Sosok Hatma Suryatmojo, Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Sumatera

Sosok Hatma Suryatmojo, Pakar UGM Ungkap Penyebab Banjir Sumatera

Penyebab Banjira Bandang di Sumatera

Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Hatma Suryatmojo, mengungkapkan bahwa banjir bandang yang terjadi di Sumatera disebabkan oleh kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS). Kerusakan ini terjadi akibat deforestasi masif yang menghilangkan fungsi vital hutan sebagai "spons raksasa" dalam menyerap air. Proses intersepsi dan infiltrasi yang dilakukan hutan sangat penting untuk mengurangi limpasan permukaan yang dapat menyebabkan banjir.

Bencana ini merupakan hasil dari akumulasi kerusakan di hulu DAS, diperparah oleh perambahan hutan dan alih fungsi lahan. Menurut Hatma, fenomena banjir ini adalah bagian dari pola berulang bencana hidrometeorologi yang semakin meningkat dalam dua dekade terakhir. Penyebabnya terdiri dari dua faktor, yaitu faktor alam dan tindakan manusia.

Curah hujan yang sangat tinggi pada saat kejadian menjadi pemicu awal, seperti yang dicatat oleh BMKG, dengan beberapa wilayah di Sumut diguyur lebih dari 300 mm hujan per hari. Namun, cuaca ekstrem hanya menjadi pemicu awal, sementara dampak merusak banjir bandang sebenarnya dipengaruhi oleh kerusakan lingkungan di kawasan hulu.

Fungsi Hutan dalam Menjaga Keseimbangan Siklus Air

Hutan di wilayah hulu DAS memiliki peran vital sebagai penyangga hidrologis. Vegetasi hutan yang rimbun berfungsi seperti spons raksasa yang menyerap air hujan ke dalam tanah dan menahannya agar tidak langsung terbuang ke sungai. Dengan demikian, hutan menjaga keseimbangan siklus air, mencegah banjir di musim hujan sekaligus menyediakan aliran dasar saat musim kering.

Namun, ketika hutan hulu rusak atau gundul, siklus hidrologi alami tersebut ikut terganggu. Fungsi hutan dalam intersepsi, infiltrasi, dan evapotranspirasi akan hilang. Akibatnya, air hujan yang deras tak lagi banyak terserap karena lapisan tanah kehilangan porositas akibat hilangnya jaringan akar. Mayoritas hujan menjadi limpasan permukaan yang langsung mengalir deras ke hilir.

Dampak Deforestasi pada Bencana Hidrometeorologi

Ketika hutan masih utuh, ia memiliki ambang batas kemampuan untuk menampung hujan yang jatuh. Pada kondisi hujan ekstrim, kemampuan itu terlalu banyak sehingga meningkatkan potensi kejadian longsor. Material longsor berupa tanah, batu, dan batang pohon akan menimbun badan sungai dan menciptakan bendungan alami. Volume air yang besar dalam waktu singkat membuat sungai tak mampu menampung, dan bendungan alami ikut jebol, maka terjadilah banjir bandang.

Tanah yang tidak lagi dipertahankan akar juga mudah tererosi, material lumpur dan pasir terbawa ke sungai, mengendap dan mendangkalkan alur sungai. Pendangkalan dan penyempitan sungai akibat sedimen ini akhirnya memperbesar risiko luapan banjir.

Tragedi Banjir Bandang di Sumatera

Tragedi banjir bandang yang melanda Sumatra pada November 2025 sejatinya merupakan akumulasi "dosa ekologis" di hulu DAS. Cuaca ekstrem saat itu hanya pemicu, daya rusak yang terjadi tak lepas dari parahnya kerusakan lingkungan di wilayah hulu hingga hilir DAS. Penataan dan pengendalian kawasan yang lemah turut berpengaruh mengakibatkan maraknya perambahan hutan dan alih fungsi lahan hutan menjadi kebun sawit, serta illegal logging di kawasan hulu.

Banjir bandang di November 2025 di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat mungkin tercatat sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah beberapa dekade terakhir. Kejadian ini menunjukkan tren bencana hidrometeorologi cenderung makin parah seiring akumulasi deforestasi dan perubahan iklim.

Langkah Mitigasi dan Pengurangan Risiko Bencana

Secara geografis, Pulau Sumatra beriklim tropis basah, dan hal ini akan selalu rentan terhadap hujan lebat. Alam memiliki kapasitas daya dukung dan daya tampung yang terbatas untuk menahan gempuran cuaca ekstrem, dan kapasitas itu sangat bergantung pada kelestarian lingkungannya. Ketika manusia merusak lingkungan melebihi ambang batas maka alam akan "membalas" dengan bencana yang dahsyat.

Oleh sebab itu, upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana ke depan harus menyeimbangkan antara pendekatan struktural (infrastruktur teknis) dan pendekatan ekologis. Langkah struktural seperti pembangunan tanggul, pemulihan sempadan sungai, dan normalisasi sungai meski penting, namun tetap tidak akan cukup tanpa dibarengi pelestarian lingkungan di hulu.

Perlindungan hutan dan konservasi DAS, kata Hatma, harus menjadi prioritas utama.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan