Siswi SD Pringsewu Meninggal Usai Kegiatan Pramuka, Keluarga Akan Tempuh Jalur Hukum

Siswi SD Pringsewu Meninggal Usai Kegiatan Pramuka, Keluarga Akan Tempuh Jalur Hukum

Keluarga Siswi SD yang Meninggal Akibat Kecelakaan Pramuka Siap Tempuh Jalur Hukum

Keluarga Aisyah Aqila Fazila Yusyah (12), siswi kelas VI SD di Pringsewu, Lampung, yang meninggal setelah diduga terjatuh dari tebing saat kegiatan Pramuka, menyatakan akan menempuh jalur hukum jika pihak sekolah tidak memberikan klarifikasi atas insiden tersebut. Ibu korban, Nia, mengaku memiliki bukti kuat dan telah menyiapkan laporan polisi serta kuasa hukum.

Nia mengungkapkan bahwa ia masih menunggu itikad baik dari pihak sekolah sebelum membawa kasus ini ke aparat penegak hukum. Jika sampai viral seperti ini, pihak-pihak terkait masih diam, saya akan laporkan, ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa dirinya sudah siapkan laporan polisi dan hanya menunggu respons dari pihak sekolah.

Persiapan Laporan Polisi dan Kuasa Hukum

Nia menjelaskan bahwa proses pelaporan sudah disiapkan, termasuk pengajuan kuasa hukum. Ia menyebut bahwa langkah ini diambil karena menemukan sejumlah ketidaksesuaian informasi terkait kronologi dugaan jatuhnya Zhee dari tebing selama kegiatan Pramuka. Ia mengklaim telah mengumpulkan keterangan dari teman-teman Zhee dan rekam medis dari klinik tempat putrinya pertama kali diperiksa.

Menurut Nia, pihak sekolah awalnya memberi informasi bahwa Zhee hanya mengalami kelelahan dan luka ringan. Namun, hasil pemeriksaan medis menunjukkan adanya dugaan pendarahan otak dan trauma organ dalam. Zhee meninggal 28 jam setelah kejadian.

Meski tengah mengupayakan proses hukum, Nia mengaku masih sangat terpukul dengan kepergian putrinya. Saya masih sangat terpukul sampai sekarang. Zhee manggil saya mama, saya kehilangan dia, ujarnya.

Kronologi Kecelakaan dan Ketidaksesuaian Informasi

Pada 22 November 2025, Zhee mengikuti kegiatan mencari tumbuhan herbal saat jam kosong kelas. Kegiatan tersebut dipandu oleh guru pembina Pramuka. Setiap kelompok terdiri dari 89 siswa dan diarahkan berjalan sekitar satu kilometer dari sekolah menuju sebuah bukit.

Nia menjelaskan bahwa putrinya memiliki riwayat radang otak pada masa kecil, sehingga ia sejak kelas IV sudah meminta pihak sekolah agar kegiatan fisik Zhee diawasi secara intensif dan tidak dilibatkan dalam kegiatan Pramuka. Saya ada alasan tersendiri kenapa anak saya tidak boleh ikut Pramuka, ujarnya. Zhee juga anak yang jarang keluar rumah, apalagi ke alam.

Saat berada di puncak bukit, Zhee dan seorang rekannya diduga tergelincir dari tebing. Korban jatuh dan diduga menghantam pondasi batu bata di bawah tebing. Warga yang tinggal di sekitar lokasi memberikan pertolongan pertama. Zhee masih bisa berdiri. Rok pramukanya kotor sampai dicuci warga. Ikat pinggangnya penyok sampai dibuka pakai obeng, jelas Nia.

Penyembunyian Informasi dan Kekurang Terbukaan

Menurut keterangan dari siswa-siswa dalam kelompok, guru pendamping tidak berada di lokasi saat kejadian. Korban kemudian dibawa ke klinik. Nia, yang saat itu berada di Surabaya, baru mengetahui kondisi anaknya setelah menghubungi pihak keluarga yang mendampingi di klinik.

Ia mendapat informasi awal bahwa Zhee hanya mengalami masuk angin dan kelelahan karena tidak sarapan. Di sinilah Nia mengaku mulai curiga dan berusaha mencari tahu sendiri apa yang terjadi. Saya di Surabaya, tapi yang ngebongkar semuanya justru saya. Karena saya dekat sama teman-temannya anak saya itu yang satu tim, ujarnya.

Nia mengatakan bahwa ia sempat kesulitan meyakinkan keluarganya di rumah bahwa Zhee diduga mengalami jatuh dari ketinggian. Karena guru itu kalau di mata masyarakat kecil ini guru maha benar. Sedangkan guru itu yang nganterin anak saya ke klinik. Dia bilang sama mamiku, Zhee cuma kepleset biasa nih. Karena nggak sarapan, masuk angin. Enteng banget kan? (Dugaan) Kebohongan mereka itu luar biasa, ujar Nia.

Hasil Pemeriksaan Medis dan Keterbukaan Informasi

Menjelang sore, Nia mengumpulkan keterangan dari teman-teman Zhee dan mengetahui bahwa putrinya bukan sekadar tergelincir ringan. Saat saya hubungi kepala sekolah dan wali kelas, mereka tetap mengatakan Zhee baik-baik saja, hanya luka di kaki dan lutut, kata dia.

Keesokan harinya, Nia mendatangi klinik tempat Zhee pertama kali diperiksa. Dari rekam medis yang diperlihatkan, dokter mendiagnosis adanya nyeri ulu hati serta kemungkinan pendarahan otak, dan menyarankan agar korban segera dirujuk untuk CT scan. Nia menyebut informasi tersebut tidak disampaikan kepada dirinya oleh pihak sekolah.

Ia juga mengaku mendapat cerita dari teman-teman Zhee bahwa mereka sempat diminta untuk tidak menceritakan detail jatuhnya korban dari ketinggian. Meski pihak sekolah disebut menyatakan kesanggupan untuk membantu pengobatan, Nia menilai tidak ada keterbukaan informasi sejak awal kejadian.

Kesimpulan

Dalam unggahan di media sosial, Nia menuliskan bahwa hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan putrinya diduga mengalami trauma pada organ dalam, termasuk ginjal, kandung kemih, jantung, serta pendarahan otak. Zhee meninggal dunia 28 jam setelah kejadian.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan