
Pentingnya Pengelolaan Sumber Daya Alam yang Berkelanjutan
Anggota DPR RI Komisi VI, Ida Nurlaela Wiradinata, menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan serta inovasi dalam diversifikasi pangan nasional. Salah satu langkah strategis yang menjadi perhatian adalah pengembangan tanaman sorgum sebagai alternatif bahan pangan dan energi terbarukan.
Dalam kegiatan Sosialisasi Efisiensi dan Penghematan Energi di Aula Hotel The Priangan, Ciamis, Jawa Barat, Ida menegaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, namun pengelolaannya perlu dilakukan dengan bijak dan efisien. Ia menyampaikan bahwa energi tidak harus selalu dihasilkan dari sumber daya alam seperti batu bara atau bahan fosil. Contohnya, untuk BBM kita bisa menggunakan bioetanol.
Meskipun teknologi kendaraan di Indonesia belum sepenuhnya dapat menggunakan bahan bakar bioetanol secara total, langkah menuju energi terbarukan tetap perlu digalakkan sebagai bentuk inovasi energi masa depan.
Potensi Tanaman Sorgum
Ida juga menyoroti potensi tanaman sorgum yang kini mulai dikembangkan di berbagai daerah, termasuk di Jawa Barat. Sorgum dinilai memiliki nilai strategis, tidak hanya sebagai pangan alternatif pengganti beras, tetapi juga sebagai sumber energi terbarukan (bioetanol) yang ramah lingkungan.
"Sorgum adalah salah satu solusi dalam upaya diversifikasi pangan nasional. Indonesia sebagai negara agraris tropis harus mengoptimalkan hasil pertaniannya, bukan justru kehilangan lahan karena industrialisasi," jelasnya. Selain bernilai ekonomi tinggi, sorgum juga memiliki manfaat kesehatan, di antaranya berpotensi menurunkan kadar gula darah dan menjadi bahan dasar inovasi pangan sehat.
Ida juga menegaskan pentingnya riset dan inovasi yang dilakukan oleh perguruan tinggi, seperti Universitas Pasundan (UNPAS) untuk mengembangkan nilai tambah dari komoditas lokal ini. "Kami berharap kebijakan negara lebih berpihak kepada pertanian. Dengan memanfaatkan tanaman seperti sorgum, kita bisa memperkuat ketahanan pangan, membuka peluang industri baru, dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku," ucapnya.
Sorgum Tumbuh Subur di Lahan Kering Jawa Barat
Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Pasundan, Prof. Dr. Ir. Wisnu Cahyadi M.Si., menambahkan bahwa tanaman sorgum sangat cocok dikembangkan di lahan-lahan kering dengan kebutuhan air yang rendah. "Sorgum cocok di lahan yang kering dan sedikit air. Di Jawa Barat, tanaman ini sudah berhasil dikembangkan dari hulu ke hilir di Kota Bandung, Kabupaten Garut, Kuningan, Subang, hingga Sukabumi," ungkap Prof. Wisnu.
Menurutnya, pengembangan selanjutnya direncanakan akan dilakukan di wilayah Cimerak, Pangandaran, dengan kerja sama antara pihak akademisi, Kementerian Pertanian (Kementan), dan Kementerian Pertahanan (Kemhan). "Kami juga masih menjajaki lahan di Ciamis. Jika ada informasi terkait lahan yang potensial, silakan disampaikan kepada kami agar bisa kami laporkan ke Kementan," ujarnya.
Prof. Wisnu menekankan bahwa keberhasilan pengembangan sorgum juga harus diikuti dengan penciptaan kepastian pasar. "Kepastian pasar harus diciptakan. Kami dan tim berusaha membangun pasar dari tingkat pedesaan, dan kami siap menjadi off-taker hasil pertanian sorgum," jelasnya. Ia juga mengapresiasi dukungan dari Anggota DPR RI Ida Nurlaela yang berperan menjembatani komunikasi dengan pemerintah pusat dan kementerian terkait.
"Dengan bantuan Ibu Ida, kami berharap sinergi dengan pemerintah dapat memperkuat rantai produksi sorgum dari hulu hingga hilir. Kami di Sorgum Center juga siap menampung hasil pertanian dan membantu petani mengakses pasar," tukasnya.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar