Sri Asih Beri Semangat Saat Suami Lemas di Siksorogo

Sri Asih Beri Semangat Saat Suami Lemas di Siksorogo

Kehilangan yang Menyedihkan: Keluarga Sri Asih dan Pujo Buntoro

Di bawah terik matahari yang menyengat, tubuh Sri Asih Handayani tampak lemah saat pintu mobil Toyota Avanza hitam itu terbuka di depan rumahnya. Di Tegalwinangun RT 02 RW 13, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan/Kabupaten Karanganyar, Senin (8/12/2025), suasana penuh kesedihan mengisi setiap sudut. Sri Asih, yang merupakan istri dari Pujo Buntoro, salah satu pelari yang meninggal dunia dalam lomba lari ekstrem Siksorogo Lawu Ultra 2025, tampak lunglai dan harus dibopong oleh anak serta kerabatnya.

Sri Asih dan suaminya, Pujo Buntoro, ikut serta dalam lomba lari tersebut. Saat sang suami mengembuskan napas terakhir, ia berada di sampingnya. Sebelumnya diberitakan, dua pelari meninggal dunia saat mengikuti Siksorogo Lawu Ultra 2025 di Tawangmangu, Karanganyar, Minggu (7/12/2025). Salah satu korban, Pujo Buntoro (55), adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama (Kemenag) Solo. Satu korban lainnya, Sigit Joko Poernomo (45), warga Jakarta, ASN Kementerian Pariwisata.

Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh polisi, Sigit pingsan sekitar pukul 10.44 saat melewati Bukit Cemoro Mitis atau Km 12. Petugas PMI dan marshal dikerahkan ke lokasi untuk memberikan pertolongan, tetapi nyawa korban tidak bisa terselamatkan. Sekitar 11 menit kemudian, pada pukul 10.55, giliran Pujo Buntoro terkapar di Bukit Cemoro Wayang atau pada Km 8 pada rute yang sama.

Sejak suaminya dimakamkan di astana keluarga Keprabon RT 04 RW 04, Karangpandan, Karanganyar, Sri Asih belum benar-benar mampu berdiri tegak. Kesedihan seperti menyelimuti setiap geraknya. Mobil yang membawa keluarga itu tiba tepat pukul 12.00 di Dusun Tegalwinangun, Kelurahan Tegalgede, Kecamatan/Kabupaten Karanganyar. Dari dalamnya, Sri Asih dan putranya turun dengan langkah goyah, masih dibayangi prosesi pemakaman yang baru saja mereka tinggalkan.

Sesaat kemudian, para kerabat dengan sigap menopang tubuh wanita yang terlihat pucat dan kehilangan tenaga itu. Dengan hati-hati mereka membopongnya menuju ruang dalam rumah, menjauhkan dirinya dari kerumunan yang mulai memenuhi halaman. Di antara isak kecil keluarga, wartawan sempat mencoba meminta keterangan. Namun kerabat segera menggelengkan kepala, mencoba melindungi kondisi Sri Asih yang masih terpuruk.

Pelari yang Kerap Ikut Lomba Lari

Pujo Buntoro rupanya bukan 'pemain baru' dalam ajang lari. Pasangan suami istri itu ternyata memang kerap mengikuti ajang lari, mulai dari Tasikmadoe Run, Ring of Lawu, hingga Siksorogo Lawu Ultra. "Saat (almarhum) pingsan, tubuh almarhum berada di dekat istrinya, dan sang istri menemani hingga dinyatakan meninggal dunia," kata Dewan Pembina Siksorogo Lawu Ultra 2025, Toni Hatmoko, seusai melayat ke rumah duka di Tegalwinangun RT 02 RW 13 Tegalgede, Karanganyar.

Toni mengungkapkan, dalam Siksorogo Lawu Ultra 2025 ini Pujo dan istrinya ikut dalam kategori fun run. "Almarhum dan istri ikut kategori fun run dan start dalam keadaan bugar," kata Toni. Menurut Toni, pasangan suami istri itu berlari bersama sejak start. Namun, pada kilometer 7 Pujo mulai kelelahan, lalu pingsan di kilometer 8.

"Saat itu, istrinya sempat memberi semangat kepada almarhum sebelum pingsan," ujar Toni. Pujo sempat mendapat pertolongan pertama dengan pemberian oksigen. Kondisinya sempat membaik, napas kembali teratur, tetapi kemudian menurun hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia. "Kami sudah memberikan pelayanan terbaik, tapi Tuhan berkehendak lain," kata Toni.

Korban Lain yang Tidak Berpenyakit Jantung

Korban meninggal lainnya, Sigit Joko Poernomo, juga kerap mengikuti lomba lari. Sigit duduk sebagai Kepala Biro Umum, Hukum dan Pengadaan (UHP), Kemenpar RI, tampak dalam keterangan di unggahan instagram @poltekpar_nhi. Sigit memegang jabatan tersebut, sejak 16 Februari 2024, semasa kepemimpinan Menparekraf, Sandiaga Uno. Ia meninggalkan seorang istri yang bernama Rosaldina. Pasangan tersebut belum dikaruniai anak.

Pihak keluarga menyatakan, Sigit yang meninggal saat mengikuti event lari Siksorogo Lawu Ultra 2025 tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Bahkan almarhum sering berolahraga lari. “Sebelum mengikuti lari (Siksorogo Lawu Ultra) dia itu sehat. Dia itu senang hiking juga, hobi memang hiking kaya gitu,” kata Janes Cucuk Hartanto, adik ipar Sigit, Senin (8/12/2025). “Sudah kebiasaan itu (lari), terus mendaki dan trail run. Kalau weekend itu di rumah juga nge-gym, ya alatnya kecil-kecilan di rumah Jakarta itu,” sambungnya.

Sehari sebelum mengikuti event lari Siksorogo Lawu Ultra 2025 di Tawangmangu, Sigit sempat pulang ke rumah orang tuanya, di Dusun Buran Wetan, Desa Buran, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar. Saat itu dia mengajak salah satu temannya. Tony Harmoko, turut mengonfirmasi peristiwa itu. Menurutnya, kedua pelari tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kesehatan sebelum lomba berlangsung. “Sebelum race dimulai mereka keadaannya fit bugar, tidak ada masalah apa pun,” ujar Tony. Dia menambahkan, seluruh peserta yang mengikuti ajang lari lintas alam tahunan itu diwajibkan mengantongi surat keterangan sehat dari dokter sebelum mengikuti perlombaan. “Terkait surat dokter itu menjadi kewajiban masing-masing, peserta memang harus memiliki surat sehat,” ucapnya.


Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan