
Pemprov Sumbar Minta Masyarakat Waspada Cuaca Ekstrem di Awal Tahun 2026
Di awal tahun 2026, masyarakat Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi. Wilayah ini memiliki karakteristik geografis yang membuatnya rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor.
Curah hujan yang relatif tinggi, serta kondisi geografis Sumbar yang didominasi perbukitan dan sungai-sungai pendek serta terjal, menjadi faktor utama dalam meningkatkan risiko bencana. Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sumbar, Erasukma Munaf, menjelaskan bahwa struktur wilayah Sumbar yang terdiri dari bukit, sawah, dan sungai memengaruhi aliran air saat hujan deras terjadi.
"Sungai kita pendek tapi terjal. Aliran yang muncul sekarang sejatinya adalah alur sungai lama. Alam sedang mengambil kembali miliknya," ujar Erasukma di Kota Padang, Jumat, 2 Desember 2025.
Ia menyarankan kepada masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai agar lebih berhati-hati, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Jika kondisi tidak memungkinkan dan hujan masih tidak menentu, masyarakat diminta mempertimbangkan evakuasi sementara demi keselamatan jiwa.
"BPBD Provinsi Sumbar terus berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, BMKG, serta forum kebencanaan untuk mengantisipasi potensi bencana susulan di sejumlah daerah," tambahnya.
Peringatan dari BMKG tentang Potensi Hujan Ekstrem
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau BMKG, Desindra Deddy Kurniawan, menegaskan bahwa meskipun puncak musim hujan telah terlewati, Sumatera Barat masih berada dalam periode curah hujan yang cukup tinggi. Secara klimatologis, potensi peningkatan curah hujan diperkirakan dapat kembali terjadi pada Maret hingga April 2026.
"Kita tidak boleh berhenti waspada. Curah hujan di Sumatera Barat masih cukup tinggi, dan kejadian hujan ekstrem dengan intensitas di atas 150 milimeter kini semakin sering terjadi," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi Sumbar yang berada di wilayah ekuator dan berhadapan langsung dengan Samudera Hindia membuat daerah ini menerima suplai uap air yang besar. Suhu muka laut yang tinggi turut meningkatkan peluang terbentuknya cuaca ekstrem, sehingga seluruh pihak diminta terus meningkatkan kesiapsiagaan.
Pentingnya Kesadaran Bersama dalam Mitigasi Bencana
Dari perspektif pengurangan risiko bencana berbasis komunitas, Koordinator Umum Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Sumbar, Hidayatul Irwan, menekankan pentingnya kesadaran bersama dalam membaca tanda-tanda alam serta menjaga keseimbangan lingkungan.
"Ancaman itu sudah nyata dan dampaknya sudah kita rasakan. Kalau kita menjaga alam, alam akan menjaga kita. Sumatera Barat ini iklimnya basah, hujan akan selalu ada," ungkapnya.
Ia juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan informasi cuaca dari BMKG, meningkatkan kesiapan keluarga melalui tas siaga, serta lebih peduli terhadap kondisi lingkungan sekitar sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.
Rekomendasi untuk Masyarakat
Sebagai informasi, BMKG memperkirakan musim hujan di Sumbar masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan, dengan potensi curah hujan yang masih fluktuatif.
Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, terutama yang tinggal di daerah rawan banjir dan longsor, menghindari aktivitas di sekitar sungai saat hujan deras, mempersiapkan tas siaga, serta rutin memantau peringatan dini cuaca. Kesiapsiagaan sejak dini diharapkan dapat meminimalkan risiko dan melindungi keselamatan bersama di awal tahun 2026.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar