Standar Ganda, AS Bobol Tanker Venezuela

Penyitaan Kapal Tanker Minyak oleh Amerika Serikat di Laut Venezuela

Amerika Serikat (AS) melakukan penyitaan sebuah kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela. Tindakan ini dilakukan setelah Presiden Donald Trump memberi ancaman militer terhadap negara tersebut selama beberapa bulan terakhir. Aksi ini menimbulkan kontroversi karena AS pernah memerangi kelompok Houthi yang melakukan tindakan serupa terhadap kapal yang menuju Israel di Laut Merah.

Menurut laporan, penjaga pantai AS memimpin operasi penyitaan pada hari Rabu sore. Trump mengungkapkan bahwa kapal tersebut adalah salah satu yang terbesar yang pernah disita. Ia menyampaikan pernyataannya dalam sebuah acara di Gedung Putih. Meski tidak menjelaskan detail lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa ada "hal-hal lain" yang sedang terjadi dan akan segera diketahui.

Penyitaan ini menjadi ironis karena AS pernah menentang tindakan serupa dari kelompok Houthi di Laut Merah pada tahun 2023. Kelompok itu pernah menyandera kapal dagang yang menuju Israel sebagai bentuk tekanan terhadap negara Zionis. AS kemudian mengerahkan armada laut untuk menghentikan aksi Houthi. Setelah beberapa kali serangan udara terhadap Yaman, AS mencapai gencatan senjata dengan Houthi pada Mei 2025.


Warga Yaman menyaksikan kendaraan rusak di pasar populer Farwah yang terkena serangan udara AS di Sanaa, Yaman, Senin, 21 April 2025. - (AP Photo)

Laporan terbaru menunjukkan bahwa AS harus menyetujui gencatan senjata karena kewalahan menghadapi Houthi. Angkatan Laut AS kehilangan dua jet tempur F-35 dalam konflik tersebut. Ketika ditanya tentang penyitaan kapal tanker terbaru, Trump meminta wartawan untuk “mengikuti kapal tersebut” agar bisa mengetahui lebih banyak informasi. Ia juga menolak menyebutkan identitas pemilik kapal, tetapi mengatakan bahwa pihaknya berharap bisa merebut minyak yang dibawa oleh kapal tersebut.

Pemerintah Venezuela merespons penyitaan tersebut dengan menuduh AS melakukan “pencurian terang-terangan”. Mereka menyebut tindakan ini sebagai “pembajakan internasional” yang diumumkan secara terbuka oleh presiden AS. Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan bahwa mereka akan mempertahankan kedaulatan, sumber daya alam, dan martabat nasional dengan tekad mutlak. Mereka juga akan mengecam AS di hadapan badan-badan internasional.


Video pembajakan yang dilakukan pasukan Angkatan Laut AS terhadap tanker Venezuela, Rabu (10/12/2025). (X/Jaksa Agung AS Pam Bondi)

Jaksa Agung AS Pam Bondi mengunggah di media sosial bahwa kapal tanker tersebut disita karena membawa “minyak yang dikenai sanksi dari Venezuela dan Iran”. Menurutnya, kapal tersebut telah diberi sanksi selama beberapa tahun karena terlibat dalam jaringan pengiriman minyak ilegal yang mendukung organisasi teroris asing. Video yang disertakan menunjukkan tentara AS meluncur ke kapal dari helikopter militer. Bondi menjelaskan bahwa Departemen Pertahanan, FBI, dan Departemen Keamanan Dalam Negeri bekerja sama dengan penjaga pantai dalam operasi tersebut.

Ekspor minyak merupakan sumber pendapatan utama bagi Venezuela, yang mengekspor lebih dari 900.000 barel per hari pada bulan lalu. Harga minyak berjangka naik setelah penyitaan tersebut. AS sebelumnya pernah menyita barang bernilai tinggi yang terkait dengan Venezuela. Pada Februari 2024, di bawah kepemimpinan Joe Biden, AS menyita pesawat kargo yang diduga dijual Iran ke Venezuela. Setahun kemudian, pemerintahan Trump menyita jet Dassault Falcon 2000EX yang terkait dengan perusahaan minyak milik negara di Venezuela.


Presiden Nicolas Maduro memberikan konferensi pers di Caracas, Venezuela, Senin, 1 September 2025. - (AP Photo/Ariana Cubillos)

Pemerintah Maduro mengecam penyitaan tersebut sebagai “pencurian yang kurang ajar”. Trump juga baru-baru ini menutup wilayah udara Venezuela untuk perjalanan, sehingga memaksa maskapai penerbangan asing untuk menghentikan sementara penerbangan mereka ke negara tersebut.

Persaingan antara Trump dan Maduro dimulai sejak masa jabatan pertama Trump. Ia menerapkan kampanye “tekanan maksimum” terhadap Venezuela, termasuk memberikan hadiah jutaan dolar bagi penangkapan Maduro. Lonjakan ketegangan terbaru ini mendapat kecaman dari dalam dan luar negeri.


Peta pergerakan militer AS di Laut Karibia pada November 2025. - (Reuters)

Pengambilalihan kapal tanker minyak tersebut kemungkinan akan meningkatkan ketegangan dengan Venezuela. Trump terus melanjutkan kampanye “tekanan maksimum” terhadap negara tersebut. Sejak kembali menjabat, ia meningkatkan ancaman militer terhadap Venezuela dan mengerahkan pasukan besar ke kawasan Karibia. Hal ini termasuk pengiriman kapal induk terbesar di dunia, USS Gerald Ford, dan kelompok penyerangnya ke Laut Karibia bagian selatan.

Di bawah pemerintahan Trump, AS juga melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang diduga menyelundupkan narkoba di Laut Karibia dan Samudra Pasifik bagian timur. Venezuela diidentifikasi sebagai titik asal beberapa kapal tersebut. Setidaknya 22 perahu telah diserang, dan diperkirakan 87 orang tewas. Trump terus mengancam akan melanjutkan kampanye pengeboman di darat.

Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengatakan bahwa AS berupaya menggulingkan pemerintahannya. Dia merespons pergerakan pasukan Trump dengan membangun militernya sendiri di sepanjang pantai Venezuela dan menunjukkan bahwa angkatan bersenjata negaranya akan menahan potensi serangan militer dari AS.

Dua pakar PBB mengeluarkan pernyataan bersama yang menyatakan “keprihatinan mendalam atas meningkatnya tekanan dari Amerika Serikat terhadap Venezuela”. Jajak pendapat di AS menunjukkan ketidaksetujuan atas meningkatnya ketegangan. Jajak pendapat The Economist dan YouGov pada November menemukan bahwa hanya 17 persen orang dewasa Amerika yang mendukung penggunaan kekuatan militer untuk menggulingkan pemerintah Venezuela, sementara 45 persen menentangnya.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis pada hari Rabu menemukan bahwa 48 persen responden menyatakan penolakannya terhadap penargetan kapal yang diduga berisi narkoba oleh pemerintah. Meskipun Trump mengindikasikan bahwa dia baru-baru ini melakukan kontak dengan Maduro, ia mengatakan kepada wartawan bahwa dia belum berbicara dengan pemimpin Venezuela tersebut sejak penyitaan kapal tanker tersebut.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan