Lempeng Pasifik, Lempeng Eurasia hingga Lempeng Filipina
Selain lempeng besar, Sitaro, termasuk Siau di dalamnya berada di jalur tabrakan lempeng mikro yang sangat aktif seperti Lempeng Laut Maluku.
Praktis, secara geologis, wilayah ini merupakan salah satu kawasan tektonik paling kompleks di dunia. Rawan gempa dan berpotensi tsunami jika terjadi patahan tektonik.
Belum lagi gunung Karangetan, salah satu gunung berapi paling aktif di Indonesia, yang sekali-kali dapat memuntahkan laharnya.
Sekali-kali dapat mengancam jika memuntahkan laharnya. Sering, saat malam warga menyaksikan kedipan cahaya yang nampak dari puncaknya.
Topografi Pulau yang berjarak sekitar 101 mil dari Manado, Ibu Kota Provinsi Sulawesi Utara ini didominasi perbukitan dan pegunungan dengan kemiringan yang curam.
Jika terjadi hujan, dengan intensitas yang tinggi dan lama, air yang mengalir dari atas perbukitan Siau bakal berubah menjadi bencana.
Aliran sungai di Siau memang ada, tapi semuanya kering.
Air mulai terlihat di aliran sungai tersebut setelah turun hujan.
Hujan deras dan lama dapat mengalirkan air yang membawa serta lumpur beserta material berupa batu, kerikil dan pepohonan yang menuju pemukiman.
Seperti yang terjadi pada Senin (5/1/2026) subuh.
Banjir bandang menyapu kehidupan di 7 kelurahan yang tersebar di empat kecamatan.
693 jiwa terdampak. 17 orang meninggal, 18 luka-luka, dan dua orang hilang.
Saat akan balik ke Manado, Jumat (9/1/2026) saya melihat Siau dengan kesedihan sekaligus kekaguman.
Dalam pikiranku berguman, "pantaslah, sejarah mencatatkan nama Laksamana Hengkengunaung begitu harumnya sebagai salah satu sekutu terkuat Kesultanan Gowa di Makassar yang gigih menentang dominasi Belanda di utara Sulawesi pada abad ke 17 masehi, ternyata prajurit-prajuritnya ditempa oleh kondisi alam yang tidak biasa."
Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Manado dan Google News Tribun Manado untuk pembaharuan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar