Sosok dan kronologi Zainal Arifin Mochtar dosen UGM diteror OTK, pelaku ngaku dari Polresta Yogya

Sosok dan kronologi Zainal Arifin Mochtar dosen UGM diteror OTK, pelaku ngaku dari Polresta Yogya
Ringkasan Berita:
  • Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar mengaku mendapatkan teror melalui sambungan telepon dari orang tak dikenal.
  • Nomor yang digunakan pelaku teror telepon itu tercatat +62 838 1794 1429.
  • Pihak tersebut meminta kepada Zainal untuk segera menghadap ke pihak kepolisian dengan membawa kartu tanda penduduk (KTP).
 

nurulamin.pro Seorang akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM), Zainal Arifin Mochtar, diteror orang tak dikenal (OTK).

Pelaku teror mengaku dari Polresta Yogyakarta.

Ia penelepon Zainal Arifin Mochtar untuk segera menghadap dengan membawa KTP disertai ancaman penangkapan.

Zainal menyebut teror ini bukan kali pertama, tetapi sudah dua kali dengan nada teror yang sama. 

Kasus ini mencuat setelah sang dosen membagikan pengalaman tersebut melalui akun Instagram pribadinya pada Jumat (2/1/2026).

Unggahan ini langsung memantik perhatian luas karena menyasar akademisi kritis yang dikenal vokal menyuarakan isu hukum dan demokrasi.

Peristiwa ini membuat publik kembali menelusuri profil Zainal Arifin Mochtar serta rekam jejak akademik dan aktivismenya.

Sosok Zainal Arifin Mochtar

Zainal Arifin Mochtar adalah seorang Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 8 Desember 1978.

Pria yang akrab disapa Uceng ini mengenyam pendidikan S1 di Ilmu Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ia kemudian melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di Northwestern University, Amerika Serikat.

Pada 2012, Uceng berhasil meraih gelar Doktor di UGM jurusan Ilmu Hukum.

Uceng mengawali karir akademisnya di Fakultas Hukum UGM pada 2014.

Ia tercatat pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Kajian Anti Korupsi (Pukat) UGM.

Selain itu, ia juga menduduki posisi sebagai Wakil Ketua Komite Pengawas Perpajakan untuk periode 2023-2026.

Sebelumnya, Zainal diketahui pernah menjabat sebagai anggota Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (2015-2017), anggota Komisaris PT Pertamina EP (2016-2019).

Pada 2022, ia ditunjuk sebagai anggota Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Sebagai penggiat antikorupsi, Zainal Arifin sering dimintai komentarnya oleh media massa.

Ia juga pernah dipercaya menjadi moderator dalam debat Capres dan Cawapres tahun 2014 lalu.

Nama Uceng sempat menjadi sorotan setelah tayangnya film Dirty Vote.

Fim Dirty Vote merupakan sebuah film dokumenter yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono yang membahas dugaan kecurangan pemilu melalui penggunaan instrumen kekuasaan, seperti kebijakan pemerintah dan aparat negara yang tayang pada Minggu (11/2/2024).

Dalam film tersebut, Uceng menjadi narasumber utama bersama dua pakar hukum tata negara lainnya, Bivitri Susanti dan Feri Amsari.

Riwayat organisasi:

  • Anggota Tim Task Force Penyusunan UU Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (2007)
  • Direktur Advokasi Pusat Kajian Antikorupsi (PUKAT), Fakultas Hukum UGM (2008-2017)
  • Anggota Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar, berdasarkan Keputusan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2020 tentang Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar 
  • Anggota Tim Penyelesaian Non-Yudisial Pelanggaran Hak Asasi Manusia (2022)
  • Wakil Ketua Komite Pengawas Perpajakan (2023-2026)

Kronologi Zainal Diteror OTK

Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar mengaku diteror irang tak dikenal. 

Aktivis Lingkungan ini mengaku diancam akan ditangkap. 

Hal ini diungkap dalam akun Instagram pribadinya @zainalarifinmochtar, Jumat (2/1/2026), Uceng menyebut nomor telepon +62 838 17941429 mengontaknya kemarin.

Sosok yang meneleponnya itu mengaku dari Polresta Jogjakarta.

Peneror tersebut meminta Uceng untuk menghadap dan membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP). 

"Jika tidak (menghadap), akan segera melakukan penangkapan," tulis Uceng, dikutip oleh Kompas.com.

Dia mengatakan, suara dalam telepon diberat-beratkan agar terlihat memiliki otoritas. 

Uceng menyebut teror ini bukan kali pertama, tetapi sudah dua kali dengan nada teror yang sama. 

Namun dia mengaku tidak terlalu peduli dengan ancaman yang ia terima. 

"Saya hanya ketawa dan matiin ponsel lalu lanjut ngetik," katanya. 

Uceng mengatakan, semua orang mungkin memiliki pemahaman yang sama bahwa ancaman atau teror yang ia terima adalah penipuan yang tidak jelas. 

Namun yang dia sayangkan adalah, orang-orang seperti ini bisa menelepon berkali-kali. 

"Tapi bagaimana pun di negeri ini penipu macam begini terlalu diberi ruang bebas. Nyaris enggak pernah ada yang dikejar dengan serius. Data kita diperjualbelikan dan berbagai tindakan scam lainnya," kata Uceng. 

"Yang kedua, kepada para penipu, jangan jualan polisi untuk mengancam dan nakutin orang-orang tertentu, enggak akan ngefek," tandasnya. 

(nurulamin.pro/Tribunnews.com/Tribun-Medan.com)

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan