Siswi SMAK Sto. Arnoldus Janssen Kupang Wakili NTT dalam Debat Nasional

Siswi SMAK Sto. Arnoldus Janssen Kupang Wakili NTT dalam Debat Nasional

Siswa SMA Sto. Arnoldus Janssen Kupang Mewakili NTT dalam Lomba Debat Nasional

Virginia Timu Betan, seorang siswi SMA Sto. Arnoldus Janssen Kupang, mewakili Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dalam ajang lomba debat bahasa Indonesia tingkat nasional yang diselenggarakan di Yogyakarta pada tanggal 25 November 2025 hingga 1 Desember 2025 lalu. Ia bersama dua rekan timnya, Keizya Aprilia Deu Bay dari SMAN 1 Kefamenanu, TTU, dan Arsenius Fandae dari SMA Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur, berhasil melewati proses seleksi berjenjang, mulai dari tingkat sekolah, kabupaten/kota hingga provinsi.

Perubahan Nama Lomba dan Tema yang Beragam

Menurut Virginia, lomba ini sebelumnya dikenal sebagai lomba debat bahasa Indonesia, tetapi kini telah berubah menjadi lomba debat Indonesia yang terdiri dari dua cabang, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Dalam ajang ini, Virginia dan timnya mengikuti cabang Bahasa Indonesia dengan tema-tema yang cukup luas, mencakup geopolitik, ekonomi, budaya pop, ketenagakerjaan, teknologi, dan pendidikan.

Namun, persiapan selama satu bulan dinilai masih kurang memadai, terlebih karena dua anggota tim baru bergabung seminggu sebelum keberangkatan. Hal ini menyebabkan chemistry antar anggota tim belum cukup kuat.

Evaluasi dari Juri dan Harapan untuk Masa Depan

Dari evaluasi juri, Virginia dan pendampingnya melihat adanya pelajaran penting yang bisa diambil. Salah satunya adalah perlunya sistem seleksi dan persiapan yang lebih baik. "Kami harap kedepannya, NTT bisa dipersiapkan lebih matang lagi dan juga perlu adanya perhatian dari dinas," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tim-tim dari provinsi lain biasanya memiliki fasilitasi seperti coach atau pembimbing berpengalaman, sementara NTT belum memiliki hal tersebut. "Semoga kedepannya dinas bisa memfasilitasi, baik coach maupun mereka yang punya pengalaman debat. Anak-anak NTT yang punya pengalaman debat bisa didatangkan untuk membimbing kami," tambahnya.

Meski belum meraih juara, Virginia mengaku senang bisa mendapatkan banyak pengalaman dan teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. Dari pengalaman ini, ia akan mempersiapkan diri lebih awal untuk kembali berkompetisi di tahun depan.

Komentar dari Guru Pendamping

Guru pendamping tim, Oktavianus Pepin Surisno, mengakui bahwa pemilihan perwakilan NTT kali ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tim yang berangkat dipilih dari pembicara terbaik. Namun, ia menilai cara ini kurang efektif karena kondisi geografis NTT yang membuat persiapan melalui zoom meeting selama satu bulan dan tatap muka hanya satu minggu tidak cukup optimal.

"Anak-anak kita bukan tidak mampu tapi sistem kita di sini ternyata sangat berbeda dengan sistem lomba debat di tingkat nasional, apalagi dengan persiapan yang seperti ini," ujarnya.

Oktavianus menjelaskan bahwa seleksi dilakukan dari tingkat sekolah, kemudian antar sekolah di tingkat kota, lalu ke provinsi. Tim NTT terdiri dari tiga pembicara terbaik, masing-masing berasal dari tiga sekolah berbeda. "Vira sebagai pembicara terbaik pertama, yang kedua dari seminari Kisol, yang ketiga dari SMAN 1 Kefamenanu. Kebetulan kita ini dari tiga daerah yang berbeda, tiga sekolah yang berbeda, tentunya mempunyai tantangan yang pertama berkaitan dengan persiapan kami," jelasnya.

Ia berharap, dalam lomba-lomba berikutnya, NTT bisa meraih juara dengan membenahi apa yang menjadi catatan dari para juri dari lomba-lomba sebelumnya.



Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan