
Kendala Distribusi BBM di Aceh Akibat Banjir dan Longsor
BANDA ACEH – Proses distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) ke sejumlah daerah yang terdampak banjir di Aceh mengalami hambatan akibat akses jalan yang terputus. Hal ini disebabkan oleh dampak banjir dan longsoran yang terjadi di beberapa wilayah, termasuk jalur utama seperti Bireuen–Takengon, Pidie Jaya, Aceh Tengah, Aceh Tamiang, hingga Gayo Lues.
Kendala tersebut menyebabkan pergerakan mobil tangki terhambat, bahkan pada beberapa titik tidak dapat melintas. Kondisi ini berdampak pada keterlambatan suplai BBM ke sejumlah SPBU dan SPBE. Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, Fahrougi Andriani Sumampouw, menjelaskan bahwa wilayah Aceh memiliki 156 SPBU, dengan 26 di antaranya terdampak akibat akses jalan yang belum sepenuhnya pulih.
Untuk LPG, terdapat 133 agen di Aceh, dengan 94 agen yang terkena dampak, serta 11 SPBE dengan 9 SPBE yang mengalami kendala operasional. Situasi ini paling banyak terjadi di jalur distribusi yang berada pada koridor banjir dan longsor.
Kondisi serupa dalam tingkat lebih ringan juga terjadi di wilayah lain di Sumbagut, yaitu Sumatera Utara dengan 406 SPBU (23 terdampak) dan 383 agen LPG (15 terdampak), serta Sumatera Barat yang memiliki 147 SPBU (11 terdampak) dan 172 agen LPG (23 terdampak). Data ini menggambarkan bagaimana cuaca ekstrem mempengaruhi operasional distribusi energi di tiga provinsi tersebut, terutama Aceh.
Akibat akses yang belum pulih sepenuhnya, sejumlah SPBU sempat kosong secara sementara, terutama di wilayah yang terisolasi dan berada pada rute belum aman dilalui kendaraan berat. Kekosongan tersebut tidak terkait dengan ketersediaan stok di terminal, melainkan semata-mata karena mobil tangki tidak dapat mencapai lokasi.
Meskipun demikian, Fahrougi memastikan bahwa begitu akses sudah aman atau rute alternatif tersedia, suplai langsung akan diprioritaskan dan kini telah berlangsung kembali secara bertahap. Selain BBM, penyaluran LPG juga terdampak oleh kendala akses menuju beberapa SPBE dan agen di Aceh. Meskipun stok LPG di terminal terpantau aman, hambatan jalur distribusi membuat suplai tidak dapat dilakukan dengan ritme normal.
Untuk mengantisipasi hal ini, Pertamina menyiapkan langkah-langkah darurat, termasuk pengiriman LPG melalui jalur laut menggunakan Skid Tank dari Terminal LPG Arun menuju Banda Aceh atau Aceh Barat apabila jalur darat belum dapat dilalui. Opsi bantuan suplai melalui IT Dumai juga disiapkan apabila kondisi akses menuju SPBE tertentu belum sepenuhnya pulih.
Seluruh langkah operasional ini diperkuat dengan penambahan armada mobil tangki dan Awak Mobil Tangki (AMT). Selain itu, Pertamina juga melakukan pengalihan suplai dari IT Lhokseumawe ke FT Krueng Raya guna mempercepat distribusi ke wilayah terdampak. Pertamina juga memberikan dukungan BBM bagi alat berat milik BPBD dan Pemerintah Daerah untuk membantu pembukaan jalan dan percepatan normalisasi jalur distribusi.
Seiring membaiknya cuaca, suplai BBM dan LPG ke berbagai titik yang sebelumnya terhambat kini mulai kembali berjalan. Penyaluran dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan SPBU, agen LPG, dan SPBE yang berada pada jalur yang telah aman dilalui.
Dalam rangka mempermudah akses masyarakat terhadap BBM di tengah kondisi darurat, Pertamina menerapkan keringanan dari BPH Migas berupa peniadaan sementara kewajiban penggunaan barcode MyPertamina untuk pembelian BBM subsidi di Aceh. Kebijakan ini berlaku selama masa Status Tanggap Darurat Banjir Aceh dan diberlakukan agar pelayanan lebih cepat serta mengurangi antrean di wilayah terdampak.
Pertamina mengimbau masyarakat untuk membeli BBM dan LPG secukupnya sesuai kebutuhan. Tim operasional Pertamina terus bekerja tanpa henti untuk memastikan energi tetap tersedia bagi masyarakat Aceh di tengah kondisi yang sangat dinamis.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar