
Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik di NTT Tampilkan Terobosan Kreatif
Kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh pemeraitah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi wadah penting bagi pemerintah daerah untuk menunjukkan inovasi kreatif dalam meningkatkan kualitas layanan publik. Ajang bergengsi ini dikenal dengan nama KOIN YANLIK BERDASI Tahun 2025 atau Innovation Government Award (IGA). Kini, kompetisi ini memasuki tahap presentasi dan wawancara.
Presentasi dan wawancara berlangsung di Ruang Rapat Kantor Gubernur Provinsi NTT. Tim juri terdiri dari Ombudsman NTT, akademisi dari Universitas Nusa Cendana Kupang dan Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, Pemimpin Redaksi HU Pos Kupang, Dion DB Putra, serta Kepala Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi NTT.
Kompetisi ini tidak hanya menjadi ajang lomba, tetapi juga menjadi barometer bagi pemerintah daerah se-NTT dalam menunjukkan inovasi-inovasi yang mampu meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat. Kabupaten Sikka turut serta dalam kompetisi ini dengan mengirimkan dua inovasi terbaiknya.
Total 24 Inovasi Ikut Berkompetisi
Pada tahap presentasi dan wawancara, terdapat total 24 inovasi yang masuk. Dari jumlah tersebut, 5 inovasi berasal dari Pemerintah Provinsi NTT, sementara 19 lainnya berasal dari kabupaten/kota di Provinsi NTT, termasuk dua inovasi dari Kabupaten Sikka.
Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Sikka mengirimkan dua inovasi unggulan untuk bersaing di tingkat provinsi. Keikutsertaan ini merupakan tindak lanjut dari Lomba Inovasi Daerah Tingkat Kabupaten Sikka Tahun 2025 yang telah menghasilkan sejumlah ide solutif untuk mengatasi permasalahan di wilayah tersebut.
Dua Inovasi Unggulan dari Kabupaten Sikka
Kedua inovasi yang dikirimkan adalah PI KOPI SAHIT (Pergi Ketuk Pintu Pada Sahabat Hipertensi), yang merupakan inovasi dari UPT. Puskesmas Hewokloang, dan GELI HATI (Gerakan Peduli Ibu Hamil Risiko Tinggi), inovasi dari UPT. Puskesmas Tanarawa.
Dalam paparannya, Margaretha M.D.M Bapa, ST. M.Eng selaku Plt. Asisten 3 Sekretariat Daerah Kabupaten Sikka menjelaskan bahwa pihaknya masih berkonsentrasi pada bidang kesehatan untuk penguatan sumber daya manusia (SDM).
"Kami masih fokus di kesehatan untuk penguatan SDM karena merupakan salah satu program prioritas RPJMD 2025-2029 Kabupaten Sikka. Dua inovasi ini lahir dari dua Puskesmas dengan aksesibilitas yang sangat terbatas. Teman-teman di sana sangat perlu melakukan inovasi dalam pelaksanaan tugasnya," ujarnya.
Dampak Signifikan dari Inovasi
Menurutnya, kedua inovasi ini telah memberikan dampak yang signifikan. Di Puskesmas Hewokloang, tingkat deteksi dan pengobatan hipertensi mencapai 90 persen, sedangkan di Puskesmas Tanarawa nihil angka kematian ibu dan bayi selama tiga tahun terakhir.
"Kami berharap ada wadah yang diakomodir oleh Pemerintah Provinsi agar inovasi yang ada ini tidak hanya dilombakan, tetapi juga dapat direplikasi oleh daerah lain untuk dampak yang lebih luas," tambahnya.
Rencana Replikasi dan Harapan Masa Depan
Dalam kesempatan tersebut, para inovator seperti Laurensius Nong Obet, S.Kep. Ns dari UPT. Puskesmas Hewokloang dan Hilarius Emanuel Minggus, S.Kep.Ns dari UPT. Puskesmas Tanarawa turut memaparkan keunggulan inovasi masing-masing serta rencana replikasinya. Inovasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kabupaten Sikka.
"Kita berharap bahwa kedua inovasi ini dapat memperoleh hasil terbaik baik di tingkat provinsi maupun di tingkat nasional," ujarnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar