
JAKARTA – PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) akan menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) pada 12 Desember 2025. Salah satu agenda utama dalam pertemuan tersebut adalah meminta persetujuan pemegang saham atas rencana pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity (Tahap I).
Rencana pemisahan ini diharapkan dapat menjadi langkah strategis untuk memperkuat struktur bisnis Telkom serta meningkatkan efisiensi operasional. Langkah ini juga dinilai relevan dengan perkembangan global di sektor telekomunikasi, yang semakin menekankan pentingnya pemisahan entitas infrastruktur dari penyedia layanan.
Nevi Zuairina, anggota Komisi VI DPR, mengungkapkan bahwa rencana pemisahan bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity ke anak usaha Telkom Infrastruktur Fiber (TIF) merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Menurutnya, inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk menyederhanakan struktur bisnis, tetapi juga untuk memfokuskan lini usaha dan memperjelas nilai tambah dari aset infrastruktur yang selama ini dikelola oleh Telkom.
“Pemisahan bisnis seperti ini memungkinkan Telkom Group untuk meningkatkan efisiensi operasional dan agilitas dalam setiap unit bisnisnya,” ujar Nevi.
Selain itu, ia menilai bahwa pengalihan aset infrastruktur jaringan ke TIF dapat memberikan dampak positif yang luas bagi industri telekomunikasi Indonesia. Dengan fokus sebagai penyedia infrastruktur wholesale, entitas baru tersebut dinilai mampu mendorong struktur pasar yang lebih kompetitif dan terbuka.
Menurut Nevi, model ini juga berpotensi menciptakan persaingan yang lebih sehat dan inklusif di tingkat layanan. Dengan adanya TIF, operator lain, termasuk ISP kecil dan menengah, dapat memiliki akses yang lebih netral dan terbuka ke jaringan infrastruktur.
Ia juga menekankan pentingnya implementasi yang efektif serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) di TIF. Menurutnya, hal ini menjadi prasyarat agar keputusan strategis tersebut benar-benar memberikan kontribusi optimal bagi pengembangan infrastruktur digital dan perekonomian nasional.
Sebelumnya, Telkom telah membeberkan progres terkini pemisahan (spin-off) bisnis wholesale fiber connectivity ke anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) atau Infranexia. Aksi korporasi strategis ini ditargetkan tuntas sepenuhnya pada 2026.
Seluruh portofolio bisnis wholesale fiber connectivity milik Telkom akan dialihkan kepada Infranexia, yang 99,99 persen sahamnya dimiliki perseroan. Spin-off ini menjadi strategi Telkom sebagai holding untuk memperjelas struktur bisnis sekaligus membuka ruang peningkatan nilai (value unlock) aset infrastruktur digital.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom, Arthur Angelo Syailendra, menjelaskan bahwa Infranexia saat ini masih berperan sebagai managed service operator yang mengelola operasional jaringan fiber milik Telkom, sementara asetnya masih tercatat di induk usaha.
Dalam posisi ini, Infranexia mengelola layanan, pemeliharaan jaringan, hingga penyediaan konektivitas untuk unit-unit Telkom Group seolah-olah menjadi pengelola penuh, namun belum menjadi pemilik aset.
“Sekarang Infranexia adalah managed service operator kita. Jadi asetnya parent (induk usaha) yang punya, tapi yang operasikan mereka. Nah jadi dua tahun ini mereka kayak learning and warming up period gitu loh,” ujar Angelo dalam acara Business Update Strategi Telkom 2030 dan Silaturahmi Media di Telkom Landmark Tower 2, Jakarta Selatan, Senin (1/12/2025).
Perubahan peran Infranexia diperkirakan akan mulai terjadi pada Desember tahun ini dan diharapkan sudah sepenuhnya berjalan sebelum semester I 2026.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar