
Subak Piak: Tradisi Pertanian yang Menjaga Keseimbangan Alam di Bali
Subak Piak, yang terletak di Desa Wong Aya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, adalah salah satu contoh terbaik dari sistem pertanian tradisional yang masih bertahan hingga kini. Meskipun banyak orang datang ke lokasi ini hanya untuk menikmati pemandangan sunrise yang indah, mereka mungkin tidak menyadari bahwa mereka berada di atas sebuah ekosistem pertanian yang sangat terorganisir dan telah berlangsung selama ratusan tahun.
Subak Piak bukan hanya sekadar tempat yang indah untuk dilihat, tetapi juga merupakan bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu menjaga alam tetap lestari meskipun menghadapi tantangan modernisasi. Sistem ini dikelola secara gotong royong oleh 335 orang krama subak di bawah komando seorang Pekaseh, I Nengah Suika. Luas areanya mencapai 136 hektar dan dibagi menjadi enam tempekan, mulai dari Tempek Riak I hingga Tempek Riang VI.
Salah satu hal yang membuat Subak Piak begitu istimewa adalah keasrian udaranya. Hal ini tidak terjadi secara kebetulan, karena batas utara wilayah ini adalah hutan lindung yang berfungsi sebagai paru-paru kota sekaligus pengatur iklim mikro lokal. Kehadiran hutan ini membuat siapa pun yang berkunjung merasa segar dan tenang, seolah-olah udara yang mereka hirup benar-benar membersihkan jiwa mereka.
Ketahanan pangan di Subak Piak sangat terjaga berkat pasokan air yang melimpah dari tiga sungai suci, yaitu Sungai Yeh Mada, Yeh Dino, dan Yeh Telangis. Para petani di sini menggunakan pola tanam Padi-Padi dua kali setahun dengan varietas lokal yang mampu menghasilkan produktivitas gabah kering rata-rata 4 ton per hektar. Hal ini menunjukkan betapa efisien dan berkelanjutanannya sistem pertanian yang digunakan di sini.
Sistem pembagian air di Subak Piak juga sangat adil dan proporsional. Aturan ini diatur dalam Awig-Awig tahun 2016, yang menjamin bahwa setiap petani mendapatkan bagian air sesuai dengan luas lahan yang dimiliki. Sistem ini dikenal dengan nama ayahan, yang merupakan bentuk keadilan sosial yang sangat penting dalam masyarakat Bali.
Berikut beberapa faktor penting yang menjadikan Subak Piak unik:
- Keberlanjutan lingkungan: Subak Piak dilindungi oleh hutan lindung yang berperan sebagai paru-paru kota dan pengatur iklim mikro.
- Sistem pertanian tradisional: Penggunaan varietas lokal dan pola tanam dua kali setahun memastikan hasil panen yang stabil.
- Keadilan dalam distribusi air: Aturan ayahan memastikan bahwa semua petani mendapatkan akses air yang sama sesuai dengan luas lahan mereka.
Subak Piak adalah contoh nyata dari bagaimana tradisi dan kearifan lokal dapat bekerja bersama untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Saat Anda berkunjung ke sini, ingatlah bahwa Anda sedang berada di sebuah rumah besar yang menjaga kedaulatan pangan Bali dengan cinta dan tradisi yang tak pernah pudar.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar